Para pengamat langit, termasuk di Indonesia, Sabtu (28/7/2018) dini hari ini akan disuguhi dua fenomena astronomis yang sayang jika dilewatkan. Selain akan terjadi fenomena “gerhana bulan darah total terpanjang di abad ke-21”, malam ini juga akan terlihat Planet merah dalam jaraknya yang terdekat dengan Bumi. Kehadiran Jupiter, Venus dan Saturnus juga akan meramaikan langit malam ini. Bagaimana fenomena astronomis ini bisa terjadi?

Ketika bulan yang sedang purnama naik dari cakrawala dan mulai memasuki fase gerhana, warna satelit alami Bumi ini akan berubah menjadi merah atau kemerahan yang mencolok. Dilansir BBC, periode “totalitas” ini yakni ketika cahaya Bulan dikaburkan bayangan Bumi, yang akan berlangsung selama satu jam, 43 menit; yang menjadi waktu gerhana bulan total terpanjang di abad ke-21.

Gerhana bulan total darah ini dapat diamati di hampir semua belahan Bumi yakni di sebagian besar Asia dan Amerika Selatan, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Australia. Hanya Amerika Utara yang tak akan kebagian menyaksikan fenomena ini.

Postcomended   15 Oktober dalam Sejarah: Dituding Sebagai Mata-mata, Sang Pelacur Sohor Mati di Depan Regu Tembak

Di Indonesia, fenomena ini bisa diamati selepas pukul  01.00. Pada malam sama dan selama beberapa hari mendatang, Mars akan berada di titik terdekat ke Bumi sejak 2003. Planet Merah ini akan terlihat bagai “bintang kemerahan” di langit cerah.

Mengapa gerhana total kali ini bisa berlangsung lama dan berwarna merah? Professor Tim O’Brien, astrofisikawan Universitas Manchester, menjelaskan, ini terjadi karena bulan melewati tepat di tengah bayangan Bumi, yakni di titik terluar bayangannya.

Sementara itu, ihwal warna merah, menurut NASA itu terjadi karena atmosfer Bumi meluas melampaui planet ini, dan sinar matahari melewatinya, terus sampai ke bulan. Selama gerhana bulan total, sinar matahari putih yang menghantam atmosfer di sisi bumi akan terserap dan kemudian terpancar keluar (berserakan). Cahaya berwarna biru paling banyak terpengaruh.

“Artinya, atmosfer menyaring sebagian besar cahaya berwarna biru. Apa yang tersisa adalah cahaya oranye berwarna merah.”

Dr Emily Brunsden, direktur Astrocampus University of York, menambahkan, bahwa gerhana kali ini adalah “gerhana bulan darah mikro”. Artinya, bulan akan terlihat sedikit lebih kecil dari biasanya karena berada pada orbitnya yang terjauh dari Bumi.

Postcomended   Suhu Dingin Selimuti Kawasan Tropis Awal Juli 2018, Apa Penyebabnya?

O’Brien menambahkan, orbit Bulan (sebagaimana orbit planet-planet terhadap matahari-), adalah berbentuk elips alias lonjong, sehingga benda-benda langit bergerak lebih dekat dan lebih jauh dan juga mebjadi terlihat lebih besar atau lebih kecil dari Bumi.

Prosesi Planet

Fenomena gerhana total terpanjang ini, dikatakan O’Brien, bertepatan dengan fenomena Mars terdekat ke Bumi. Selain itu, arisan tetangga Bumi lainnya seperti Venus, Jupiter, dan Saturnus, akan ikut muncul; memberi hiburan lebih bagi para pengamat langit.

O’Brien menggambarkan fenomena malam ini sebagai “prosesi planet”. “Mars akan terlihat seperti bintang merah terang yang indah tepat di bawah Bulan,” imbuhnya. Bagaimana Mars menjadi berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi?

“Setiap beberapa tahun atau lebih, Bumi mendekati Mars di bagian dalam sebagaimana keduanya mengorbit Matahari, sehingga Mars menjadi pada jarak paling dekat dengan kita.” Dan karena orbit berbentuk elips, maka Mars bahkan menjadi lebih dekat dari biasanya. “Ini benar-benar waktu yang tepat untuk melihat Mars.”***

Postcomended   Hanya 13% Bumi Rusak Akibat Tumbukan Asteroid: Bagaimana Dinosaurus Bisa Musnah?

 

 

Share the knowledge