Internasional

Final Liga Champions Dan Kekejaman Yang Nyata

Share the knowledge

Kutukan Inggris Raya yang Harus Dilewati Real Madrid Demi Gelar Liga Champions ke-13 -BolaSport.com bolasport.com

Kutukan Inggris Raya yang Harus Dilewati Real Madrid Demi Gelar Liga Champions ke-13 -BolaSport.com bolasport.com

Laga final Liga Champions musim 2017/2018 antara Real Madrid dan Liverpool berakhir dengan kemenangan Los Blancos 3-1. Bagi klub yang dilatih oleh pelatih asal Perancis berdarah Aljazair, 

Zinedine Zidane, ini bukan sekadar kemenangan yang sarat gensi, melainkan sebuah ukiran prestasi yang sangat mentereng: merengkuh juara Liga Champions tiga kali secara beruntun.

Laiknya sebuah pertandingan final, apalagi sebesar Liga Champions, endingnya selalu menghadirkan dua sisi yang berlawanan secara diametral: suka versus duka, kegembiraan kontra kesedihan, tawa lawan tangis, dan seterusnya. Di laga itu, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan merepresentasikan situasi yang pertama, sementara Mohamed Salah dan timnya mencerminkan suasana yang kedua.

Korban Kekejaman Itu Bernama Mo Salah

Bola, ungkap mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, dalam sebuah kesempatan, kerap menghadirkan kekejaman. Sebuah tim besar tiba-tiba harus menelan pil pahit ketika secara tak terduga dikandaskan tim kecil. Hanya karena kesalahan kecil salah seorang pemainnya atau karena aksi tak terpuji lawannya, atau kesalahan pengadil di lapangan, kekejaman itu segera menghampiri mereka. Ironisnya, hal seperti ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, melainkan bisa berkali-kali.

Di laga pamungkas Liga Champions yang digelar di Ukraina pada Minggu 28/05/18 dini hari itu, The Reds, demikian Liverpool dijuluki, mesti menerima pahitnya kekejaman dunia bola. Pemain andalan mereka, Mohamed Salah, terpaksa harus keluar dari lapangan karena cedera pangkal bahu kiri. Mimpinya untuk membawa Liverpool ke singgasana tertinggi kompetisi Benua Biru itu terpaksa harus dikuburnya.

Postcomended   Ilmuwan Temukan Fosil Dino Karnivora yang Beradaptasi dengan Iklim Gurun Brasil

Mo Salah keluar dari lapangan dengan berurai air mata. Bukan karena kesalahannya sendiri, tetapi karena aksi kejam lawannya, Sergio Ramos. Terlihat dalam tayangan, Ramos menjepit tangan kanan Salah saat keduanya berebut bola sampai terjatuh. Akibatnya, Salah jatuh dengan bahu kiri membentur lapangan terlebih dahulu. Ia pun meringis kesakitan. Meski sempat melanjutkan permainan, tetapi dalam hitungan menit, ia pun menyerah.

Mo Salah, dengan demikian, telah menjadi korban kekejaman bernama sepakbola. Ia yang digadang-gadang bakal tampil cemerlang pada partai puncak tersebut, menilik berbagai torehan prestasinya selama ini, nasibnya berujung tragis. Final Liga Champions berubah menjadi kuburan baginya. Bahkan, mungkin saja, Piala Dunia 2018 akan menjadi hal yang sama jika cederanya harus mendapatkan perawatan dalam waktu yang lama.

Postcomended   TOUR BROMO MIDNIGHT

Ironis memang. Kehadiran Mo Salah yang sensasional khususnya para pendukung Liverpool itu tak berakhir manis. Lesakan golnya yang berjumlah 44 di berbagai ajang kompetisi untuk Si Merah di musim ini –yang menjadikannya pencetak gol terbanyak kedua setelah pemain legendaris Liverpool, Ian Rush, dengan torehan 47 gol— menjadi tidak berarti akibat keganasan pemain lawan.

Liverpool pun hilang keseimbangan setelah Salah keluar lapangan. Para pemain Madrid, khususnya pemain-pemain bertahan seolah telah melepaskan diri dari beban untuk selalu menjaga Salah. Karena itulah, skuad asuhan Zidane tersebut mulai menemukan irama permainan dan tampil lepas untuk melakukan serangan ke pertahanan Liverpool. Ini belum terlihat saat Salah masih berada di lapangan.

Tidak heran kalau kemudian para punggawa Los Blancos lebih mendominasi jalannya pertandingan. Kemenangan mereka dengan skor cukup telak, yakni 3-1, tidak semata-mata diakibatkan oleh dua blunder yang dilakukan penjaga gawang Liverpool, Loris Karius, melainkan karena penampilan Madrid yang memang semakin baik pasca keluarnya Salah.

Pada akhirnya Liverpool yang sebenarnya diprediksi banyak kalangan akan memenangkan gelar Liga Champions tersebut setelah sekian tahun puasa gelar, kembali harus mengubur mimpinya. Padahal inilah momentum yang paling memungkinkan skuad asuhan Juergen Kloop tersebut untuk meraih supremasi tertinggi kompetisi Eropa.

Postcomended   Pemerintah Cina Sebar Toliet Canggih Berpengenal Wajah di Seluruh Negeri

Dengan pola permainan Liverpool yang menyerang dan atraktif serta ditambah komposisi pemain yang merata di semua lini, tim ini sangat menjanjikan. Apalagi kehadiran trio penyerang maut di tubuh mereka, yakni Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamed Salah –yang kadang secara kelakar disingkat Trio Firmansah—menambah tajam daya serang mereka. Gol demi gol lahir dari kaki ketiganya secara bergantian.


Share the knowledge

Pages: 1 2

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top