Ekonomi

IMF Melihat Kondisi Saat Ini Mirip Jelang Krisis Keuangan Global

Berita - IMF: Utang Global Mencapai Rekor Tinggi - Harian Analisa Harian Analisa - Analisadaily IMF: Utang Global Mencapai Rekor Tinggi

Berita – IMF: Utang Global Mencapai Rekor Tinggi – Harian Analisa Harian Analisa – Analisadaily IMF: Utang Global Mencapai Rekor Tinggi

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, saat ini ancaman terhadap sistem keuangan global meningkat. Harga aset, kata IMF, berisiko melonjak dengan cara yang mengingatkan kita pada tahun-tahun sebelum krisis keuangan global. Perlukan Indonesia setakut 1998? Menurut Gubernur Bank Indonesia Maret lalu, Indonesia kini sudah berada di “alam” rupiah, sehingga sudah lebih siap menghadapi krisis moneter (krismon).

Pada Rabu (18/4/2018), dalam edisi terbaru Laporan Stabilitas Keuangan Global, IMF mengatakan seperti dilaporkan situs Bloomberg, selama enam bulan terakhir ini, risiko penurunan stabilitas keuangan dunia telah agak meningkat.

“Kerentanan keuangan yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun dengan tingkat yang sangat rendah dan volatil (bergejolak), dapat membuat jalan di depan bergelombang dan bisa menempatkan pertumbuhan pada risiko,” kata lembaga yang berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS) ini.

IMF mengingatkan agar para Investor tidak terlena dengan kenyamanan yang mereka dapat selama ini. Misalnya saja, kata IMF, pasar tidak mengalami gangguan besar dari aksi jual tajam yang mengguncang pasar Februari lalu.  

“Valuasi aset berisiko masih membentang, dengan munculnya sejumlah dinamika siklus kredit tahap akhir, ini mengingatkan pada periode pra-krisis,” kata mereka. “Ini membuat pasar terkena pengetatan tajam dalam kondisi finansial, yang dapat menyebabkan pelepasan mendadak premi berisiko dan repricing aset berisiko.”

IMF juga mengatakan, harga “berbusa” di berbagai aset. Harga saham relatif tinggi terhadap fundamental di seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat (AS), kata lembaga pengutang ini. Valuasi obligasi korporasi, sebut IMF, juga meningkat, dengan tanda-tanda permintaan berlebih untuk leveraged loan dari perusahaan dengan peringkat kredit rendah.

Koreksi Tajam

Peringatan itu datang ketika menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 189 negara anggota IMF bertemu di Washington untuk pertemuan musim semi tahunan. Pasar saham global mengalami koreksi tajam pada akhir Januari dan awal Februari di tengah keraguan tentang kekuatan ekonomi global, dengan saham AS turun lebih dari 10 persen.

“Mengelola kembalinya suku bunga secara bertahap ke tingkat normal akan menjadi tugas ‘rumit’ yang memerlukan komunikasi yang cermat dari bank sentral dan pembuat kebijakan untuk mengurangi risiko dari pengetatan tajam kondisi keuangan,” ujar Tobias Adrian, direktur moneter dan modal IMF -pembelian departemen, dalam kata pengantar yang menyertai laporan tersebut.

Peningkatan ketegangan perdagangan baru-baru ini telah menyebabkan “kegugupan” di antara para investor, “Dan eskalasi langkah-langkah proteksionis yang lebih luas pada akhirnya dapat berdampak pada ekonomi global dan stabilitas keuangan global,” tambahnya.

IMF mencatat bahwa investor saat ini tidak menetapkan harga dalam risiko inflasi yang lebih tinggi-tajam selama beberapa tahun ke depan, sehingga meninggalkan pasar rentan terhadap “kejutan inflasi”.

Adrian juga mengatakan, munculnya cryptocurrency menjadi sumber baru kerentanan terhadap sistem keuangan. Risiko, kata Adrian, dapat timbul dari posisi leveraged yang diambil oleh investor dalam aset-aset yang hanya mengambil bentuk digital ini. “Ada juga ‘kelemahan infrastruktur’ dalam pertukaran cryptocurrency, dan risiko untuk terjadinya penipuan dan volatilitas (pasar yang) tinggi,” katanya.

Penting bagi negara-negara, kata IMF, untuk menindaklanjuti reformasi yang mereka lakukan setelah resesi di masa lalu, sementara sektor perbankan telah menjadi lebih tangguh sejak krisis keuangan.

Indonesia Lebih Siap

Sementara itu Gubernur BI, Agus Martowardoyo, pada Maret 2018 lalu mengatakan, Indonesia saat ini telah menjadi lebih kuat serta telah siap menghadapi kondisi-kondisi yang terjadi di global. Hal ini dikatakan Agus terkait pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini.

Dilaporkan situs VIVA, Agus mengatakan, faktor-faktor yang mendukung stabilitas Indonesia itu antara lain, jika dulu semua korporasi bisa pinjam ke luar negeri, dengan alasan mumpung lagi murah, tiga tahun terakhir ini sudah diatur,

Dampaknya, utang luar negeri yang dilakukan korporasi saat ini sudah sehat dan teratur. Likuiditasnya menjadi terjaga. Faktor lainnya kata Agus, transaksi menggunakan valuta asing telah dibatasi; korporasi yang menjual produk dalam valuta asing telah dilarang. “Kita semua ini (sekarang) ada di alam rupiah. Jadi, tidak perlu khawatir,” ujarnya.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top