Internasional

Ilmuwan Sukses Ubah Sel Kanker Menjadi Lemak Agar Tak Menyebar

Share the knowledge

Sel-sel kanker payudara dapat dipaksa menjadi sel-sel lemak yang 'tidak berbahaya', kata para ilmuwan (gambar dari: https://gsy.bailiwickexpress.com/gsy/life/science/breast-cancer-cells-can-be-forced-become-lsquoharmlessrsquo-fat-cells-say-scientists/)

Sel-sel kanker payudara dapat dipaksa menjadi sel-sel lemak yang ‘tidak berbahaya’, kata para ilmuwan (gambar dari: https://gsy.bailiwickexpress.com/gsy/life/science/breast-cancer-cells-can-be-forced-become-lsquoharmlessrsquo-fat-cells-say-scientists/)

Para peneliti telah berhasil membujuk sel-sel kanker payudara manusia untuk berubah menjadi sel-sel lemak dengan tujuan agar tidak menyebar. Temuan ini dilakukan oleh satu studi pembuktian konsep baru pada tikus.

Untuk mencapai prestasi ini, tim mengeksploitasi jalur aneh yang dimiliki sel-sel kanker metastasis (yang menyebar). Ini masih langkah awal, namun merupakan pendekatan yang benar-benar menjanjikan, menurut Science Alert.

Prosesnya dapat dijelaskan sebagai berikut: ketika Anda memotong jari Anda, atau ketika pada janin mulai tumbuh organ, sel-sel epitel mulai terlihat kurang seperti mereka sendiri, dan lebih banyak “cairan” yang berubah menjadi sejenis sel punca yang disebut mesenkim dan kemudian berubah menjadi sel apa pun yang dibutuhkan tubuh.

Proses ini disebut transisi epithelial-mesenchymal (EMT). Sudah lama diketahui bahwa kanker dapat menggunakan jalur yang satu ini dan yang berlawanan yang disebut MET (transisi mesenchymal ke epitel), untuk menyebar ke seluruh tubuh (metastasis).

Postcomended   Para Pengemplang Pajak Tak bakal Bisa Ngumpet Lagi

Para peneliti mengambil tikus yang diimplantasikan pada bentuk agresif kanker payudara manusia, dan mengobatinya dengan obat diabetes yang disebut rosiglitazone dan pengobatan kanker yang disebut trametinib.
Berkat obat-obatan ini, ketika sel kanker menggunakan salah satu jalur transisi yang disebutkan di atas, alih-alih menyebar, mereka berubah dari kanker menjadi sel lemak; suatu proses yang disebut adipogenesis.

“Model yang digunakan dalam penelitian ini telah memungkinkan evaluasi penyebaran adipogenesis sel kanker di lingkungan tumor langsung,” tulis tim dalam makalah mereka yang diterbitkan pada Januari 2019, seperti dilansir Science Alert Sabtu (10/8/2019).

Meskipun tidak setiap sel kanker berubah menjadi sel lemak, sel yang mengalami adipogenesis tidak berubah kembali. “Sel-sel kanker payudara yang menjalani EMT tidak hanya berdiferensiasi menjadi sel-sel lemak, tetapi juga sepenuhnya berhenti berkembang biak,” kata penulis senior, Gerhard Christofori, seorang ahli biokimia di Universitas Basel, Swiss.

“Sejauh yang kami tahu dari percobaan kultur jangka panjang, sel-sel kanker yang berubah menjadi sel lemak tetap menjadi sel lemak dan tidak kembali menjadi sel kanker payudara.”

Postcomended   LSM Anak-anak: Asia Tenggara dalam Cengkeraman Gelombang Baru Pedofilia

Terapi diferensiasi adipogenik dengan kombinasi obat rosiglitazone dan (trametinib), kata tim peneliti tersebut, secara efisien menghambat invasi sel kanker, penyebaran, dan pembentukan metastasis dalam berbagai model tikus preklinis kanker payudara.

Yang menarik adalah bahwa kedua obat tersebut sudah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA);  semacam BPOM-nya Amerika Serikat, jadi akan lebih mudah untuk memasukkan jenis perawatan ini ke dalam uji klinis untuk manusia.

Temuan ini, sebut Science Alert, menggairahkan, walaupun diketahui banyak penelitian yang diujikan pada tikus tidak benar-benar berhasil atau gagal pada tahap uji klinis. Fakta bahwa cara ini bekerja pada sel kanker manusia memberi sedikit harapan ekstra.

Tim juga sedang menyelidiki apakah terapi ini akan bekerja jika dikombinasikan dengan kemoterapi, dan apakah itu akan berlaku untuk jenis kanker lainnya. “Di masa depan, pendekatan terapi inovatif ini dapat digunakan dalam kombinasi dengan kemoterapi konvensional untuk menekan pertumbuhan tumor primer dan pembentukan metastasis yang mematikan,” Christofori menjelaskan kepada Press Association.

Namun menurut Christofori, karena tim telah menggunakan obat yang disetujui FDA untuk mempelajari efek praklinis pengobatan, terjemahan klinis mungkin perlu dilakukan. Penelitian ini telah dipublikasikan di Cancer Cell.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top