Dr John Zhang (http://assets.nydailynews.com/polopoly_fs/1.3391486.1502130938!/img/httpImage).

Demi menghasilkan tanaman yang tahan hama, kuat, dan produksi lebih besar, ilmuwan melakukan rekayasa genetik. Namun hanya untuk bahan pangan nabati saja banyak pihak tidak setuju rekayasa genetik, apalagi jika cara ini diterapkan pada manusia. Bukan, ini bukan kloning ala domba Dolly, melainkan “menghasilkan” bayi yang tidak membawa penyakit turunan sang ibu yang telah membunuh dua kakaknya.

Cara kontroversial yang dilakukan Dr John Zhang dari New Hope Fertility Center, New York, ini, bahkan oleh negara seliberal Amerika Serikat (AS) pun dilarang.

Karenanya, demi mengupayakan kelahiran bayi milik pasangan asal Yordania ini, Zhang pun melakukannya di Meksiko. Kenapa AS melarang?Para pejabat kesehatan Federal AS menemukan bahwa eksperimen-eksperimen sebelumnya mengakibatkan bayi menderita kelainan-kelainan genetik.

Zhang mengupayakan percobaan ini setelah si ibu mengabarkan kasusnya: dua kali melahirkan, dua kali juga bayinya meninggal tidak lama setelah lahir. Sang ibu pun mengalami keguguran empat kali. Dia diketahui membawa gen penyakit sistem syaraf fatal yang disebut Leigh Syndrome.

Dalam percobaannya, tim dokter membuang DNA pembawa Leigh Syndrome dari si ibu, lalu menyuntikkan DNA yang sehat ke dalam telur donor, kemudian telur itu dibuahi sperma ayahnya.

Tahun lalu (2016), bayi laki-laki dengan tiga orangtua kandung ini pun lahir. Teknik yang dilaporkan pertama kali di majalah New Scientist ini merupakan upaya pertama di dunia yang menggunakan teknik tiga orang tua kandung.

Sejumlah pakar mengritik publikasi percobaan ini yang dilakukan melalui majalah daripada diungkap dalam jurnal yang dapat dikaji kalangan ilmuwan. Mereka mengatakan, perlu lebih banyak penelitian lagi untuk memahami riset ini.

Sebagian lmuwan menganggap cara ini tidak beretika. Beberapa juga mempertanyakan kebenaran klaim Zhang.

Zhang pun berkompromi. Dia menjelaskan bagaimana sang bayi dibuat dalam jurnal Reproductive Biomedicine Online pada tanggal 3 April 2017. Salah satu yang dijelaskannya adalah, cara ini dapat menghentikan penyakit metabolik bawaan yang berasal dari mitokondria ibu yang rusak.

Untuk memindahkan mitokondria tersebut dalam keadaan utuh, kata Zhang, ia dan timnya memasukkan nukleus dari telur ibu yang membawa penyakit Leigh Syndrome, ke telur pendonor yang sehat. Proses penggabungannya cukup rumit, mencakup pembekuan dan pemanasan embrio.

Meski secara hukum AS melarang, namun keberhasilan Zhang ini membuat Human Fertilisation and Embryology Authority (HFEA) memberikan izin kepada Newcastle University untuk melakukan transfer mitokondria.

“Inilah dia. Akhirnya, kita telah berhasil melakukannya. Teknologi ini adalah sesuatu yang luar biasa untuk umat manusia,” kata Zhang.

Namun tanda tanya besar masih muncul di kepala para peneliti. Antara lain mengenai apakah teknik ini dapat menyebabkan permasalahan kesehatan pada anak. Sebab menurut penelitian pada tikus, pencampuran mitokondria dapat menimbulkan masalah neurologis hingga penyakit metabolik.

Sementara itu orang tua bayi yang lahir September 2016 tersebut, menolak pengujian mitokondria lebih lanjut bila tidak didasari kebutuhan medis ***(ra)