Ayat Ayat Cinta 2, Dilema Cinta Fahri? | MuterFilm MuterFilm1050 × 600Telusuri gambar ... Ayat Cinta 2, Dilema Cinta Fahri? behind the scene

Ayat Ayat Cinta 2, Dilema Cinta Fahri? | MuterFilm MuterFilm1050 × 600Telusuri gambar … Ayat Cinta 2, Dilema Cinta Fahri? behind the scene

Sejujurnya saya belum menyaksikan film “Ayat-Ayat Cinta 2” dan menulis esai ini hanya berbekal review dari beberapa sumber di internet dan kerabat yang sudah menyaksikan film tersebut. Alasan saya tidak menyaksikan film ini, selain saya belum ada waktu pergi ke bioskop, saya juga kapok setelah menyaksikan prekuelnya dulu. 

Sejak pertama Ayat-Ayat Cinta diangkat ke layar lebar, animo masyarakat (terutama remaja putri dan ibu-ibu) sangat luar biasa. Saya ingat ada satu bioskop di kota saya yang seluruh studionya digunakan untuk memutar film tersebut. Karena penasaran dan teman-teman perempuan saya mengajak saya menyaksikan film tersebut, akhirnya saya pun menyaksikannya.

Dulu saya masih duduk di bangku SMP dan belum “melek” seperti sekarang, tapi yang muncul di pikiran saya setelah nonton itu cuma satu kata: overrated!. Filmnya tidak sebagus yang saya harapkan, dan cenderung lebih fokus menggambarkan betapa Fahri ini adalah sosok yang luar biasa (tidak heran yang nonton banyak remaja putri dan Ibu-ibu).

Dari pengalaman tersebut, saya rasa cukup untuk membuat saya tidak memprioritaskan waktu untuk pergi ke bioskop dan menyaksikan sequel film ini. Tapi karena banyaknya teman-teman saya di sosial media yang romantisasi cerita di film tersebut dan mengelu-elukan sosok Fahri, akhirnya saya cari-cari reviewnya di internet dan tanya teman-teman yang sudah menyaksikan.

Kesimpulan awal, saya senang saya tidak menghabiskan uang dan waktu untuk menyaksikan film tersebut (disclaimer: saya gak dibayar pihak mana pun untuk menjatuhkan filem ini lho, ini hanya opini saya).

Why?

Terkuak! Inilah Anggota Keempat 'The Greatest Four' Pengisi ... Tribun Style - Tribunnews.com700 × 393Telusuri gambar Inilah Anggota Keempat 'The Greatest Four' Pengisi Soundtrack Film 'Ayat Ayat

Terkuak! Inilah Anggota Keempat ‘The Greatest Four’ Pengisi … Tribun Style – Tribunnews.com700 × 393Telusuri gambar Inilah Anggota Keempat ‘The Greatest Four’ Pengisi Soundtrack Film ‘Ayat Ayat

Pertama, glorifikasi tokoh Fahri. Glorifikasi sebuah tokoh fiksi memang wajar-wajar saja terjadi pada penikmat film (saya contohnya sangat kagum dengan tokoh Professor Langdon dalam film The Da Vinci Code hehehe), tapi yang kurang baik di sini adalah tokoh Fahri yang sangat patriarkis.

Postcomended   Ditolak Bicara di Kampus Unla, Nurul Arifin: Ini Pelecehan Intelektual

Dari awal, tokoh Fahri sudah menggambarkan laki-laki cis-gender dengan segala privilesenya (heteroseksual, berpendidikan, pintar, beragama). Berkat privilese yang ia miliki, ia akhirnya berhasil meyakinkan Aisha (secara pasif-agresif) untuk mengizinkannya berpoligami. Aisha pun dibuat berpikir jika tindakannya mendukung Fahri berpoligami merupakan hal yang wajar dan sudah seharusnya sebagai seorang istri (meskipun dalam hatinya sakit).

Poligami sendiri merupakan praktik yang problematis. Di tengah masyarakat yang masih menganut monogami sebagai relasi yang diakui, dapat memiliki lebih dari satu pasangan dan mendapat dukungan dari keluarga (apalagi istri pertama) merupakan suatu privilese atau hak istimewa Fahri sebagai laki-laki. Pada akhirnya, Aisha sebagai seorang istri terpaksa harus menerima kenyataan dan dibuat berfikir bahwa yang dia lakukan adalah kebenaran (berbakti pada suami).

Kisah Film Ayat Ayat Cinta 2 Sulit Ditebak jawapos.com670 × 421Telusuri gambar Saya bertahun-tahun menyelesaikannya supaya ceritanya tidak mudah ditebak. Untuk cerita saya merdeka mau bawa kemana. Pak Manoj setuju dan langsung produksi.

Kisah Film Ayat Ayat Cinta 2 Sulit Ditebak jawapos.com670 × 421Telusuri gambar Saya bertahun-tahun menyelesaikannya supaya ceritanya tidak mudah ditebak. Untuk cerita saya merdeka mau bawa kemana. Pak Manoj setuju dan langsung produksi.

Dalam dunia nyata, poligami adalah privilese seorang laki-laki sebagai manifestasi dari budaya patriarki, yang menganggap bahwa laki-laki lebih superior atau terlahir lebih unggul daripada perempuan (secara fisik maupun psikis) dan sebagai seorang pemimpin bagi perempuan (dalam pernikahan pemimpin istri dan keluarga, tentunya). Karena ada hubungan superior – subordinat dalam relasi laki-laki dan perempuan menurut budaya patriarki, akhirnya praktik poligami menjadi hal dianggap tidak masalah selama laki-laki tersebut mau dan mampu (pernah dengar cerita Eyang Subur?).

Postcomended   RIP Yahoo: Yahoo Bakal Ganti Nama

Lebih jauh, glorifikasi tokoh Fahri akan melanggengkan budaya patriarki, di mana perempuan akan merasa tidak bisa mengambil keputusan yang menyangkut kehidupannya sendiri dan subordinat dari laki-laki (mau dipologami, mau ditinggal, yang penting nurut sama suami), yang implikasinya akan melanggengkan ketidaksetaraan gender. Ketidaksetaraan gender membuat perempuan menjadi rentan sebagai korban kekerasan dan eksploitasi seksual.

Secara lebih luas, menurut ahli ekonomi University of Southern California, Professor Nake Kamrany, ketidaksetaraan gender menurunkan tingkat produktivitas negara hingga 25%, yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara tersebut .

Kedua, sudut padang film yang sangat seksis. Fahri digambarkan sebagai sang juru selamat bagi tokoh-tokoh perempuan di dalam film tersebut. Semua karakter perempuan dalam film tersebut membutuhkan dan menginginkan Fahri, yang notabene adalah seorang laki-laki cis-gender dengan segala privilesenya.

Tokoh-tokoh perempuan dalam film tersebut digambarkan sebagai makhluk yang lemah dan tidak berdaya yang membutuhkan seorang laki-laki untuk “menyelamatkan” mereka. Mulai dari tokoh Keira yang tidak punya uang untuk les biola dan hampir menjadi pekerja seks, kemudian Fahri membayar guru les biola untuk Keira dan menggagalkan niat Keira dengan konspirasi yang..corny. Sampai pada Fahri membelikan rumah untuk tetangganya (hanya dari gaji dosen dan punya minimarket saja lho).

Jumlah tokoh perempuan-perempuan di sini pun cukup banyak (kira-kira ada 9 dari 15 tokoh utama), sehingga seolah-olah karakter tokoh-tokoh perempuan tersebut mewakili perempuan-perempuan yang ada di dunia nyata (J.P. Baudrillard menyebut dengan istilah Hiperrealitas).

Padahal, ada satu karakter yang cukup empowering, Brenda, seorang pengacara sukses. Tapi lagi-lagi kesuksesannya dimatikan dengan gambaran tokoh Brenda yang hidupnya “kosong” dan membutuhkan kehadiran sosok penyelamat (ya, pokoknya kalau sudah berpikiran seksis, sesukses-suksesnya perempuan, gak bisa kalo gak ada laki-laki!)

Postcomended   Dua Kera Kloning Dilahirkan: Ilmuwan Cina Dobrak Hambatan Kloning pada Primata

Padahal, dalam kenyataannya, tidak semua perempuan seperti digambarkan oleh tokoh-tokoh perempuan yang ada dalam film ini. Tidak semua perempuan membutuhkan sosok “penyelamat”.

Banyak perempuan yang sukses, yang kuat yang tidak membutuhkan laki-laki untuk mencapai apa yang dia inginkan. Namun karena budaya yang seksis, perkawinan (institusi di mana laki-laki bisa memiliki kontrol terhadap perempuan) diinternalisasi sebagai tujuan yang utama bagi perempuan, maka perempuan yang tidak kawin, sesukses apa pun, dianggap “gagal” (ini mengapa hampir semua tokoh perempuan dalam film Ayat-ayat Cintaminta dikawini Fahri – kecuali Oma Catarina hehehe).

Ketiga, tidak sensitif terhadap penyintas kekerasan seksual. Saya mendengar cerita seorang teman bahwa adegan Aisha merusak wajah dan vaginanya digambarkan dengan cukup grafis. Hal ini secara psikologi bisa triggering atau memicu reaksi psikologis, bisa berupa depresi atau memunculkan trauma bagi penyintas kekerasan seksual atau pun yang secara spesifik pernah melakukan self-harm (melukai diri sendiri) dengan alasan lain.

Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh secara psikologis, tetapi dalam membuat konten visual, sangat penting bagi kita untuk memperhatikan dampak-dampak yang bisa muncul dari konten yang disajikan. Jangan sampai film yang niatnya mengedukasi atau menghibur, malah menjadi mimpi buruk bagi sebagian orang.

Sayangnya, film yang tidak empowering bagi perempuan ini, diromantisasi oleh banyak sekali perempuan Indonesia. Selain itu, keterlibatan Chelsea Islan, sebagai aktivis perempuan dalam film ini juga membuat saya agak sedikit kecewa ( I mean, come on!?). Terdapat banyak pesan yang melemahkan atau dis empowering bagi perempuan tertanam mulai dari penokohan hingga cerita dalam film Ayat-Ayat Cinta.

Share the knowledge