Ilmuwan Eksplorasi Penggunaan Belatung dan Serangga untuk Sosis dan Eskrim

Lifestyle
Share the knowledge

 

(gambar dari: https://www.youtube.com/channel/UC2wveTPHk6E2IVGdyPZsaxw)
(gambar dari: https://www.youtube.com/channel/UC2wveTPHk6E2IVGdyPZsaxw)

Untuk mengatasi kekurangan pangan yang semakin besar dan dampak negatif dari budidaya ternak, para ilmuwan beralih ke bentuk protein yang kurang dimanfaatkan: serangga berikut larvanya alias belatung. Selamat datang sosis belatung.

Para peneliti di Universitas Queensland sedang mengeksplorasi penggunaan binatang-binatang tersebut untuk mengembangkan berbagai makanan khusus, laman Daily Mail melaporkan, Kamis (2/5/2019).

“Suatu dunia yang kelebihan penduduk akan berjuang untuk menemukan protein yang cukup, kecuali orang mau membuka pikiran, dan perut mereka, ke gagasan makanan yang jauh lebih luas,” kata Profesor Ilmu Daging Universitas Queensland, Dr. Louwrens Hoffman, dalam sebuah pernyataan.

“Apakah Anda akan makan sosis komersial yang terbuat dari belatung? Bagaimana dengan larva serangga lain dan bahkan serangga utuh seperti belalang?” ujar pala peneliti.

Potensi terbesar untuk produksi protein berkelanjutan, lanjut mereka, terletak pada serangga dan sumber tanaman baru. Para peneliti ini mengatakan, sementara mereka cukup yakin orang tidak akan makan makanan yang dibuat secara eksklusif dari serangga, mereka mulai mencoba dan memasukkan serangga ke dalam produk makanan tertentu sebagai suplemen protein.

Postcomended   Lakukan Ini untuk Menguatkan Ingatan

Di antara camilan mutakhir itu adalah es krim serangga dan produk “ayam” tertentu yang dibuat dari lalat tentara hitam; yang disinyalir dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dari konsumsi rakus terhadap ayam  dunia.

Pada 2009, populasi ayam global diperkirakan telah tumbuh hingga 50 miliar di seluruh dunia. “Unggas adalah industri besar di seluruh dunia dan industri ini berada di bawah tekanan untuk menemukan protein alternatif yang lebih berkelanjutan, etis, dan hijau daripada tanaman gandum yang saat ini digunakan,” katanya.

Menurut penelitian mereka, produk “ayam” yang mengandung “larvae meal” hingga 15 persen, tidak mengurangi rasa, kelembutan, aroma, atau nutrisinya. Seiring pertambahan populasi manusia, dunia mulai mengambil persediaan sumber daya terpentingnya, yakni makanan, di antara mereka.

Selain pasokan yang berpotensi memudar, kekhawatiran terhadap konsumsi daging juga berpusat pada dampak buruknya terhadap lingkungan. Sapi khususnya telah menarik perhatian ahli iklim yang mengatakan bahwa industri ternak telah berkontribusi terhadap perubahan iklim melalui sejumlah efek yang tidak diinginkan.

Postcomended   Seorang Pemuda dari Kasta Bawah Tewas Bersimbah Darah, Diduga Gara-gara Naik Kuda

Gas metana yang dilepaskan melalui sendawa dan perut kembung sapi dengan buang gas, menurut ilmuwan, merupakan gas rumah kaca paling kuat kedua. Satu sapi dapat melepaskan antara 30-50 galon metana dalam satu hari dan diperkirakan ada 1,3 hingga 1,5 miliar di Bumi.

Penyebab lain yang menjadi perhatian adalah sumber daya yang digunakan untuk merawat hewan.
Untuk membuat satu pon daging sapi membutuhkan 1.800 galon air menurut laporan 2015 dari Universitas Stanford.

Akibatnya, perusahaan lain –perusahaan yang tidak berfokus pada pengintegrasian serangga– mulai mengembangkan alternatif yang kurang ramah lingkungan terhadap daging yang dikenal dan dicintai manusia.
Di antara mereka adalah perusahaan seperti Impossible and Just yang mengembangkan “daging” yang ditanam di cawan petri menggunakan sel-sel yang dikultur.

Dengan jutaan dolar dalam investasi, produk-produk laboratorium yang meniru makanan yang telah ada itu, sudah bisa berada di rak segera setelah 2021. Sementara itu, para peneliti seperti Dr. Hoffman mengatakan bahwa manusia sudah memiliki alternatif yang benar-benar layak untuk protein yang dibawa oleh hewan tepat di depan mata mereka, atau dalam hal ini yang “berdengung” di sekitar dapur mereka.***


Share the knowledge

Leave a Reply

Specify Instagram App ID and Instagram App Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Instagram Login to work