foto: AP, via The Independent

Puluhan mobil tertiup angin berkekuatan 169 km/jam saat topan Jebi melanda Jepang (AP)

Dalam dua bulan ini, Jepang, negara yang luasnya tidak lebih besar Sumatra, digempur berbagai bencana. Diawali pada Juli dengan terjangan banjir di Jepang barat yang menelan korban jiwa 200 orang. Masih di bulan sama, serangan gelombang panas menewaskan 77 jiwa. Duka belum lagi kering ketika topan Jebi memorakporandakan Osaka dan sekitarnya menewaskan 9 orang. Saat Jebi masih mengharu-biru, gempa Bumi bermagnitudo 6,7 SR yang memicu longsor mengguncang Hokkaido. Semua bencana itu berskala kuat dan mematikan. Apakah ini bencana rutin biasa?

 

Bencana banjir Jepang pada Juli 2018 adalah yang terburuk dalam 36 tahun terakhir. Petaka gelombang panas yang menyusul kemudian adalah rekor terpanas dalam sejarah Jepang baik tinggi suhu yang mencapai lebih dari 41 derajat Celcius maupun dalam hal jumlah korban jiwa yang mencapai 77 tewas.

Jebi disebut sebagai topan terkuat sejak 25 tahun terakhir yang berkecepatan hingga mencapai 169 km/jam, menewaskan 11 orang. Gempa Bumi bermagnitudo tergolong kuat, 6,7 SR, memicu longsor di sejumlah tempat di kawasan Hokkaido dan menewaskan sedikitnya delapan jiwa. Ketiga bencana pertama, dikhawatirkan banyak ahli sebagai dampak perubahan iklim.

Postcomended   Empat Pemain Basket Jepang Diusir Pulang

Urutan tragis peristiwa bencana tak terelakan terkait cuaca ini, bersama dengan kebakaran hutan di berbagai belahan dunia termasuk di kawasan gurun California dan di seluruh Eropa, telah dikaitkan dengan dampak pemanasan global dan risiko perubahan iklim.

Cuaca buruk disebut menghantam Jepang lebih sering dalam beberapa tahun belakangan ini,  Puluhan orang tewas dalam bencana serupa pada tahun lalu. “Ini kenyataan tidak terbantahkan  yang disebabkan hujan deras yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menjadi lebih sering dalam beberapa tahun belakangan,” kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, dalam jumpa pers di Tokyo, Kamis (12/7/2018), saat bencana banjir melanda Jepang.

Dikutip dari Channel News Asia, pakar menyebut Jepang dengan infrastruktur kelas dunia dan sistem peringatan berteknologi tinggi, memang tangguh dalam menghadapapi ancaman bencana alam selama ini, dengan korban tewas dan kerusakan umumnya lebih rendah dibanding jika terjadi di negara lain.

Warga Menganggap Remeh 

Namun ketika dihadapkan pada kinerja bencana akibat perubahan iklim yang menguat dan kian buruk, mereka keteteran juga. Jepang yang selama ini dikenal tertib dalam menghadapai bencana, terutama gempa Bumi, dan juga terbiasa dengan beberapa dekade bencana alam, menurut pakar bencana alam, Jean-Francois Heimburger, mungkin telah meremehkan risiko yang ditimbulkan oleh fenomena terkait perubahan iklim yang lebih kuat.

Postcomended   Sambut Turis Jelang Olimpiade, Jepang Mereformasi Toiletnya

“Kurang dari satu persen (saja) orang yang mendapat rekomendasi evakuasi , benar-benar pergi ke tempat penampungan, (karena mereka) berpikir bahwa tidak akan ada masalah,” ujar Heimburger. Bahkan tambah Heimburger, sebagian besar orang mengabaikan perintah evakuasi.

Senada, Kimio Takeya, profesor tamu di Universitas Tohoku, yang juga duduk di badan perubahan iklim PBB, mengatakan, orang-orang Jepang cenderung mengabaikan para penasehat karena yakin dengan pengalaman pribadi mereka. Padahal di era perubahan iklim ini, pengalaman pribadi tidak lagi menjadi panduan yang dapat diandalkan.

“Kami melihat hujan yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Pengalaman masa lalu tidak membantu dalam hal ini. Juga sulit untuk mengevakuasi rumah Anda ketika hujan turun pada malam hari,” ujar Takeya. Peta bahaya yang menunjukkan di mana tempat yang rawan bahaya banjir atau tanah longsor atau tsunami yang disosialisasikan pemerintah, sedikit digunakan. Kesadaran masyarakat terhadap hal tersebut rendah.

Postcomended   Rekor Renang Phelps Dipecahkan "Superman" Berusia 10

Namun para analis mengakui, Jepang masih memiliki perlengkapan yang baik untuk menghadapi bencana serial seperti  itu, sehingga dapat menekan korban tewas. “Seandainya bencana-bencana ini terjadi di negara-negara lain, kerusakannya akan menjadi sangat buruk, mungkin 50 kali (lebih buruk jika) terjadi di Eropa atau bagian lain Asia,” kata Takeya.

Sampai saat ini, Jepang menginvestasikan hingga tujuh persen dari anggaran nasionalnya untuk mitigasi bencana, yang secara signifikan meningkatkan ketahanannya, tambahnya.(***/dariberbagaisumber)

 

Share the knowledge