Berapa lama sebenarnya Indonesia dijajah Belanda? Tiga setengah abad, atau hanya empat tahun? Salah satu yang merasa tidak terima bahwa Indonesia dijajah hingga 3,5 abad adalah mahasiswa sejarah legendaris, Soe Hok Gie. Tapi apakah itu penting, ketika Belanda melalui VOC berhasil mengeruk kekayaan rempah-rempah Nusantara, dan bahwa sepanjang masa itu Belanda semakin berperan memecah belah kerajaan-kerajaan di Nusantara yang memang “gemar” konflik.

Kehadiran Belanda di Nusantara awalnya lebih karena tertarik untuk mengeruk kekayaan alamnya. Itulah alasan mengapa Kongsi Dagang Belanda alias VOC, melempar jangkar di perairan Nusantara. Ini juga yang telah membuat Belanda melahirkan pemimpin-pemimpin tangan besi di negeri kepulauan ini.

Mereka perlu memastikan ada jalan mulus untuk transportasi hasil Bumi sehingga melahirkan fragmen sejarah pembangunan Jalan Raya Pos yang memakan korban jiwa ribuan warga setempat –nyaris bagai Gubernur Jendral Hindia Belanda kala itu, Herman Willem Daendels, melakukan holokaus. Atau memaksa rakyat Nusantara melakukan tanam paksa (cultuurstelsel) di era Gubernur Jendral Johannes van den Bosch.

Semua itu dilakukan Belanda kala itu demi hasil Bumi yang diubah menjadi tumpukan Gulden, dan dipercaya pada abad itu sanggup membangun kota-kota di Belanda sehingga menjadi seperti sekarang ini. Ini pada dasarnya diakui Belanda sendiri setelah kolonialismenya memasuki abad ke-20 dengan menerapkan Politik Etis atau politik balas budi.

Segala penderitaan rakyat Nusantara, yang telah dengan fasih dikatakan dijajah Belanda selama tiga setengah abad ini,  boleh jadi terjadi juga karena adanya konsesi dari kalangan bangsawan kerajaan –yang banyak terdapat di Nusantara ketika itu– terhadap VOC. VOC waktu itu, menurut Sri Margana, Sejarahwan Universitas Gajah Mada (UGM) seperti dilansir Detikcom, bagai  “diundang” oleh para raja yang “gemar” berperang tersebut, misalnya untuk menjadi penengah.

Ini menurut Sri mirip dengan bagaimana Indonesia saat memasuki krisis ekonomi malah menawarkan diri pada Bank Dunia dan IMF untuk diintervensi, sehingga yang terjadi adalah “invited colonialism”. Inilah kata Sri yang membuat VOC pada masanya (1600-an) bisa menguasai wilayah Indonesia yang luas, dimana ketikà itu belum ada istilah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Postcomended   13 Juli dalam Sejarah: Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang Dipimpin Sjafruddin Prawiranegara Berakhir

Pada waktu itu, kata Sri, yang ada hanya kerajaan-kerajaan. Saat masuk ke wilayah Nusantara, VOC membuat perjanjian dan kerjasama dagang dengan kerajaan-kerajaan tersebut, yang menjadi jalan masuk bagi Belanda untuk menguasai wilayah-wilayah ketika kerajaan-kerajaan itu selalu bertikai.

Contohnya adalah ketika penerus Amangkurat I yang digulingkan Trunojoyo dari Madura, yakni Adipati Anom, meminta bantuan VOC. “Adipati Anom, penerus Raja Amangkurat itu adalah raja pertama yang dipilih dan dilantik Belanda,” ujar doktor sejarah lulusan Universitas Leiden Belanda ini, dalam satu seminar sejarah di Kemendikbud tahun 2015, dilaporkan Detikcom.

Ada barang, ada uang. Para bangsawan yang meminta bantuan Belanda ini tentu memberi imbalan. Ketika Trunojoyo berhasil ditangkap, Adipati Anom memberi konsesi dagang kepada VOC hingga memberikan wilayah pesisir Jawa.

Contoh lain adalah Pakubuwono II yang lari ke Jawa Timur , lalu meminta bantuan VOC agar takhtanya di Jawa Tengah dikembalikan dengan iming-iming memberikan suatu wilayah di Jawa Timur. Hal sama terjadi di Sulawesi antara Aru Palaka versus Raja Bugis, atau antara kerajaan Ternate dan Tidore, dan di Blambangan, Banyuwangi, yang pernah dijajah kerajaan Bali.

Postcomended   Taylor Swift dan The Beatles pun Menyerah kepada Spotify

Semua konsesi itu oleh VOC dibuat menjadi resmi, hitam di atas putih, dan ada dokumentasinya. Jadi, kata Sri, Semua arsip perjanjian konsesi dagang dengan kerajaan-kerajaan Nusantara itu didapat dengan cara yang legal, bertanda tangan, dan dibukukan hingga 7 seri. Arsipnya sekarang tersimpan di Arsip Nasional dan Belanda.

Inilah yang tampaknya melahirkan istilah bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Tidak tepat betul, tapi tidak salah juga karena faktanya Belanda berhasil mempertahankan keberadaannya di Nusantara selama waktu tersebut, meskipun tidak di semua wilayah.

Pemerhati sejarah, Hendi Jo, di akun Facebook-nya, mengatakan, hingga 1942, ketika Jepang masuk, Belanda paktis tidak bisa sepenuhnya menguasai wilayah Nusantara. Di beberapa kawasan seperti Banten, Aceh dan sebagian wilayah Sumatera lainnya, bahkan secara de facto Belanda hanya menguasai kawasan kota semata. Sedangkan kawasan pelosok dan pedalaman, tetap dipimpin oleh para pemberontak.

“Bahkan menurut sejarawan Universitas Padjajaran, Nina Lubis, hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Bali dan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda,” ujarnya.

Postcomended   13 Agustus dalam Sejarah: Telepon Umum Koin Dipatenkan

Hendi juga mengutip obrolan antara Soe Hok Gie dengan salah seorang dosen sejarahnya. Dalam obrolan itu Soe mengatakan tidak setuju bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Aktivis dan mahasiswa sejarah itu menyebut angka tersebut hanya “dramatisasi politik” Soekarno untuk membakar jiwa rakyat Indonesia.

Namun 3,5 abad abad atau tidak, bagaimanapun Belanda berhasil bercokol di wilayah Nusantara selama itu, merusak atau bahkan juga memperbaiki tatanan hidup rakyat Nusantara, hingga benar-benar bersedia hengkang pada 1942 ketika Jepang masuk Indonesia, lalu masuk kembali dengan membonceng sekutu pada 1945, dan lalu secara sepihak menganggap baru memberikan kedaulatan kepada Indonesia pada 1949.***

 

Share the knowledge