Sir Thomas Stamford Raffles | My Brain is My encyclopedia My Brain is My encyclopedia - WordPress.com Di bagian selatan dan timurnya terdapat Selat Singapura yang memisahkan negara ini dari Indonesia. Sir Thomas Stamford Raffles ...

Sir Thomas Stamford Raffles | My Brain is My encyclopedia My Brain is My encyclopedia – WordPress.com Di bagian selatan dan timurnya terdapat Selat Singapura yang memisahkan negara ini dari Indonesia. Sir Thomas Stamford Raffles …

Pelajaran geografi di sekolah-sekolah Indonesia –setidaknya di zaman Orde Baru– yang “membanggakan” Singapura sebagai “pelabuhan transito”, tampaknya harus diubah. Kini, Indonesia mulai memanfaatkan infrastruktur sendiri untuk aktivitas ekspor dan impor langsung ke dan dari wilayah tujuan, tanpa harus ke Singapura dulu. Keyakinan Lee Kuan Yew tentang alasan Thomas Stamford Raffles di abad ke-19 memilih Singapura sebagai titik strategis perdagangan dunia di ujung selatan Asia, harus dibongkar, meskipun terlalu lama untuk menyadarinya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan, Indonesia kini mulai mengekspor langsung produk manufakturnya ke Amerika Serikat (AS), tanpa melalui Singapura, atau disebut “direct call”. Nilai ekspor perdana langsung ke AS ini senilai 11,98 juta dolar AS, yang berasal dari 32 industri manufaktur.

“Seluruhnya produk manufaktur, bukan komoditas mentah. Pengiriman sekarang ini sebanyak 4.300 TEUs. Ke depannya, kami terus dorong untuk semakin bertambah,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto, Rabu (16/5/2018).

Produk nonmigas yang diekspor itu meliputi alas kaki (50%), garmen (15%), produk karet, ban, dan turunannya (10%), produk elektronik (10%), selebihnya (15%) berupa kertas, ikan beku, dan suku cadang kendaraan.

Postcomended   Soal Legalisasi Ganja yang Berlarut-larut

Pengiriman langsung ke AS ini kata Airlangga, bisa lebih cepat sampai, dengan efisiensi biaya logistik mencapai 20 persen, alias lebih murah 300 dolar AS untuk setiap kontainernya. “Kalau dulu lewat Singapura, shipping time kira-kira mencapai 31 hari. Sedangkan dengan direct call hanya 23 hari. Sehingga membantu time to market lebih cepat,” ungkap Airlangga.

Keberhasilan ekspor langsung ke AS ini rencananya akan disusul ekspor langsung ke Rotterdam, pelabuhan terbesar dan tersibuk di Eropa. “Kalau kapal ini bisa langsung dari Jakarta (ke Rotterdam), ini semakin bersaing biayanya,” kata Airlangga. Jenis produk yang rencananya diekspor ke Eropa antara lain minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO) dan turunannya, juga tekstil dan produk tekstil serta alas kaki.

Pada Juli tahun lalu, dilansir Detik, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut nilai ekspor ke Singapura dari tahun ke tahun terus menunjukan tren penurunan. Selama puluhan tahun, Singapura selalu masuk lima negara “tujuan” ekspor non migas terbesar Indonesia. Menyedihkannya, produk ekspor tersebut hanya transit di Singapura, untuk kemudian diekspor lagi ke negara tujuan akhir.

Turunnya ekspor ke negara tetangga tersebut terjadi karena ekspor langsung Indonesia tanpa melalui Singapura (transit), semakin bertambah. Hal ini kata Kasan terkait fungsi infrastruktur pelabuhan di Indonesia yang semakin diperbaharui. “Kayak Tanjung Priok diperluas sehingga kapal-kapal besar bisa masuk, mengurangi transit feeder Jakarta-Singapura, atau direct export jauh lebih besar, ini sesuatu yang positif,” kata Kasan.

Postcomended   #mudik2018 Yogyakarta Full Agenda Sepanjang Ramadan dan Lebaran

Ekspor ke Singapura ini kata dia, akan semakin turun jika pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia sudah terbangun, sehingga bisa langsung melakukan ekspor tanpa melewati negara tersebut. “Kalau di ujung Sumatera sudah ada pelabuhan baru yang dibesarkan, kita bisa melupakan Singapura. Maksudnya kita bisa semakin banyak direct export,” ujar Kasan.

Praktik direct call ini boleh dibilang seperti melengkapi pembangunan Pusat Logistik Berikat (PLB). PLB adalah semacam gudang raksasa untuk transit barang-barang ekspor-impor, sebelum didistribusikan ke masyarakat atau negara/wilayah tujuan akhir.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi, pada 2 April lalu mengatakan, barang-barang yang dulu disimpan di Singapura sekarang dapat disimpan di PLB dulu dengan biaya lebih rendah. “Seorang pengusaha dapat memotong biaya hingga Rp 7,18 juta per kontainer,” kata Heru, dilansir Jakarta Post.

Sabda Raffles
Mengutip tulisan Bobby Andhika di Kompasiana, seorangi praktisi transportasi laut, bahwa Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, telah secara cekatan membaca pernyataan Sir Thomas Stamford Raffles, pendiri Singapura. Raffles mengatakan bahwa Singapura adalah ujung selatan Asia. Ketika dunia berputar dari Barat ke Timur, perairan Pasifik menyapu pantai Singapura dan Selat Johor.

Kata-kata Raffles ini diterjemahkan Lee dan para pembantunya dengan bekerja keras, sehingga menciptakan pelabuhan Singapura sebagai pelabuhan kontainer nomor 2 tersibuk di di dunia. Lucunya, volume ekspor-impor Singapura sendiri nyaris tidak ada. Hampir seluruhnya berasal dari pelabuhan-pelabuhan pengumpan di negara-negara sekitarnya –terutama Indonesia.

Postcomended   CEO Google: Kami Tidak Kembangkan AI untuk Senjata

Masih menurut Bobby, jika melihat data lansiran IHS Global Insight World Trade Services, Indonesia seharusnya sudah bisa menyalip Singapura. Data ini menyebutkan, pada 2010, Indonesia menempati posisi ke-8 negara peng-ekspor dengan menggunakan container, dengan jumlah 3 juta TEUS (satuan ekuivalen dengan kontainer 20 kaki) dan juga peringkat ke-8 untuk negera pengimpor dengan 2.5 juta TEUS.

Seharusnya angka tersebut sudah lebih dari cukup untuk menempatkan Indonesia, yang dahulu mengaku bangga berada di posisi dua benua (Asia-Australia), pada posisi strategis lalu lintas perdagangan dunia. (***/antara/detik)

Share the knowledge