Nama Pulau Sumba kian meledak namanya berkat Hotel Nihiwatu yang dinobatkan oleh dunia sebanyak dua kali sebagai hotel terbaik di dunia dari Majalah Travel+Leisure. Pulau yang memiliki julukan The Magic Island ini langsung tancap gas dengan menampilkan Festival Pasola, 10 Februari di Lamboya, Sumba Barat.

Sebenarnya, festival tersebut bukan hal baru di Pulau Sumba. Pasalnya, festival budaya ini setiap tahun diadakan. Geliat wisata Sumba yang satu ini mempunyai ciri khas tersendiri yakni dilakukan berdasarkan ritual adat Sumba.

“Sumba sangat kental dengan adat maka secara otomatis harus menghormati adat itu. Adat juga bisa dijadikan daya tarik buat wisata. Sehingga wisatawan mempunyai keinginan mendalami serta belajar soal budaya di Indonesia khususnya di Sumba, dan Festival Pasola juga bagian dari atraksi yang sangat menarik,” ucap Kepala Bidang Pemasaran Area II (Nusa Tenggara – Timor Leste) Florida Pardosi, Minggu (4/2/2018).

Di sisi lain, Kadispar Sumba Barat Sabatorro menambahkan keberadaan Pulau Sumba semakin eksotis berkat pengakuan dunia atas Hotel Nihiwatu. Bahkan, diyakini olehnya Sumba kian dicintai wisatawan berkat tradisi dari leluhur Pulau Sumba yang bisa membawa wisatawan semakin betah di pulau yang mempunyai julukan lain yakni Hidden Paradise.

Postcomended   Teropong Bintang Bosscha atau Observatorium Bosscha yang dahulunya bernama Bosscha Sterrenwacht

“Wisatawan yang datang ke Sumba di 2016 sebanyak 11 ribu, lalu di 2017sebesar 13 ribu di 2017, dengan kehadiran Festival Pasola maka kami yakin jumlah wisatawan semakin bertambah lebih besar,” urainya.

Disadari olehnya, dengan kehadiran Festival Pasola membuat pihaknya semakin mempercepat speed-nya khususnya dari sisi penginapan. Terlebih, di Sumba itu sendiri banyak penginapan yang sifatnya resort dan private.

Untuk pergerakan cepatnya, sejak mendapat pengakuan dunia Pemerintahan Kabupaten Sumba menyadari betapa dahsyatnya perkembangan pariwisata. Oleh karenanya, di setiap enam bulan pertumbuhan penginapan terus bertambah.

“Sebanyak 30 hotel kami fokuskan untuk ditambah, buat wilayah Sumba Barat maka daerah pantai selatan menjadi fokus utama kami apalagi keberadaan wisatawan banyak yang datang ke wilayah tersebut,” tegasnya.

Kemudian, dari sisi transportasi serta paket wisata yang dijualnya maka Sabatorro mengaku sangat mengutamakan Bali. Terlebih, hal tersebut diutarakan dengan mengingat ungkapan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang mengutamakan Bali sebagai ladang besar dalam menarik wisatawan.

Postcomended   Soal Buang Sampah, Orang Indonesia Harus Disadisi

Untuk akses, maka menuju Sumba sudah ada penerbangan langsung dari Bali ke Tambulaka serta dari Kupang ke Tambulaka, bandara ini paling dekat dari Waikabubak artinya ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya adalah Waikabubak dan ibukota Sumba barat daya adalah Tambulaka ke lokasi hanya satu jam. Lalu, untuk penerbangan sebanyak 4 kali dalam satu hari menuju Sumba.

Selain itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengaku salut atas apa yang dilakukan Pulau Sumba yang bergerak cepat serta memiliki pemikiran yang smart untuk menarik wisatawan dari Pulau Dewata. Apalagi, jarak tempuh dari Bali ke Sumba tidak terlalu jauh.

“Inilah yang diinginkan wisatawan yakni kemudahan aksesibilitas. Jika bepergian dengan memakan waktu yang lama akan membuat wisatawan jenuh. Pemikiran inilah yang harus dimanfaatkan oleh Pulau Sumba untuk menarik wisatawan,” paparnya.

Pria yang ramah senyuman ini juga melihat dengan keberadaan Festival Pasola bisa menambah pundi-pundi wisatawan mancanegara untuk berlibur ke Pulau Sumba yang dikenal masih perawan tersebut.

Postcomended   Langit Bandung Segera "Dihiasi" Cable Car

“Pesona Sumba semakin pesat akibat Hotel Nihiwatu, semakin banyak pesona wisata di Pulau Sumba maka wisatawan akan semakin rindu untuk datang ke Pulau yang ada di wilayah Indonesia Timur tersebut,” tukasnya.(*)