Internasional

Habitat Menyusut Memaksa Harimau Sumatra Keluar dari Wilayah Aslinya

HARIMAU HARIMAU: Konservasi Harimau Sumatera Secara Komprehensif harimau harimau Konservasi Harimau Sumatera Secara Komprehensif

HARIMAU HARIMAU: Konservasi Harimau Sumatera Secara Komprehensif harimau harimau Konservasi Harimau Sumatera Secara Komprehensif

Habitat harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang menyusut, telah memaksa kucing besar ini keluar dari tempat tinggalnya. Tak heran jika konflik manusia-harimau meningkat di pulau tersebut, sebut seorang aktivis. Padahal menurut pengakuan seorang warga, dulu harimau mudah diusir. Ini terkait dengan dua warga Indragiri Hilir yang tewas diterkam harimau bernama Bonita.

Manajer proyek konservasi harimau dari Zoological Society of London (ZSL) di Indonesia, Yoan Dinata, mengatakan, Rabu (28/3/2018), kantong-kantong habitat hewan yang terancam punah ini di Sumatra, menyusut dari 29 kantong pada 2010, menjadi 23 pada 2016. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan, populasi harimau Sumatera saat ini tidak lebih dari 600 ekor.

Populasi ini, kata Yoan, sekarang menghadapi ancaman yang lebih besar karena luas area tempat mereka tinggal makin merosot, serta adanya perburuan besar-besaran. Ada empat habitat harimau Sumatra di Jambi, yaitu Kerinci Seblat, Bukit Tigapuluh, Berbak-Sembilang, dan Hutan Harapan. Namun kini terganggu ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit, yang mendorong mereka berkeliaran di luar habitatnya.

Konflik manusia-harimau pun tak terelakan. Menjadi masalah ketika harimau menyerang manusia hingga meninggal. Dengan alasan bahwa harimau Sumatra itu hewan siluman, warga di Sumatera Utara pada awal Maret 2018 misalnya, membunuh secara brutal hewan yang dilindungi ini. Warga di satu desa di provinsi Riau belum lama ini bermaksud memburu harimau yang diberi nama Bonita, yang telah membunuh dua warganya.

Padahal di masa lalu, harimau bisa hidup berdampingn dengan manusia. Menurut Sekretaris Daerah provinsi (Sekdaprov) Riau, Ahmad Hijazi, seperti dilaporkan Riauonline, saat kecil dia terbiasa mendengar auman harimau, namun keluarganya tak pernah mempermasalahkan kehadiran mereka. Hijazi mengisahkan, bagaimana dulu harimau melintas di dekat sekolah ayahnya, atau bertemu di kebun. Namun cukup dengan ayunan parang, harimau itu pun pergi.

Sementara itu kabar terakhir harimau Bonita yang tengah diburu tim BKSDA, disebutkan telah pergi menjauh dari perkampungan yang dekat dengan tempat dia biasa melintas yakni Dusun Sinar Danau dan Blok Eboni. Sebelumnya Bonita kerap melintas di beberapa blok di perkebunan kelapa sawit PT THIP.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, mengatakan, Bonita berangsur kembali ke Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Kucing ini disebutkan terakhir kali ditemukan warga pada Minggu (25/3/2018), di pinggir sungai gaung, dekat SM Kerumutan. Karenanya warga saat ini dilarang masuk ke hutan khususnya SM Kerumutan.

Belakangan ini Bonita diduga berubah tingkah lakunya dengan sering menampakkan diri kepada warga. Ini di luar kebiasaan harimau pada umumnya yang takut berjumpa manusia. Suharyono, mengatakan, pihaknya akan tetap berupaya

Manajer proyek konservasi harimau dari Zoological Society of London (ZSL) di Indonesia, Yoan Dinata, mengatakan, Rabu (28/3/2018), kantong-kantong habitat hewan yang terancam punah ini di Sumatra, menyusut dari 29 kantong pada 2010, menjadi 23 pada 2016. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan, populasi harimau Sumatera saat ini tidak lebih dari 600 ekor.

Populasi ini, kata Yoan, sekarang menghadapi ancaman yang lebih besar karena luas area tempat mereka tinggal makin merosot, serta adanya perburuan besar-besaran. Ada empat habitat harimau Sumatra di Jambi, yaitu Kerinci Seblat, Bukit Tigapuluh, Berbak-Sembilang, dan Hutan Harapan. Namun kini terganggu ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit, yang mendorong mereka berkeliaran di luar habitatnya.

Konflik manusia-harimau pun tak terelakan. Menjadi masalah ketika harimau menyerang manusia hingga meninggal. Dengan alasan bahwa harimau Sumatra itu hewan siluman, warga di Sumatera Utara pada awal Maret 2018 misalnya, membunuh secara brutal hewan yang dilindungi ini. Warga di satu desa di provinsi Riau belum lama ini bermaksud memburu harimau yang diberi nama Bonita, yang telah membunuh dua warganya.

Padahal di masa lalu, harimau bisa hidup berdampingn dengan manusia. Menurut Sekretaris Daerah provinsi (Sekdaprov) Riau, Ahmad Hijazi, seperti dilaporkan Riauonline, saat kecil dia terbiasa mendengar auman harimau, namun keluarganya tak pernah mempermasalahkan kehadiran mereka. Hijazi mengisahkan, bagaimana dulu harimau melintas di dekat sekolah ayahnya, atau bertemu di kebun. Namun cukup dengan ayunan parang, harimau itu pun pergi.

Sementara itu kabar terakhir harimau Bonita yang tengah diburu tim BKSDA, disebutkan telah pergi menjauh dari perkampungan yang dekat dengan tempat dia biasa melintas yakni Dusun Sinar Danau dan Blok Eboni. Sebelumnya Bonita kerap melintas di beberapa blok di perkebunan kelapa sawit PT THIP.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, mengatakan, Bonita berangsur kembali ke Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Kucing ini disebutkan terakhir kali ditemukan warga pada Minggu (25/3/2018), di pinggir sungai gaung, dekat SM Kerumutan. Karenanya warga saat ini dilarang masuk ke hutan khususnya SM Kerumutan.

Belakangan ini Bonita diduga berubah tingkah lakunya dengan sering menampakkan diri kepada warga. Ini di luar kebiasaan harimau pada umumnya yang takut berjumpa manusia. Suharyono, mengatakan, pihaknya akan tetap berupaya mengevakuasi dan mengobservasi Bonita.(***/jakartapost/riauonline/kompas)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top