Ekonomi

IMF Cemaskan Jika Kombinasi Tiga Hal Ini Terjadi Bersamaan

IMF Managing Director Christine Lagarde (CF), Central Bank governors and finance ministers pose for a group photo at the International Monetary Fund – World Bank Group Annual Meeting 2018, in Nusa Dua, Bali, Indonesia, on October 13, 2018. Photo: Reuters

IMF Managing Director Christine Lagarde (CF), Central Bank governors and finance ministers pose for a group photo at the International Monetary Fund – World Bank Group Annual Meeting 2018, in Nusa Dua, Bali, Indonesia, on October 13, 2018. Photo: Reuters

Terompet perang dagang yang ditiup Presiden AS Donald Trump khususnya terhadap Cina, diakui para pejabat sektor keuangan yang mengikuti pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, di Bali, pekan ini, sebagai “belum terpetakan” sehingga kesulitan memprediksi dampaknya. Terlebih, pihak IMF mencemaskan jika tiga kombinasi masalah ini muncul bersamaan.

Kecemasan tentang prospek ekonomi global yang tinggi pada pertemuan pembuat kebijakan keuangan global tahunan ini, memberikan ketidakpastian tentang seberapa jauh perang perdagangan AS-Cina akan meningkat dan berapa lama akan berlangsung.

Sifat konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya ini membuat banyak negara mati gaya dalam memprediksi dampak ekonomi yang mungkin terjadi baik jangka pendek maupun jangka Panjang.

Secara umum pejabat menekankan ekonomi global tetap kuat, dengan IMF memprediksi pertumbuhan global yang sehat 3,7 persen baik tahun ini dan tahun depan, dengan prediksi 2018 direvisi turun hanya 0,2 poin persentase dari prediksi sebelumnya pada Juli, sebagian besar disebabkan perang dagang.

Postcomended   Habis Kesabaran, Paus Fransiskus Usir Imam Cile yang Terlibat Skandal Seks

Namun kemudian muncullah peringatan. Pertumbuhan global tampaknya telah stabil dan dunia menghadapi serangkaian “tantangan” yang signifikan, termasuk perang perdagangan tetapi juga dampak dari kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) dan harga minyak yang lebih tinggi.

Rhee Chang-yong, kepala departemen Asia-Pasifik IMF, seperti dilaporkan South China Morning Post (SCMP), mengatakan, dia khawatir jika kombinasi dari tiga risiko ini (perang dagang, kenaikan suku bunga The Fed, dan harga minyak yang tinggi) terwujud secara bersamaan. Eskalasi perang dagang, adalah risiko terbesar, kata Rhee, sementara harga minyak sudah lebih tinggi dari harga 70-75 dolar AS per barel yang diasumsikan dalam perkiraan IMF terbaru.

Kenaikan suku bunga The Fed yang diharapkan telah dikomunikasikan dengan baik, memberi negara di seluruh dunia waktu untuk menyesuaikan. Namun, risikonya adalah bahwa tanda-tanda ekonomi AS yang terlalu panas akan menyebabkan bank sentral untuk mempercepat pengetatannya dengan efek samping yang luas, terutama untuk pasar negara berkembang yang rentan.

Postcomended   Mahathir Batalkan Proyek Kereta Peluru Singapura-KL Besutan Najib Razak

Namun kekhawatiran tentang perang dagang dan dampaknya, mendominasi diskusi di acara tahunan tersebut.  “Orang-orang sangat gugup mengingat ketegangan bilateral antara dua ekonomi terbesar, terutama untuk negara-negara berkembang dan miskin,” kata seorang wakil dari Aljazair, seraya mengatakan bahwa delegas  AS dan Cina bungkam. “Mereka tidak berbicara. Dan mereka tidak memberi kita arah,” katanya.

Elmutasim Elfaki, seorang pejabat pemerintah dari Sudan, mengatakan, ada banyak diskusi tentang proteksionisme perdagangan. “Proteksionisme perdagangan digunakan untuk diadopsi oleh negara-negara berkembang. Tapi sekarang ini ditegakkan oleh beberapa negara maju, sehingga membawa efek spillover yang lebih besar. Beberapa orang percaya itu karena negara-negara maju merasa terancam oleh kebangkitan Cina, ”katanya.

Ada kesepakatan umum bahwa aturan yang mengatur sistem perdagangan global perlu direvisi untuk mengatasi kekhawatiran tentang sistem ekonomi yang disponsori negara Cina. Sementara AS paling vokal dalam keberatan-keberatannya, keprihatinan mendasar dibagikan oleh Uni Eropa, Jepang dan banyak negara lainnya.

Namun, para delegasi setuju, perwakilan dari dua ekonomi terbesar dunia itu pertama-tama harus melanjutkan pembicaraan satu sama lain. Namun peluang untuk pembicaraan semacam itu telah berlalu dengan cepat. Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, tidak dapat bertemu perunding dagang Cina, Liu He di Bali, karena Liu tidak menghadiri pertemuan tahunan IMF.

Postcomended   Beijing dan Berlin Bangkangi AS, Namun Perusahaan-perusahaan Eropa Goyah

Kepala ekonom JP Morgan Cina, Zhu Haibin, mengatakan, dia merasa kemistri antara Cina dan AS “pasti tidak ada” pada saat ini. “Jelas ada kurangnya kepercayaan, dan masing-masing berbicara dalam bahasanya sendiri,” katanya, sambal memprediksi bahwa tidak akan ada pengurangan ketegangan dalam 3-6 bulan ke depan.***

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top