Internasional

Ilmuwan Temukan Metode Baru Ukur Kecepatan Pertumbuhan Alam Semesta

Share the knowledge

 

Alam semesta berkembang (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=LPoV_v7xL2w)

Alam semesta berkembang (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=LPoV_v7xL2w)

Para ilmuwan telah mengetahui selama beberapa dekade bahwa alam semesta mengembang. Namun penelitian dalam beberapa tahun terakhir ihwal kecepatan pertumbuhannya, telah mengguncang perhitungan. Satu penelitian mengungkap metode baru mengukur kecepatan itu.

Penelitian yang ditulis oleh para peneliti di Max Planck Institute of Astrophysics di Jerman dan universitas lainnya ini, telah menggambarkan metode baru untuk mengukur percepatan pertumbuhan alam semesta.

Metode ini menempatkan tingkat ekspansi pada 82,4 kilometer per detik per megaparsec, lebih tinggi dari perhitungan sebelumnya –meskipun diakui para peneliti bahwa ada margin kesalahan 10 persen, yang berarti bisa serendah 74 atau setinggi 90, AFP meaporkan.

Laju ekspansi, yang dikenal sebagai “konstanta Hubble”, adalah bagian utama dari pencarian untuk menemukan asal-usul alam semesta, dengan astrofisikawan percaya bahwa mereka semakin dekat dan semakin dekat dengan kecepatan yang tepat.

Pada 1998, dua tim peneliti menemukan bahwa laju ekspansi dipercepat dalam jarak, dan bahwa alam semesta dipenuhi dengan “energi gelap” misterius yang telah menyebabkan percepatan selama 14 miliar tahun; yang membawa mereka pada hadiah Nobel 2011.

Postcomended   Sambutan Oleh Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya di Acara Launching Konser Budaya Alam Nusantara (KBAN) 2018

Unit pengukuran untuk konstanta Hubble adalah kilometer per detik per megaparsec, yang berarti tiga juta tahun cahaya. Menurut dua metode yang berbeda, tingkat ekspansi adalah 67,4 atau 73.

Para ilmuwan mengatakan perbedaan antara berbagai metode bukanlah kesalahan perhitungan, tetapi bisa menjadi tanda “ketegangan” dalam memahami bagaimana Teori Big Bang menjelaskan kosmos. “Ada fisika tak dikenal yang terjadi di alam semesta awal yang perlu kita pelajari, jika ketegangan itu nyata,” kata Inh Jee, kosmolog di Max Plank Institute dan rekan penulis studi yang diterbitkan Kamis (12/9/2019) di jurnal Science.

“Kami ingin memiliki cara lain untuk memvalidasi apakah perbedaan antara pengukuran itu nyata,” katanya kepada AFP. Teori Big Bang mengusulkan bahwa alam semesta bermula dalam ledakan dahsyat dan telah berkembang sejak saat itu.

Postcomended   Girlband yang Sempat Dicap Simbol Seks ini Diundang Ramaikan Hitung Mundur Asian Games 2018

Berbagai metode pengukuran berarti galaksi yang berjarak tiga juta tahun cahaya (satu megaparsec) akan surut dengan 67, 73, atau mungkin 82 kilometer per detik. Perhitungan baru didasarkan pada bagaimana cahaya membungkuk di sekitar galaksi besar.

Jee mengatakan, margin kesalahan studi yang besar tidak dapat membantu memperbaiki konstanta Hubble, tetapi metodenya menambah perdebatan tentang apakah ada masalah mendasar dalam teori kosmologis.

Adam Riess, salah satu pemenang Hadiah Nobel 2011, mengatakan kepada AFP melalui email bahwa penelitian yang dimuat di jurnal, Kamis, tidak memiliki hasil yang cukup tepat untuk membantu menyelesaikan kontroversi yang berkelanjutan.

“Saya tidak berpikir ini memberi banyak tambahan pada situasi saat ini. Masih menyenangkan melihat orang mencari metode alternatif, jadi saya respek untuk itu,” katanya.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top