Pantai Wisata Halal di Pulau Santen Banyuwang. (Fotoi: dok Pemkab Banyuwangi)

Pantai Wisata Halal di Pulau Santen Banyuwang. (Fotoi: dok Pemkab Banyuwangi)

Memiliki alam yang luas dengan keindahan yang mendunia dan  penduduk mayoritas muslim  dengan adat ketimuran yang kental nilai islami, Indonesia sudah seharusnya menjadi surga bagi para traveler muslim dunia. Namun kenyataannya, kita masih tertinggal di bawah negara tetangga Malaysia yang dinobatkan menjadi destinasi wisata terfavorit traveler muslim milenial versi Mastercard-Halal Trip Muslim Travel Report  2017.  Ups!

Membahas soal traveler muslim kita bicara soal bisnis besar. Bahkan juga bicara masa depan. Data Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI), pada 2015 jumlah total wisatawan muslim dunia mencapai 117 juta. Dan pertumbuhan wisatawan muslim adalah yang tercepat saat ini. Pada 2020 diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah menjadi 168 juta wisatawan dengan pengeluaran di atas 200 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2,6 triliun. Dan lebih dari separuhnya adalah para traveler milenial.

Angka yang sangat menggiurkan itu membuat segenap destinasi wisata dunia rebutan mengincar wisatawan muslim. Banyak Negara yang tiba-tiba memperkenalkan diri sebagai destinasi ramah muslim. Korea Selatan yang barusan terhempas karena ditinggalkan pelancong China, langsung gerak cepat merayu para traveler muslim. Meski muslim adalah minoritas di sana, namun negeri ginseng itu percaya diri menawarkan wisata halal. Hotel bintang lima menawarkan fasilitas muslim friendly di mana restorannya menjual makanan dengan menggunakan bahan makanan bersertifikasi halal secara teratur.

Lotte Hotel dan The Plaza di Seoul misalnya, melakukan langkah agresif. Kelima restoran di Lotte Hotel telah menerima sertifikasi muslim friendly, sedangkan empat resto di The Plaza semuanya sudah mendapatkan sertifikasi halal. Hotel Sheraton Seoul bahkan menyediakan Alquran, tasbih, sajadah dan kompas untuk membantu para tamu muslim melaksanakan ibadah.

Jepang pun tak kalah memikat. Musholla, jilbab yang terbuat dari sutra, sampai makanan bersertifikasi halal muncul di Jepang. Bandara Narita dan Kansai pun menyediakan tempat shalat buat pelancong muslim. Otoritas di sana bahkan menggelar berbagai seminar dan dengan mengundang para pengelola hotel dan restoran untuk belajar cara melayani secara halal bagi pelancong muslim. Padahal, jumlah muslim di negeri matahari terbit itu hanya 100 ribu dari 123 juta total penduduk. Dan hasilnya, Jepang sukses memikat wisatawan muslim untuk berkunjung ke sana.

Dan yang fenomenal tentu negara tetangga kita, Malaysia. Tidak bisa dipungkiri Malaysia memang sangat serius menggarap wisata halal. Malaysia terbukti sukses membalut program-program wisatanya dengan kearifan lokal yang sangat melayu dan islami. Bukan saja membuat para pelancong muslim nyaman berwisata ke sana karena berlimpahnya makanan halal dengan keterjaminan dari badan sertifikasi yang terpercaya, Malaysia juga menawarkan wisata halal yang lengkap. Mulai dari agen perjalanan, hotel dan  hostel syariah, kawasan wisata syariah, bahkan homestay syariah.

Postcomended   Via Ferrata di Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Barat

Malaysia pernah memiliki maskapai syariah Rayani Air di mana semua pramugarinya berhijab. Hidangan yang disajikan di dalam kabin dijamin halal, tidak mengandung babi dan juga tidak menyediakan minuman beralkohol. Sayang, maskapai ini kemudian dicabut izin operasionalnya oleh otoritas setempat karena masalah operasional dan finansial.

Halal adalah Gaya Hidup

Dari jumlah besar wisatawan muslim dunia, pasar yang paling dibidik adalah traveler muslim milenial. Ya, para pelancong muda berusia antara 18 sampai 36 tahun inilah yang akan menentukan tren ke depan. Para traveler muslim yang sering disebut dengan generasi M ini bukan cuma akan menjadi trend setter, tapi juga sumber pundi-pundi emas yang potensial. Mengutip laporan Mastercard dari situs perjalanan Muslim Halaltrip, traveler muslim milenial diproyeksikan akan membelanjakan lebih dari 100 miliar dollar AS, atau setara dengan Rp 1.350 triliun per tahun untuk traveling pada 2025. Hampir dua kali lipat dari angka tahun ini. Luar biasa bukan?

Apa yang diinginkan para traveler muslim milenial ini? Bagi generasi milenial ini, halal bukanlah sekadar makanan. Namun gaya hidup. Saat ini tren halal lifestyle sudah sangat popular bahkan bukan cuma di negara muslim.Tentu kita mengharapkan Indonesia bisa lebih kencang berlari menyambut era milenial.

Termasuk dalam menumbuhkan wisata halal yang tentunya sangat terkait dengan industri halal. Indonesia punya banyak sekali aset wisata yang bisa menjadi modal untuk itu. Ini adalah potensi emas bagi bangsa ini.Selain itu, Indonesia punya Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sertifikasi halalnya sudah diakui secara internasional. Para muslim traveler tentu akan terpuaskan dengan berbagai kuliner seantero nusantara dengan kehalalan terjamin. Wisata kuliner halal ini dengan kemasan menarik tentu akan menjadi magnet tersendiri.

Postcomended   Giliran Perhotelan Gerah pada Aplikasi Online Airbnb

Pantai Wisata Halal

Berbagai destinasi halal bermunculan dari berbagai daerah. Lombok di Nusa Tenggara Barat dua tahun berturut-turut dinobatkan sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia. Konsep destinasi wisata halal Desa Setanggor Lombok misalnya, patut diacungi jempol. Desa itu  sukses menawarkan paket wisata dengan aktifitas pedesaan seperti memanen ubi, menenun dan bertani. Sebagai wisata halal, desa itu dikembangkan bebas riba, jadi tidak melibatkan dana perbankan. Dan hasilnya, sampai agustus 2017 jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana mencapai 1.500 orang dan mayoritas pelancong mancanegara.

Pulau yang dijuluki pulau seribu masjid itu memang memiliki garis pantai yang indah dengan pesona yang menakjubkan. Hanya sayangnya, meski mendapat predikat sebagai The World’s Best Halal Honeymoon Destination dari Uni Emirat Arab pada 2015, sampai saat ini belum ada hotel syariah di sana.

Di Banyuwangi, ada pantai syariah pertama di Indonesia. Pantai indah di pesisir utara Pulau Santen ini diperkenalkan pemerintah daerah setempat sebagai pantai wisata halal, di mana pengunjung wanita dan pria dipisahkan. Terobosan ini sukses mengubah pantai indah itu yang semula dikenal sebagai tempat maksiat yang kotor dengan sampah bertebaran menjadi spot wisata yang bersih dan aman.

Aceh dan Sumatera Barat juga tengah bersolek untuk menjelma menjadi destinasi halal unggulan. Masjid Raya Baiturahman di Aceh yang sarat sejarah Islam akan dikembangkan menyerupai Masjidil Haram di Mekah, yang berhalaman luas dan dilengkapi dengan pusat kuliner halal dan pusat belanja di sekitarnya.

Soal pelancong muslim, dengan 260 juta penduduk dan 87 persennya muslim, Indonesia sebenarnya tidak perlu repot menjaring pelancong. Berkembangnya industri halal terutama halal tourism pasti akan menarik minat pelancong dalam negeri sendiri.    Namun masyarakat kita memang masih banyak yang menganggap industri halal di tanah air masih sebatas makanan dan minuman saja. Kita berharap, ke depan masyarakat kita lebih akrab dan peduli dengan konsep syariah sehingga industri halal bisa lebih cepat berkembang, baik di bidang makanan, minuman, perbankan syariah, jasa transportasi syariah bahkan pusat belanja syariah.

Postcomended   Diproduseri Fox, Sherina akan Kembali ke Layar Lebar

Kita masih menantikan tumbuhnya hotel-hotel syariah. Fasilitas ibadah di ruang publik pun masih belum memuaskan, termasuk di berbagai bandara dan destinasi wisata. bahkan di mal-mal besar, banyak mushala ditempatkan di bagian “terbelakang”, di basemen, di tempat parkir, dengan fasilitas seadanya, karpet yang kusam dan bau, dan ventilasi minim. Agen perjalanan di sini pun masih sedikit yang menggarap paket-paket wisata halal. Mereka lebih berminat menawarkan paket umroh dan haji. Sayang sekali, mengingat di berbagai daerah, konsep wisata halal mulai bermunculan menunggu untuk dikemas menarik. Lalu dipromosikan besar-besaran kepada dunia.

Bukan itu saja, Indonesia pun belum pernah memiliki maskapai syariah. Tapi kabar gembiranya, Garuda Indonesia terpilih sebagai “World’s Best Airline for Halal Travellers” dalam ajang World Halal Tourism Awards 2016 di Abu Dhabi. Semoga saja, dengan jumlah penduduk muslim yang begitu banyak, kelak Indonesia memiliki maskapai syariah  yang menyajikan makanan halal, bebas alcohol, menyediakan ruang ibadah dan melakukan pembacaan doa sebelum take off seperti halnya tiga maskapai berbasis syariah yang telah ada saat ini, yaitu Saudi Arabian Airlines, Royal Brunei dan Iran Air. Hal ini tentu akan menjadikan para penumpang muslim menjadi lebih nyaman dan terpikat.

Share the knowledge