Ekonomi

Indonesia Bersiap Ekspor Tempe

Share the knowledge

 

Tempe (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=PhUd0zeSMZU)

Tempe (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=PhUd0zeSMZU)

Indonesia bersiap mengekspor tempe ke beberapa negara, dengan keyakinan telah memenuhi persyaratan ekspor. Selama ini, upaya ekspor tempe selalu terkendala jarak dan waktu yang membuat tempe busuk begitu sampai di negara tujuan.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, Kamis (31/1/2019) mengatakan, pihaknya ingin mengekspor tempe. “Sekarang kami (sedang) mencari teknologi pangan untuk bisa mengawetkannya,” kata Lukita, dalam satu acara di di Bekasi, Jawa Barat.

Menteri mencatat bahwa ia akan bertemu dengan Asosiasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) untuk membahas rencana tersebut. Sementara itu, Ketua Gakoptindo, Ayip Syarifuddin, mengatakan, asosiasi akan menyiapkan produk untuk diekspor.

“Kami telah memenuhi persyaratan untuk ekspor. Kami siap dalam hal kualitas dan kuantitas,” tambahnya. Menurut Syarifuddin, asosiasi tersebut akan menarget negara-negara yang populasi orang Indonesia-nya cukup besar seperti Hong Kong, Korea Selatan, dan negara-negara Timur Tengah.

Saat ini, pemasaran makanan tradisional di luar negeri dibuat secara sporadis dan belum mengoptimalkan kualitasnya. “Kami sudah berusaha ekspor, tetapi tempe membusuk karena perjalanan panjang,” jelasnya.

Postcomended   Putra Mahkota Saudi Sebut Khashoggi Anggota Ikhwanul Muslimin

Dia mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyediakan teknologi untuk mengawetkan makanan tradisional. “Sekarang bisa dipertahankan hingga 306 hari; hingga satu tahun, tergantung kemasannya,” kata Syarifuddin.

Asosiasi akan meminta bantuan pemerintah untuk memasarkan produk mereka. “Kami menargetkan untuk mengekspor 50 kontainer tempe per bulan,” katanya.

Kedelai Impor

Meskipun merupakan makanan tradisional khas Indonesia, namun bahan baku pembuatan tempe Indonesia saat ini masih didominasi kedelai impor dari Amerika Serikat (AS). Gakoptindo beralasan, seperti dilansir laman Bisnis, selain kualitas dan rasa, harga kedelai impor juga lebih ramah kantong pengusaha.

Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syaifuddin, mengilustrasikan 1 kg kedelai impor dapat dijadikan tempe seberat 1,8 kg. Sementara untuk 1 kg kedelai lokal hanya bisa dijadikan 1,4 kg tempe.

Postcomended   Jack Ma Sarankan Cina Garap Asia Tenggara dan Afrika

Laman Antaranews melaporkan, data The US Soybean Export Council (USSEC) menyebutkan, sekitar 92-93 persen total kedelai yang diimpor Indonesia dari AS diserap untuk industri tempe. Indonesia mengimpor 2,5 juta metrik ton kacang kedelai dari AS. Sisanya untuk kecap, serta olahan lain seperti tahu dan minuman.

Direktur Regional USSEC Asia Tenggara, Timothy Loh, tahun lalu mengatakan, 2,5 juta metrik ton kacang kedelai dari AS ini setara dengan 95 persen dari seluruh total kedelai yang diimpor Indonesia.

Dengan kondisi ini, Indonesia menjadi salah satu pasar ekspor penting bagi AS untuk komoditas kacang kedelai. Pada 2017, Indonesia menjadi pengguna terbesar ketiga kacang kedelai AS. “Produsen tempe dan tahu telah mencoba, dan membandingkan dengan negara lain tentunya, bahwa kualitas kedelai AS lebih baik, dari segi warna, dan lebih mudah diolah,” kata Timothy.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top