Internasional

Hari Ini Pohon Keluarga Manusia Memperoleh Cabang Baru, Seorang Kerabat Kuno

Share the knowledge

Peneliti dari tiga negara melakukan penggalian di Gua Callo, tempat Homo luzonensis ditemukan. (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=nlNRmrt6SxI)

Peneliti dari tiga negara melakukan penggalian di Gua Callo, tempat Homo luzonensis ditemukan. (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=nlNRmrt6SxI)

Pohon keluarga manusia telah memperoleh cabang baru pada hari ini, Kamis (11/4/2019), dengan ditemukannya fosil spesies manusia “baru”. Manusia ini hidup di satu pulau di Filipina sekitar 50.000 tahun yang lalu. Satu celah dalam sejarah umat manusia kembali terisi, yang lainnya menunggu ditemukan.

Fosil spesies yang kemudian dijuluki Homo luzonensis ini, sesuai namanya ditemukan di pulau Luzon, di Filipina. Para peneliti menyebitkan, dia bukan nenek moyang langsung manusia modern, melainkan kerabat kuno yang jauh.

Penemuan itu, yang diterbitkan di jurnal Nature, Kamis, menambah bukti yang berkembang bahwa evolusi manusia tidak linier seperti yang pernah diperkirakan. Ini juga menimbulkan pertanyaan, termasuk bagaimana spesies itu tiba di pulau itu dan siapa leluhurnya.

“Penemuan luar biasa, tidak diragukan lagi akan memicu banyak perdebatan ilmiah selama beberapa minggu, bulan, dan tahun mendatang”, kata Matthew Tocheri, associate professor antropologi di Lakehead University Kanada, dalam sebuah tinjauan yang ditugaskan oleh Nature, seperti dukutip AFP.

Para peneliti yang berasal dari Perancis, Filipina, dan Australia, menemukan sisa-sisa jasadnya di Gua Callo, di mana tulang yang berasal dari 67.000 tahun ditemukan pada 2007.

Awalnya tidak jelas jenis manusia purba mana dengan hanya menganalisis tulang, tetapi baru-baru ini para peneliti menemukan tujuh gigi dan lima tulang yang berbeda di lokasi tersebut, yang berumur antara 50.000 dan 67.000 tahun.

Postcomended   28 Oktober dalam Sejarah: Temuan Spesies Manusia Baru di Indonesia Dipublikasikan

Dengan lebih banyak bukti untuk diperiksa, dari setidaknya tiga individu, mereka dapat membangun kasus bahwa sisa jasad tersebut berasal dari jenis manusia yang sebelumnya belum dikenal. “Sejak awal, kami menyadari karakteristik yang tidak biasa dari fosil-fosil ini,” Florent Detroit, yang memimpin penelitian ini, mengatakan kepada AFP pada konferensi pers.

“Kami menyelesaikan perbandingan dan analisis, dan itu menegaskan bahwa ini adalah sesuatu yang istimewa, tidak seperti spesies hominin yang dijelaskan sebelumnya dalam genus homo,” kata palaeoanthropolog di Musee de l’Homme Prancis ini.

Secara khusus, gigi yang mereka temukan memiliki kombinasi elemen yang mengejutkan dari manusia purba yang berbeda. “Ini campuran yang belum kita lihat pada spesies lain,” kata Detroit.

Tetapi penemuan itu menimbulkan banyak pertanyaan, termasuk bagaimana Homo luzonensis sampai ke pulau itu, yang menurut para peneliti selalu membutuhkan “penyeberangan laut yang substansial” untuk mencapainya dari daratan.

Para peneliti juga belum yakin dari mana prekursor manusia purba yang tercatat dalam catatan fosil yang mungkin diturunkan dari Homo luzonensis Afrika.

Postcomended   Toto Sering Kunjungi Dada Rosada, Adhli: Biar Bandung Tetap Kondusif

Untuk waktu yang lama, teori evolusi berpusat di sekitar gagasan bahwa spesies awal bernama Homo erectus mulai menyebar dari Afrika antara 1,5 juta hingga dua juta tahun yang lalu. Di bawah teori itu, manusia purba lainnya tetap tinggal di Afrika, tempat mereka akhirnya mati.

Tetapi teori ini telah ditantang oleh penemuan dalam beberapa tahun terakhir spesies yang tampaknya tidak diturunkan dari Homo erectus, termasuk Homo floresiensis, yang disebut “hobbit”, yang ditemukan pada tahun 2004 di pulau Flores, Indonesia.

Penemuan Homo luzonensis ini memberikan lebih banyak bukti yang mengisyaratkan bahwa Homo erectus mungkin bukan satu-satunya hominin awal yang menjelajah dunia”, tulis Tocheri.

Berbagi Karakteristik dengan Kerabat Afrika-nya

Menariknya, kedua manusia purba yang tinggal di dua pulau itu berbagi beberapa karakteristik dengan spesies manusia yang sangat tua yang tercatat di Afrika.

Secara khusus, luzonensis yang baru ditemukan memiliki tulang kaki yang tidak seperti manusia sezamannya yang dikenal, tetapi sangat mirip dengan spesies manusia yang diketahui telah ada di Afrika sekitar dua hingga tiga juta tahun sebelumnya.

Luzonensis juga memiliki tulang-tulang jari yang melengkung, menunjukkan aktivitas mendaki/memanjat mungkin merupakan bagian penting dari perilakunya; sesuatu yang lebih terkait dengan spesies manusia jauh sebelumnya.

Postcomended   Malala Desak Sejawatnya Sesama Peraih Nobel agar Kutuk Kekerasan pada Rohingya

Tetapi Detroit mengatakan untuk saat ini para peneliti percaya bahwa luzonensis kemungkinan besar berjalan tegak daripada hidup di pohon. Sisa-sisanya juga menunjukkan bahwa spesies ini (berukuran) kecil, mungkin berdiri kurang dari empat kaki.

Satu teori menyatakan bahwa ciri khas luzonensis dan sepupunya, floresiensis, adalah hasil dari habitat mereka, dengan lingkungan yang unik dan terisolasi mendorong mereka untuk mengembangkan karakteristik yang mengingatkan leluhur kuno mereka.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top