Media Sosial Sudah Terlanjur Membajak Pikiran Kita dan Membunuh ... Vice1048 × 590Telusuri gambar 'Revolusi Medsos' yang dielu-elukan banyak orang ternyata enggak ada fungsinya kecuali bikin orang macam Trump berkuasa dan Brexit terjadi.

Media Sosial Sudah Terlanjur Membajak Pikiran Kita dan Membunuh … Vice1048 × 590Telusuri gambar ‘Revolusi Medsos’ yang dielu-elukan banyak orang ternyata enggak ada fungsinya kecuali bikin orang macam Trump berkuasa dan Brexit terjadi.

Memiliki smartphone canggih dengan berbagai fitur canggih tentunya merupakan idaman setiap orang, khususnya bagi generasi millennial. Ketika zaman sudah semakin maju dan canggih, smartphone kini sudah berubah menjadi barang kebutuhan yang sangat penting. Jika dulu dalam konsep barang kebutuhan ekonomi ia hanya masuk dalam kategori barang Tersier, yang hanya digunakan oleh orang-orang tertentu kini sudah berubah secara drastis

Smartphone kini sudah menjadi barang kebutuhan primer. Barang primer adalah barang wajib yang harus dimiliki oleh manusia untuk menunjang kehidupan sehari-harinya. Akhirnya tak heran, orang-orang kadang rela tak memiliki rumah, demi memiliki smartphoneterlebih dahulu.

Apalagi anak-anak remaja sekarang, mereka bahkan rela tak punya buku demi memiliki smartphone canggih. Mereka tidak akan pernah merasa resah ataupun gusar tak memiliki buku. Justru mereka akan pusing tujuh keliling jika tak memiliki smartphone. Gengsi terkadang membuat orang menjadi buta dan bersikap irasional.

Kecanggihan smartphone sudah tak bisa diperdebatkan lagi. Dari namanya saja semua orang sudah tahu kalau barang ini adalah barang yang sangat pintar, bisa melakukan apa saja. Bahkan hal-hal tertentu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Hingga terkadang muncul anekdot yang sangat lucu. Handphone nya smart namun orangnya tak smart.

Smartphone kini telah dilengkapi dengan berbagai macam aplikasi, seperti Facebook, twitter, path, Instagram, dan lain-lainnya. Semua tak bisa disebutkan satu persatu, karena terlalu banyak. Aplikasi-aplikasi dari smartphone itu tentunya sangat membantu kehidupan sehari-hari kita, khususnya bagi yang bisa memanfaatkannya dengan bijak.

Namun bagi yang tak bijak menggunakannya, tentunya akan jatuh ke dalam lubang sumur yang sangat dalam. Kecanggihan teknologi bisa menjadi sahabat setia, namun bisa secara bersamaan menjadi musuh dalam selimut yang menghancurkan penggunanya.

Postcomended   Kelas Prioritas di Argo Parahyangan Dibandrol Rp 200 Ribu per Orang

Sebut saja Facebook dan Instagram. Melalui sosial media ini kita bisa setiap hari menceritakan apapun yang kita pikirkan kepada orang lain. Sedang bosan, senang, sedih tinggal di update. Seketika semua orang akan mengetahui apa yang sedang kita lakukan dan kita rasakan pada saat itu juga. Ada yang update status 1 kali dalam sehari, namun ada juga yang update status hingga berkali-kali. Isi status pun bermacam-macam, mulai dari curhat masalah sekolah, asmara, pekerjaan, bahkan dipakai juga untuk saling menyindir satu sama lain. Dan lebih parahnya lagi, sosial media tersebut kini sudah dipakai sebagai media untuk menyebar fitnah dan pesan kebencian kepada orang lain.

Melihat rame nya sosial media sosial tersebut, mungkin pernah diantara kita ada yang benar-benar merasa bosan. Setiap hari mengonsumsi berita dan kabar buruk. Melihat status teman yang kurang enak dibaca. Melihat berita yang saling menyebarkan kebencian satu sama lain, serta hal-hal lainnya yang kurang menyenangkan. Sepertinya, hidup tanpa sosial media akan terasa lebih baik. Pernahkah kita berpikir seperti itu?

Postcomended   “13 Reason Why” Mendorong Orang Tua Ngobrol dengan Anak Remajanya

Pernahkah kita berpikir jika hidup tanpa sosial media justru akan membuat hidup ini akan lebih nyaman? Terbebas dari status orang lain yang mengganggu. Terbebas dari nyinyiran orang lain yang sok tahu mengenai kehidupan pribadi kita sendiri. Dan hal-hal membosankan dan mengganggu lainnya yang tentunya sangat meresahkan hidup kita. Pernahkah terpikir?

Ketika kita sedang stres dan depresi dengan berita hoax dan status orang lain yang tak jelas. Di lain sisi, Mama kita di rumah tetap bahagia dengan handphone Jadulnya yang hanya bisa menelepon dan mengirim pesan. Mengapa demikian? Apabila kita memperhatikannya lebih dalam lagi, ternyata hidup seperti mereka bisa menyenangkan juga. Mama tak pernah sibuk membaca status orang lain.

Oleh keran itu mama juga tak akan pernah nyinir terhadap isi status orang lain. Mama juga tidak akan pernah terkena fitnah atau berita hoax dari media yang tak bertanggung jawab. Sehingga mama di rumah akan tetap tenang dan santai meskipun dunia maya sedang ribut masalah demo Ahok, Makar, Politik Nasi Goreng, Hari Baper Nasional, partai yang bertikai, Tas Syahrini yang harganya bisa dipakai untuk membeli tiket ke Asgardia, dan lain sebagainya.

Mama tak pernah mengenal kata galau ataupun baper. Karena hidup mereka benar-benar bahagia hanya dengan sebatas mengirim sms dan menelepon anak dan suami tercinta nya. Mama juga selalu sibuk memberikan perhatian kepada anak-anak dan suaminya dengan menyiapkan berbagai macam kebutuhan anggota keluarganya tanpa harus sibuk untuk mengupdate status tak jelas dan lain sebagainya. Berbeda sekali dengan kehidupan kita sehari-hari yang tak pernah lepas dari sosial media. Setiap hari galau dan baperan.

Postcomended   Diduga Rugikan Negara Setengah Triliun, Karen Agustiawan Jadi Tersangka

Oleh karena itu, coba kita perhatikan lagi. Hidup siapa yang lebih berkualitas? Hidup Mama yang hanya bermodal handphone jadul namun tenang tanpa polusi sosial media atau hidup kita sendiri yang penuh dengan glamour sosial media namun merasa tak tenang dengan hiruk pikuk sosial media yang sudah semakin edan? Well… Tentunya hidup mama-mama kita di rumah lebih berkualitas. Mereka hidup seperti orang primitif zaman purba, namun kebahagiaan yang mereka dapatkan melebihi kehidupan manusia zaman modern 200 tahun kemudian. Yang jelas, kata-kata Beper dan Galau tak ada dalam kamus mereka.

Share the knowledge