Bill Gates, Warren Buffet, Mark Zuckerberg (http://images.huffingtonpost.com/2015-10-21-1445465167-4701104-list_of_billionaires0.png)

Sensus yang dilakukan Wealth X-Billionaire menunjukkan ada lebih dari 2.300 miliarder di seluruh dunia pada tahun 2016. Angka ini turun 3,1 persen dibanding 2015. Kebanyakan dari mereka tinggal di salah satu dari lima negara ini: Amerika Serikat (AS), Cina, Jerman, Rusia, dan Inggris. Apakah heran jika ternyata Indonesia masuk dalam 30 besar negara dengan jumlah miliarder terbanyak ini.

Menurut sensus tersebut, seperti dilansir CNBC pada 28 September 2017, AS adalah satu-satunya negara dalam daftar sembilan besar yang mengalami peningkatan populasi miliarder pada tahun 2016. Total kekayaan bersih semua miliarder AS meningkat menjadi 2,6 triliun dolar AS. Nilai ini setara dengan kekayaan miliarder gabungan Eropa dan Timur Tengah.

Postcomended   Sekali Dayung, Jack "Alibaba" Ma Dapat Tokopedia dan Digaet Pemerintah Indonesia

Sensus tersebut menjelaskan bahwa kenaikan kekayaan bersih miliarder AS didukung oleh kondisi dolar dan sektor teknologi yang menguat di negara ini. Beberapa miliarder AS tersebut antara lain pemilik Microsoft, Bill Gates; CEO Amazon.com, Jeff Bezoes; Warren Buffet, CEO Berkshire Hathaway; dan Mark Zuckerberg, CEO Facebook.

kredit: CNBC

Sementara itu, jika melihat daftar 30 besar, Indonesia berada di posisi 24, dengan jumlah miliardernya mencapai 22. Jumlah ini sama dengan jumlah miliarder di Australia, Belanda, dan Cile, namun dengan jumlah kekayaan total berbeda.

Postcomended   Facebook Diblokir di Cina, Zuckerberg Diam-diam Rilis "Colourfull Balloons"

Negara Asia tenggara yang berada di posisi lebih tinggi dari Indonesia adalah Singapura (di posisi ke-15 dengan jumlah miliarder 37 orang) dan Thailand (di posisi ke-20 dengan jumlah miliarder 25 orang).

Secara keseluruhan, sensus mencatat bahwa 2016 adalah “tantangan bagi populasi miliarder global”. Jumlah miliarder turun 3,1 persen menjadi 2.397 orang. Kekayaan gabungan mereka juga terpengaruh: turun 3,7 persen menjadi 7,4 triliun dolar AS.

Sensus tersebut menjelaskan, penurunan global ini terjadi akibat peningkatan ketidakstabilan geopolitik, dan juga menunjukkan hilangnya momentum penciptaan kekayaan.***