Ekonomi

Girah Go-Jek: Sumbang Rp 9,9 Triliun ke Perekonomian Indonesia dan Lampaui Nilai Garuda #SURUHGOOGLEAJA

Gojek Sumbang Rp9,9 Triliun ke Perekonomian Nasional – VIVA Viva

Gojek Sumbang Rp9,9 Triliun ke Perekonomian Nasional – VIVA Viva

Terlepas dari kesemrawutan jalan raya dengan hadirnya para pengojek online, seperti naik ke trotoar, melawan arus, dll, layanan transportasi berbasis aplikasi online ini, khususnya Go-Jek, diakui telah memberi kontribusi terhadap perekonomian Indonesia dalam jumlah cukup spetakuler untuk suatu perusahaan perintis, Rp 9,9 triliun. Bahkan sebuah laporan menyebutkan, ketika Go-Jek disuntik investasi oleh perusahaan Amerika Serikat (AS), perusahaan ini dianggap lebih bernilai ketimbang satu perusahaan BUMN penerbangan. Namun sebagian kalangan mulai menduga, kemudahan mencari uang dari ojek online telah mendatangkan masalah baru yang klasik: urbanisasi.

Riset yang dilakukan Lembaga Demografi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LD FEB UI) menunjukkan kontribusi Go-Jek terhadap perekonomian Indonesia mencapai Rp 9,9 triliun per tahun.

Nilai tersebut merupakan kontribusi dari penghasilan mitra pengemudi (driver) Go-Jek sebesar Rp 8,2 triliun, dan penghasilan mitra UMKM-nya sebesar Rp 1,7 triliun setiap tahunnya. Seperti kita ketahui, seseorang yang ingin menjadi mitra pengemudi ojek online (ojol), harus bergabung dengan satu UMKM tertentu.

Riset tersebut dilakukan pada Oktober-Desember 2017 terhadap 3.315 mitra pengemudi, 806 mitra UMKM, serta 3.465 konsumen. Survei dilakukan di Denpasar, Balikpapan, Bandung, Jabodetabek, Yogyakarta, Makassar, Medan, Palembang, dan Surabaya, bekerja sama dengan Go-Jek. Survei ini memiliki margin of error +/- 5%.

Peneliti LD FEB UI, Paksi C.K Walandauw, mengatakan, setelah bergabung dengan Go-Jek, pendapatan rata-rata para mitra pengemudi sebesar Rp 3,31 juta (Rp 3,48 juta per bulan untuk mitra pengemudi full time). Angka ini sama dengan kontribusi Rp 682,6 miliar per bulan ke perekonomi nasional

“Rata-rata pendapatan pengemudi lebih besar 1,25 kali daripada rata-rata upah minimum kota di sembilan wilayah yang disurvei sebesar Rp 2,8 juta,” kata Paksi, 22 Maret 2018 lalu, dilansir Katadata. Selain itu Paksi menjelaskan, 86% mitra pengemudi merasa kualitas hidupnya lebih baik (80%) dan jauh lebih baik (10%) setelah bergabung dengan Go-Jek.

Postcomended   Ilmuwan “Temukan” Organ Baru Tak Jauh dari Mata yang Membuka Peluang Penyembuhan Kanker

Go-Jek juga, menurut riset tersebut, dianggap turut mengurangi jumlah pengangguran dan memperluas lapangan pekerjaan. Sebanyak 15% mitra pengemudi yang bergabung dengan Go-Jek, menurut survei tersebut, sebelumnya tidak memiliki pekerjaan. Ini belum termasuk sumbangan dari 43% mitra UMKM (usaha menengah, kecil, mikro) yang mengaku mengalami kenaikan omzet pasca bergabung dengan Go-Jek lewat Go-Food. Terdapat tambahan Rp 138,6 miliar per bulan ke perekonomi nasional dari Go-Food.

Sayangnya, penelitian tidak menyinggung bagaimana keberadaan Go-Jek akan mengundang arus urbanisasi, sementara pemerintah Jokowi seperti disebutkan satu laporan, masih belum bisa mengatasi masalah klasik satu ini. Seorang warganet, di alamat gitamaulana.blogspot.com via malesbanget.com, mendengar bahwa kabar “peluang kerja” ojol di perkotaan sudah didengar warga di perdesaaan.

“Apalagi banyak kabar dari saudaranya di kota yang bilang kalo jadi ojek online itu syaratnya mudah, udah gitu untungnya banyak, kan masih promo. Langsung deh berbondong-bondong dari desa menuju kota. Kota jadi sempit Pak!” ujar alamat Blogspot, gitamaulana tersebut. Malah seorang lagi warganet menyebutkan, ojol telah menjadi fenomena neo urbanisasi alias urbanisasi gaya baru.
Melebihi Nilai Garuda

Kisah sukses Go-Jek tak lepas dari sejumlah investasi yang telah dilakukan perusahaan bentukan Nadiem Makarim ini. Dilaporkan situs TechCrunch, 12 Agustus 2016, suntikan dana dari perusahaan investasi asal AS, KKR & Co. dan Warbug Pincus sebesar 550 juta dolar AS atau setara Rp 7 triliun (kurs Rp13.000 per dolar AS) telah membuat nilai Go-Jek melambung melebihi nilai BUMN penerbangan Garuda Indonesia.

Postcomended   Pertama dalam 132 Tahun Coca-Cola Bermain di Minuman Alkohol

Dikutip dari Bareksa.com, dana suntikan Rp 7 triliun tersebut, menambah gendut investasi di Go-Jek yang sebelumnya telah dilakukan Sequoia Capital dan NSI Venture. Kondisi ini meningkatkan nilai perusahaan menjadi 1,3 miliar dolar AS, atau setara Rp 17 triliun.

Ini belum termasuk investasi terbaru yang dikucurkan yang membuat Garuda makin “lewat”. Pada akhir Januari 2018, Google, tanpa disebutkan berapa jumlah pastinya, melalui perusahaan induknya, Alphabet, dikabarkan menyuntikkan modal ke Gojek.

Google pun tidak sendirian, melainkan menggandeng Temasek Holding, perusahaan online asal Tiongkok Meituan-Dianping. Bersama dengan investor-investor lamanya, Gojek digerojok dana segar senilai 1,2 miliar dolar AS atau Rp 16 triliun.

Dilansir Reuters, dengan tambahan modal sebesar itu, nilai Gojek melonjak diduga mencapai 4 miliar dolar AS atau setara Rp 53 triliun. Untuk diketahui, nilai ini masih kalah dari Grab, yang diperkirakan telah melebihi 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 80 triliun.

Sekadar informasi, sebelum Google masuk, seperti telah disebutkan sebelumnya, Gojek telah disuntik dana oleh Sequoia Capital dan NSI Venture (taka da data tersedia mengenai jumlahnya). Menyusul kemudian dari perusahaan asal AS, KKR & Co. dan Warbug Pincus (sekitar Rp 7 triliun). Perusahaan rintisan asal Cina, Tencent dan JD.id, tak mau ketinggalan dengan menggelontorkan total Rp 3,3 triliun.

Gojek juga diminati investor lokal dengan masuknya dua perusahaan raksasa nasional, Astra International dan Grup Djarum melalui anak perusahaannya, Global Digital Niaga (GDN), yang dikabarkan mengucurkan investasi sebesar Rp 3 triliun.

Bareksa.com pada 2016 melaporkan, saat KKR & Co. dan Warbug Pincus baru masuk saja, nilai Gojek sudah melewati nilai Garuda. Berdasarkan kapitalisasi pasar (market cap) di bursa saham, sebut Bareksa, Garuda yang hingga Juni 2016 tercatat mengoperasikan 197 pesawat dan menguasai 40,5 persen pasar penerbangan domestik, hanya dihargai Rp 12,3 triliun.

Postcomended   Peluncuran Pasar Kampung Bekelir

Untuk perbandingan, perusahaan transportasi lainnya, Blue Bird, dengan 26.719 armada taksi reguler, 1.223 taksi eksekutif, 4.918 limusin, dan mobil sewaan serta 567 unit bus, hanya memiliki nilai Rp 9,8 triliun.

Namun jika melihat pada nilai asset, Garuda hanya menang di sini, yakni Rp 47 triliun per Juni 2016, seperti tertera dalam laporan keuangannya; ini data sebelum Tencent dan Google masuk ke Gojek.
Namun di sinilah masalah terihat. Jika dilihat total asset BUMN yang melebihi Rp 4.000 triliun, seperti dikutip dari situs Media Indonesia pada 7 September 2016, para BUMN belum produktif menyumbang dividen kepada negara. Anggota Komisi XI, Donny Priambodo, menilai, BUMN saat ini masih menjadi beban negara.

Dari puluhan BUMN dengan nilai asset ribuan triliun itu, negara hanya menerima setoran dividen sekitar Rp 40 triliun saja pada 2015. Jumlah setoran itu, menurut dia, (juga) tidak berbanding lurus dengan modal yang disalurkan negara pada APBN-P 2016 yang mencapai Rp 53,9 triliun.(***/dari berbagai sumber)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top