Dayeuhkolot Terkepung Banjir, Inilah Sejumlah Wilayah yang ... Tribun Jabar - Tribunnews.com700 × 393Search by image Dayeuhkolot Terkepung Banjir, Inilah Sejumlah Wilayah yang Tergenang Air dan Ratusan Warga Mengungsi

Dayeuhkolot Terkepung Banjir, Inilah Sejumlah Wilayah yang … Tribun Jabar – Tribunnews.com700 × 393Search by image Dayeuhkolot Terkepung Banjir, Inilah Sejumlah Wilayah yang Tergenang Air dan Ratusan Warga Mengungsi

“Karena Krapyak alias Dayeuhkolot selalu banjir, bupati beserta rakyatnya pindah ke kota Bandung yang sekarang”
Hujan yang kembali mengguyur Bandung di penghujung musim hujan 2013, membuat Bandung Selatan kembali mengalami banjir. Kecamatan Majalaya, Baleendah, Bojongsoang, dan Dayeuhkolot, adalah nama-nama yang tak asing lagi menjadi langganan banjir di sana. Penyebabnya, daerah-daerah ini memang berada di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Citarum.

Kondisi sekarang menjadi makin ruwet karena penyebabnya selain perilaku alami sungai, juga karena jumlah manusia yang membengkak, dan diperparah oleh perilaku mereka. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Rabu kemarin mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan banjir, seperti kerusakan DAS, sedimentasi, pemanfaatan lahan bantaran sungai menjadi permukiman dan industri, dan sampah.

Postcomended   Raih 83,3% SMS, Nama "Gelora Bandung Lautan Api" Diresmikan (2)

Banjir di daerah ini merupakan gejala alami sejak sungai itu ada di sana. Gara-gara banjir itu juga pemerintahan kabupaten di masa penjajahan Belanda, pada akhir abad ke-19 memutuskan memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung yang semula di Dayeuhkolot ini ke tempat lain. Ketika itu, Dayeuhkolot masih bernama Krapyak. Dayeuhkolot sendiri memiliki arti  kota lama.

Postcomended   Tamu istimewa di Gedung Pancasila

Maka pada sekitar akhir tahun 1808 dan awal tahun 1809, bupati Kabupaten Bandung (R.A Wiranatakusumah II), pindah ke lokasi kota Bandung yang sekarang. Yang pindah bukan hanya sang bupati, melainkan juga dengan rakyatnya.

Sayang, ketika Krapyak saat itu masih tidak sepadat sekarang, proses pemahaman tentang kearifan alam pastinya tidak dilakukan. Sehingga, seiring dengan kian banyaknya jumlah manusia, maka lahan-lahan di sana kembali dihuni manusia, bahkan hingga menjadi kawasan padat dan kumuh seperti sekarang. Bahkan karena tidak ada sosialisasi menerus, aturan yang sudah jelas pun dilanggar saja.

Postcomended   KEMENHUB TERBITKAN PM 108 TAHUN 2017 SEBAGAI PAYUNG HUKUM ANGKUTAN ONLINE