Internasional

Ilmuwan AS, Inggris, dan Jepang Raih Nobel Kimia 2019 untuk Temuan Baterai Lithium

Share the knowledge

Pemenang Nobel Kimia 2019, kika: Akira Yoshino dari Jepang,  Stanley Whittingham dari Inggris, dan John Goodenough dari AS. (Kredit: Charles Dharapak / Yoshiaki Sakamoto / Kyodo News / Binghamton University, via https://www.ctvnews.ca/sci-tech/nobel-prize-awarded-to-inventors-of-lithium-ion-batteries-1.4630473)

Pemenang Nobel Kimia 2019, kika: Akira Yoshino dari Jepang, Stanley Whittingham dari Inggris, dan John Goodenough dari AS. (Kredit: Charles Dharapak / Yoshiaki Sakamoto / Kyodo News / Binghamton University, via https://www.ctvnews.ca/sci-tech/nobel-prize-awarded-to-inventors-of-lithium-ion-batteries-1.4630473)


Tiga peneliti kembali memenangkan Hadiah Nobel, kali ini untuk Nobel bidang Kimia. Ketiganya diganjar hadiah ini untuk upayanya dalam pengembangan baterai lithium-ion. 
Temuan baterai ini dianggap telah membuka jalan bagi smartphone dan masyarakat bebas bahan bakar fosil.

Mereka dalah John Goodenough (97) dari Amerika Serikat (AS), Stanley Whittingham (77) dari Inggris, dan Akira Yoshino (71) dari Jepang, yang akan akan berbagi sembilan juta kronor Swedia (sekitar 914.000 dollar AS), Royal Swedish Academy Ilmu mengumumkan pada Rabu (9/10/2019). Goodenough disebut sebagai penerima Nobel tertua yang pernah ada.

Para juri Hadiah Nobel mengatakan, lithium-ion adalah baterai yang ringan, dapat diisi ulang, dan bertenaga, yang  sekarang digunakan dalam segala hal mulai ponsel hingga laptop dan kendaraan listrik. Baterai ini juga, kata para juri, dapat menyimpan sejumlah besar energi dari tenaga surya dan angin, yang memungkinkan masyarakat bebas bahan bakar fosil.

Postcomended   Mantan Komandan Gerilyawan FARC Nyatakan Angkat Senjata

“Baterai Lithium telah merevolusi kehidupan kita sejak pertama kali memasuki pasar pada tahun 1991,dan merupakan manfaat terbesar bagi umat manusia,” kata para juri, dilansir AFP.

Mencari sumber daya alternatif selama krisis minyak 1970-an, Whittingham menemukan cara untuk memanfaatkan energi potensial dalam lithium; logam yang sangat ringan sehingga dapat mengapung di atas air.

Dia membuat baterai yang sebagian terbuat dari bahan ini yang memanfaatkan kecenderungan alami elemen tersebut untuk melepaskan elektron, dengan demikian dia dapat menghantarkan energi. Namun pada awalnya baterainya terlalu tidak stabil untuk digunakan.

Atas prototipe temuan Whittingham, Goodenough menyempurnakannya dengan menggantikan senyawa logam yang berbeda dan menggandakan energi potensial baterai menjadi empat volt. Ini membuka jalan bagi baterai yang jauh lebih kuat dan tahan lama di masa depan.

Pada 1985, Yoshino malah menggunakan bahan berbasis karbon yang menyimpan ion lithium, yang akhirnya dapat menjadikan baterai layak secara komersial. Puncak dari penelitian trio ini menghasilkan baterai yang paling kuat, ringan dan dapat diisi ulang yang pernah ada.

Postcomended   Veteran PD II Berusia 96 Behasil Menyelam ke Kedalaman Setara Gedung 15 Lantai

“Ini adalah hal yang luar biasa, dan saya sangat terkejut,” kata Yoshino kepada wartawan di Tokyo setelah memenangkan hadiah. Uniknya, Yoshino mengaku belum pernah memiliki ponsel. “Saya sudah lama merasakan sedikit penolakan terhadap ponsel, jadi saya belum pernah memilikinya sampai saat ini.”

“Saya tahu baterai lithium ion benar-benar menguntungkan ponsel”, katanya, menambahkan bahwa dia tidak benar-benar merasa bahwa dia telah membantu membuat produk yang bermanfaat bagi hidupnya. Baginya, hidup adalah tidak pernah menyerah.

Yoshino bekerja di Asahi Kasei Corporation di Tokyo dan merupakan profesor di Universitas Meijo di Nagoya, Jepang, sementara Goodenough memegang Kursi Cockrell di bidang Teknik di University of Texas di Austin.

Sementara itu Whittingham mengatakan bahwa penelitiannya telah membantu memajukan bagaimana kita menyimpan dan menggunakan energi pada tingkat dasar. “Harapan saya, pengakuan ini akan membantu menyinari cahaya yang sangat dibutuhkan pada masa depan energi negara (AS),” katanya di situs web Universitas Binghamton di New York di mana dia adalah seorang profesor.

Postcomended   DNA Ternyata Menyimpan Misteri Rahasia Pernikahan Seseorang

Ketiganya akan menerima hadiah dari Raja Carl XVI Gustaf pada upacara resmi di Stockholm pada 10 Desember 2019, bertepatan dengan peringatan kematian ilmuwan Alfred Nobel pada 1896, sang “penemu” Hadiah Nobel.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top