Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali menyelenggarakan acara Seminar Nasional dan Launching Buku Homestay Mozaik Pariwisata Berbasis Kerakyatan di Nusa Dua, Bali pada Kamis (17/5) lalu. Homestay menjadi fokus tema acara dikarenakan keberadaan homestay menjadi trend dan fenomena nasional dalam satu dekade terakhir.

Kementerian Pariwisata bahkan menjadikan homestay sebagai salah satu program prioritas yang digadang-gadang mampu memaksimalkan tiga elemen berkelanjutan (three elements of sustainability) melalui pariwisata untuk masyarakat. “Tiga elemen berkelanjutan seperti ekonomi (economic), Sosial budaya (socio-cultural), dan lingkungan (environment) dapat memiliki implikasi positif karena usaha homestay dilakukan dalam skala kecil namun member impact yang besar. Masyarakat tidak hanya mendapatkan tetesan dari pariwisata, justru manfaatnya,” ujar Pembantu Ketua IV Bidang Kerjasama, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, A.Par., M. Par. saat membuka Seminar Nasional.

Untuk menjadikan pariwisata sebagai basic needs, cara paling mudah adalah membuat harganya menjadi terjangkau yaitu dengan menciptakan atraksi, akses, dan amenitas yang terjangkau. Menteri Pariwisata, Arief Yahya menjelaskan untuk mewujudkan akomodasi yang mudah dan murah terobosan yang harus dilakukan adalah dengan membangun sebanyak mungkin homestay.

Postcomended   Berburu Hidangan Laut Lezat di Chubu Jepang

“Membangun homestay akan lebih mudah dan lebih fleksibel dibandingkan membangun hotel. Pembangunan homestay juga bisa tersebar di berbagai destinasi wisata di seluruh pelosok Tanah Air karena nantinya homestay tersebut akan dimiliki oleh masyarakat di sekitar destinasi wisata,” kata Menpar.

Namun, saat ini potensi besar yang dimiliki homestay tidak didukung oleh informasi serta kajian-kajian lengkap mengenai homestay di Indonesia. Penelitian-penelitian mengenai homestay masih bersifat sporadis sehingga kurang memberikan manfaat aplikatif bagi pengembangan kebijakan, khususnya bagi Kementerian Pariwisata. Padahal, pembangunan homestay secara nyata memberikan kontribusi besar dalam perjalanan kepariwisataan berbasis komunitas.

Untuk melengkapi berbagai informasi serta kajian mengenai homestay, I Wayan Mertha dan Putu Diah Pitanatri dari STP Nusa Dua Bali, merangkai dan mengkompilasi tulisan berbagai kontributor menjadi sebuah buku. Penulisan buku homestay pertama yang dipublikasikan di Indonesia ini melibatkan kontributor dari berbagai Sekolah Tinggi Pariwisata dan universitas seperti, STP Nusa Dua Bali, Universitas Udayana, Universitas Gajah Mada, Politeknik Pariwisata Makassar, Politeknik Negeri Bali, Politeknik Internasional Bali, Institut Ilmu Kesehatan Medika Persada, dan STPBI.

Postcomended   Lumba-lumba Militer Ukraina Dikabarkan Mati Kelaparan

Selain peluncuran Buku Homestay Mozaik Pariwisata Berbasis Kerakyatan, acara ini juga diisi dengan seminar pariwisata bertema “Pembangunan Pariwisata Berbasis Kerakyatan” yang diisi oleh Dr.I Wayan Mertha SE., M.Si selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat STP Nusa Dua Bali. Acara ini dihadiri oleh 98 peserta yang berasal dari Dinas Pariwisata Propinsi dan Kabupaten di Bali, Asosiasi Ubud Homestay, Insitusi Pendidikan, sertatokoh masyarakat.

Share the knowledge