Ekonomi

Harga Rumah vs Daya Beli Cemaskan Ekonom bahwa Resesi Sedang Mengintip

The Bineau Team

Indikator sektor perumahan dan harga-harga, telah mencemaskan sejumlah ekonom bahwa resesi sedang mencari tempat. Ada pola berulang yang terjadi pada resesi-resesi ekonomi yang lalu-lalu, ketika jumlah penjualan rumah menurun karena harganya meningkat, tetapi penghasilan orang-orang stagnan. Ekonom menyebut, berdera merah mulai berkibar.

“Salah satu kekhawatiran terbesar adalah pasar perumahan,” kata Lindsey Piegza, kepala ekonom untuk Stifel, di acara live “Markets Now” CNNMoney, Rabu (1/8/2018). “Ini mengibarkan bendera merah dan menunjukkan mungkin pertumbuhan 4% ini yang kita lihat pada kuartal kedua tidak berkelanjutan.”

Disebutkan bahwa penjualan rumah telah menurun dalam empat dari lima bulan terakhir karena harga rumah telah meningkat tetapi gaji tetap stagnan. Banyak orang tidak mampu membeli rumah, dan mereka yang bias membeli rumah telah mengambil banyak hutang..

Piegza mengisyaratkan bahwa hal ini seperti menggemakan apa yang terjadi tepat sebelum “great recession” tahun 2008. “Kita belum sampai di sana, tetapi inilah yang mendorong kita ke jatuhnya sektor perumahan,” katanya. Bagaimana ini bisa terjadi lagi?

Postcomended   Credit Suisse Bersimpati: Generasi Milenial Mengalami Nasib Buruk

Piegza percaya bahwa satu dekade suku bunga yang rendah telah membantu orang melupakan bahaya meminjam terlalu banyak. “Saya tidak tahu apakah kita belajar dari Great Recession,” katanya. “Kita telah kembali ke banyak pinjaman mudah yang biasa kita temukan.”

Meskipun Piegza mengatakan resesi belum tentu dekat –terutama setelah pertumbuhan triwulanan datang dengan langkah tercepat dalam hampir empat tahun– ada tanda-tanda momentum yang semakin berkurang dalam perekonomian. Suku bunga, misalnya, mulai menjadi pertanda buruk.

The Federal Reserve (The Fed/Bank Sentral AS), yang menyelesaikan pertemuan dua hari pada Rabu, diperkirakan akan menaikkan lagi tingkat suku bunganya dua kali lagi tahun ini. Suku bunga yang lebih tinggi memang telah mendorong tingkat obligasi jangka pendek AS, tetapi tingkat obligasi jangka panjang belum naik bersama dengan suku bunga jangka pendek, karena investor semakin khawatir tentang ekonomi dalam jangka panjang.

Postcomended   Bisnis Pesawat Mitsubishi Tergencet Raksasa Boeing dan Airbus

Dengan dua lagi kenaikan suku bunga yang direncanakan, The Fed dapat meningkatkan suku bunga jangka pendek lebih tinggi dibanding yang jangka panjang, membalikkan kurva imbal hasil. Kurva imbal balik yang terbalik telah menjadi preseden setiap resesi dalam sejarah modern.

“Kita bisa dengan mudah berada di sana pada akhir tahun ini,” kata Piegza. “Saya pikir kita akan melihat tekanan pada akhir yang lebih Panjang di akhir tahun ini, tetapi The Fed masih akan menaikkan suku bunga untuk jangka pendek.”

Boss The Fed, Jerome Powell, mengatakan, dia tidak khawatir tentang kurva imbal hasil terbalik. Namun Piegza sangat tidak setuju. “Ini adalah ukuran prediktif dari resesi,” katanya.(***/CNNmoney)

Postcomended   The Fed Naikkan Bunga, Investasi Dicemaskan Lari

 

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top