Internasional

Ian Durrant, Penentang Pembangunan Masjid yang Menjadi Pro Muslim

Ian dan Tanweer di depan pintu masuk Masjid baru di Lincoln, Inggris (foto: BBC)

Ian Durrant, seorang veteran perang yang tinggal di kota Lincoln, Inggris, memimpin unjuk rasa rencana pembangunan masjid di kotanya. Dia melakukan itu tidak berlatar kebencian agama, melainkan lebih karena lokasi pembangunan masjid yang tidak pas. Hingga pada satu titik, dia cemas gerakannya ditunggangi oleh mereka yang bermotif politis.

Sebagai mantan veteran, nasionalisme Ian kental. Di rumahnya di Lincoln, berkibar bendera Union yang merupakan bendera Inggris Raya dan bendera salib St George; lambang Inggris selama Abad Pertengahan yang diwarnai Perang Salib, yang hingga kini masih digunakan juga.

Menurut Ian, kedua bendera itu ada di depan rumahnya karena dia seorang veteran, “Dan saya bangga menjadi orang Inggris”. Kenyataannya, bendera itu kadang memberi kesan salah.
Suatu hari, seseorang datang untuk berbicara dengannya. Dia berkata, “Selamat atas pengibaran bendera, apa yang akan Anda lakukan dengan orang-orang Muslim berdarah itu?”
Ian bertanya balik pada orang itu. “Apakah Anda (dari) Front Nasional?”
“Ya, saudaraku,” katanya.
“Jadi saya menasihatinya, menggunakan bahasa tentara, untuk keluar dari halaman rumah saya.”

Front Nasional adalah salah satu partai politik berideologi kanan-jauh di Inggris (dan Eropa umumnya) yang biasanya anti-Muslim dan anti-imigran.

Satu dekade menunggu, Lincoln akhirnya memiliki masjid. Bangunan senilai 2 juta dolar AS (lebih dari Rp 26 miliar) ini akan dibuka, lebih dari satu dekade setelah aplikasi perencanaan pertamanya diserahkan ke DPRD Lincoln.

Sepuluh tahun lalu, Ian adalah salah satu pentolan penentang pembangunan masjid. Pria yang pernah bertugas selama 25 tahun di ketentaraan Ingris ini, membentuk kelompok yang mencoba menghentikan aplikasi pembangunan masjid.

Namun dia mengatakan, keberatannya adalah lebih karena lalu lintas. “Tidak ada parkir, akan ada hampir 90 mobil, dan gedung hanya menyediakan 12 ruang parkir.”

Namun, kondisi menjadi buruk ketika situs di mana masjid itu direncanakan akan dibangun, terbakar tanpa dapat dijelaskan. Pada tiga kesempatan terpisah, kelompok-kelompok termasuk Liga Pertahanan Inggris (EDL) dan East Anglian Patriots bergerak melalui pusat kota. Peserta berteriak dan menyanyi, seperti “Bakar poppy, dan kami akan membakar masjid”.

Postcomended   Anaknya Disebut "Loli", Nafa Urbach Akan Ambil Jalur Hukum

Di beberapa bagian wilayah Kerajaan Inggris termasuk Lincoln, bunga Poppy sejak 1921 digunakan untuk memperingati personil militer yang meninggal dalam perang. Bunga “opium” bernama latin Papaver rhoeas ini di musim semi banyak tumbuh liar di padang rumput.

Khawatir kampanyenya melawan masjid dibajak oleh kelompok anti-Islam, Ian merasa harus bertindak. “Kami melakukan kampanye di surat kabar melawan EDL, meminta pada warga, ‘Jika melihat mereka (orang EDL), berbaliklah dan pergi.’ Dan mereka melakukannya,” kata Ian.

Populasi Muslim Lincoln kecil dibandingkan kota-kota seperti Leicester atau Birmingham, tetapi sudah lebih besar melampaui kapasitas masjidnya. Pada Jumat, hari terpenting dalam seminggu dalam Islam, umat Muslim Lincoln harus menyewa balai desa yang lebih besar untuk menampung sekitar 250 jamaah.

Setelah perencanaan awal pembangunan masjid gagal, aplikasi berikutnya yang diajukan yakni di bekas tempat produk susu, disetujui. Ini menenteramkan hati orang-orang seperti Ian yang tidak setuju pada lokasi awal, namun masih banyal juga yang skeptis atas niat masjid.

Tanweer Ahmed, ketua Asosiasi Islam Lincoln, mengatakan, ada desas-desus yang beredar bahwa masjid baru akan memiliki pengeras suara untuk melakukan panggilan shalat lima kali sehari. “Beberapa orang juga berpikir kami akan mencoba dan menyingkirkan (tradisi) peringatan perang lokal.”

Padahal kata Tanweer, Muslim lokal hanya ingin “merasa nyaman”. Untuk meredakan kecemasan itu, Tanweer memutuskan bertindak: mengetuk setiap pintu (rumah warga) di area tersebut. Banyak yang menyambut, tetapi ada juga yang tidak senang. “Kami memberi mereka selebaran, dan mereka melemparkannya langsung ke tempat sampah,” kata Tanweer.

Bahkan orang-orang Muslim sendiri pun mempertanyakan gerakan yang dilakukan Tanweer. “Istriku berkata, ‘Mengapa kamu melakukan itu?’ Dan anak-anakku khawatir seseorang akan menyakitiku. Beberapa kolegaku juga khawatir tentang keselamatanku. Dan ada beberapa yang tidak mau melakukannya.”

Tanweer mengatakan dia telah mencoba menemukan situs selama bertahun-tahun untuk membangun sebuah masjid di Lincoln. Karenanya Tanweer perlu menunjukkan kepada penduduk setempat bahwa kehadiran Islam di wilayah mereka tidak akan mengancam cara hidup mereka. Tanweer pun mengulurkan tangan kepada Ian.

Postcomended   Ketika Obat Batuk Bisa Bikin “High”

“Saya tidak tahu apa-apa tentang Islam, ketika seseorang mengirimi saya email yang mengatakan, ‘Kami sedang mendiskusikan sesuatu, apakah Anda ingin datang?’ Saya menerima undangan itu. Saya duduk di depan sendiri, dan itu sangat menarik,” kata Ian.

Sejak itu, dia menghadiri banyak acara, termasuk perayaan Idul Fitri dan hari-hari masjid dibuka. Banyak jamaah mengenalinya di jalan. Tapi dia malah mengangkat alis pada komunitasnya sendiri.
“Saya bangga menjadi teman dan berbicara dengan orang-orang Muslim. Orang lain akan berkata, ‘Mengapa kamu melakukan itu?’ Dan saya berkata, ‘Mereka adalah warga’.”

Timur telah bertemu Barat di Lincoln, pikir Ian. “Jika saya melihat ke luar jendela ke kiri, saya bisa melihat katedral dalam kemegahannya. Jika aku melihat ke kanan, aku melihat masjid.”
Lincoln terkenal karena katedralnya yang berusia 1.000 tahun yang indah, tetapi juga memiliki sejarah panjang angkatan bersenjata. Lincoln adalah tempat kelahiran tank militer, dan menghasilkan Resimen Royal Lincolnshire yang terkenal di Inggris.

Remembrance Day adalah hari besar bagi penduduk setempat. Ian dan veteran lainnya berpawai pada peringatan perang lokal mereka, hanya 100 meter dari masjid baru. Pada 2012, dia mendapat kejutan yang menyenangkan ketika Tanweer dan Muslim lainnya muncul, membawa karangan bunga dan memakai bunga poppy.

“Orang-orang yang saya kenal berkata, ‘Senang melihat mereka (umat Muslim) bergabung di komunitas.’ Saya berkata, ‘Tanweer Ahmed ada di sini bukan karena undangan, tetapi karena baik!'”

Tanweer mengakui, beberapa Muslim skeptis tentang peringatan tersebut. Mereka kata Tanweer bertanya, mengapa saya pergi ke sana? Mengapa kami harus pergi ke sana? “Saya berkata, kita tinggal di negara ini, dan mereka telah memberikan hidup mereka untuk menyelamatkan negara ini.”
Tanweer juga ingin menyoroti sejarah bersama komunitas Inggris dan Muslim. Dalam Perang Dunia Pertama, 400.000 tentara Muslim India berperang untuk Inggris, dan dalam Perang Dunia II, 600.000 tentara Muslim juga ikut ambil bagian.

Tanweer mengatakan penting baginya dan Ian untuk masuk ke ruang sakral masing-masing dan merangkul budaya masing-masing, tanpa mengorbankan identitas mereka sendiri. “Warga merasa jauh lebih nyaman jika kami pergi ke tempat mereka (sehingga) mereka dapat mengajukan pertanyaan kepada kami, daripada mereka yang datang ke masjid,” kata Tanweer.

Postcomended   Menikmati Lezatnya Kuliner Solo Saat Lebaran

Tanweer akan lega setelah masjid dibuka. Tapi dia tahu pekerjaannya belum berakhir. Serangan teroris tahun lalu telah menciptakan rasa tidak nyaman di kalangan Muslim di kota. Tanweer sendiri telah dilecehkan secara lisan, dan masjid tua dilempari batu.

Dia pikir komunitas Muslim perlu terus terlibat dengan penduduk setempat untuk mencegah masalah lagi. Dia berharap masjid baru dapat menawarkan ruang di dalam gedung untuk non-Muslim ikut berkegiatan, seperti klub anak-anak atau kelas olahraga.

“Banyak orang tidak tahu apa yang terjadi di masjid, jadi jika mereka menggunakan masjid secara teratur, mereka akan merasa jauh lebih nyaman membangun hubungan dengan kami,” kata Tanweer.

Ian sendiri bersemangat atas rencana pembukaan masjid baru, dan berharap dapat mengajak teman-temannya. Ian mengatakan, pendapat mereka tentang Islam telah berubah selama bertahun-tahun, sebagian besar berkat dia.

“Teman-teman saya tidak menyebut saya Muslim lagi. Saya ingin mereka menerima cara berpikir saya. Saya tidak suka prasangka,” kata Ian. Pria 75 tahun ini mengaku pernah bertugas di Kuwait dan Kalimantan, Indonesia, tahun 1965, dan bertemu warga Muslim di sana.

“Saya mengabdi di Kuwait bersama orang-orang Muslim. Saya mengabdi di Kalimantan dengan orang-orang Muslim. Itu membuat saya merasa sangat bangga bahwa saya telah diterima.”(***/Nalini Sivathasan/BBC)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top