Internasional

Gurun Sahara Makin Mekar, Menyamai Luas Amerika Serikat

Image result for Gurun Sahara Makin Mekar, Menyamai Luas Amerika Serikat 620 × 417Images may be subject to copyright

Image result for Gurun Sahara Makin Mekar, Menyamai Luas Amerika Serikat 620 × 417Images may be subject to copyright

Satu studi baru menyimpulkan, luas Gurun Sahara kini menyamai luas Amerika Serikat (AS). Gurun ini mekar secara signifikan selama abad lalu yang baru ditinggal 18 tahun ini. Perubahan iklim dituding memegang peranan besar atas fenomena ini.

Tim peneliti menganalisis data yang dikumpulkan sejak 1923, dan meneliti berbagai faktor yang berkontribusi terhadap perubahan curah hujan di wilayah Sahara. Mereka menemukan, padang pasir itu luasnya sudah seukuran AS. Selama periode yang dicakup oleh data tersebut, gurun ini telah berkembang sekitar 10 persen.

Perubahan ini terutama terasa bagi mereka yang tinggal di wilayah perbatasan Sahara yang dikenal sebagai Sahel. Tetapi para ilmuwan mencatat, penggurunan yang didorong perubahan iklim ini bukanlah fenomena unik bagi Sahara sendiri.

“Hasil (penelitian) kami spesifik untuk Sahara, tetapi mungkin memiliki implikasi untuk gurun lainnya di dunia,” kata Profesor Sumant Nigam, ilmuwan atmosfer dan kelautan di Universitas Maryland dan penulis senior studi tersebut.

Dilansir The Independent, orang-orang di daerah perbatasan gurun tidak dapat kehilangan lebih banyak tanah yang subur di padang pasir (akibat penggurunan), karena populasi dunia pun terus bertambah.

Umumnya padang pasir, Sahara mengalami pola ekspansi dan kontraksi musiman, tetapi Profesor Nigam dan rekan-rekannya mampu menetapkan perluasan keseluruhannya.

Untuk mengetahui dampak perubahan iklim, para ilmuwan menggunakan metode statistik semisal Atlantic Multidecadal Oscillation, untuk menghilangkan efek siklus iklim alami pada variabilitas curah hujan.

Hasilnya, kombinasi siklus iklim alami dan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusialah yang telah menyebabkan efek ini selama abad yang lalu. Studi ini diterbitkan dalam Journal of Climate.

“Tren musim panas di Afrika yang panas semakin panas, dan musim hujan mengering terkait faktor-faktor seperti meningkatkan gas rumah kaca dan aerosol di atmosfer,” kata Dr Ming Cai, direktur program dari lembaga yang mendanai penelitian tersebut, National Science Foundation.

“Tren ini juga memiliki dampak menghancurkan pada kehidupan orang Afrika yang bergantung pada ekonomi berbasis pertanian.”

Natalie Thomas, seorang mahasiswa pascasarjana dalam ilmu atmosfer dan kelautan yang berkontribusi pada penelitian, mengatakan, “Dengan penelitian ini, prioritas kami adalah untuk mendokumentasikan tren jangka panjang dalam curah hujan dan suhu di Sahara. Langkah kita selanjutnya adalah melihat apa yang mendorong tren ini, untuk Sahara dan tempat lain.”

Tim sudah mulai meneliti tren suhu musiman lebih dekat ke rumah, yakni di Amerika Utara. “Di sini, musim dingin menjadi lebih hangat tetapi musim panas hampir sama,” kata Natalie. Namun kata Natalie, musim dingin di Afrika bertahan, namun musim panas semakin panas. “Jadi tekanan di Afrika sudah makin parah,” ujarnya.(***/independent)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top