Internasional

Ini Kata Media Asing tentang Bom Bunuh Diri Sekeluarga di Surabaya

Three suicide bomb attacks in Surabaya, no Malaysian casualties theSundaily An Indonesian anti-terror policeman stands guard at the blast site following a suicide bomb outside a church in Surabaya on May 13, 2018. — AFP

Three suicide bomb attacks in Surabaya, no Malaysian casualties theSundaily An Indonesian anti-terror policeman stands guard at the blast site following a suicide bomb outside a church in Surabaya on May 13, 2018. — AFP

Kantor berita Reuters, menulis, Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, telah melihat kebangkitan kembali militansi, dalam hal ini diilhami Negara Islam Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Sementara itu BBC melaporkan, meningkatnya ketidaktoleranan dalam beberapa tahun terakhir di negara mayoritas Muslim yang toleran ini, membuat kelompok-kelompok minoritas di sini semakin tidak nyaman. Sedangkan Sydney Morning Herald menulis, umat Kristen membentuk sekitar 9% dari 260 juta orang yang tinggal di negara mayoritas Muslim ini.

Dilansir Reuters, satu keluarga yang terdiri dari enam orang, melancarkan serangan bunuh diri terhadap umat Kristen yang sedang menghadiri kebaktian Minggu di tiga gereja di kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya. Laporan terkakhir menyebutkan, 13 orang tewas dan 40 orang terluka.

Polisi setempat mengatakan, keluarga yang melakukan serangan pada Minggu (13/5/2018) ini merupakan bagian dari 500 simpatisan Negara Islam (Islamic State/IS) yang telah kembali dari Suriah.

Postcomended   Raih 83,3% SMS, Nama "Gelora Bandung Lautan Api" Diresmikan (1)

“Sang suami mengemudikan mobil, sebuah Avanza, yang berisi bahan peledak dan menabrakkan ke pintu gerbang di depan gereja,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Frans Barung Mangera, kepada wartawan di markas polisi daerah di Surabaya.

Istri dan dua putrinya, kata Mangera, terlibat dalam serangan terhadap gereja kedua. Wanita berjilbab ini dengan kedua putinya, tulis Reuters, memasuki halaman gereja yang sempat dihentikan oleh penjaga keamanan sebelum bom meledak.

“Di gereja ketiga, dua anak lainnya mengendarai sepeda motor dengan bom di pangkuan mereka,” kata polisi. Kedua anak perempuan menyertai ibunya itu berusia 12 dan 9, sementara dua lainnya, yang dianggap sebagai anak laki-laki mereka, berusia 18 dan 16 tahun.

IS mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, dalam sebuah pesan yang disampaikan di kantor berita Amaq, tulis Reuters. Dikutip media Inggris, Telegraph, melalui aplikasi perpesanan (messaging) Telegram, IS pada Minggu sore menyatakan, “Tiga serangan syahid membunuh 11 dan melukai setidaknya 41 di antara penjaga gereja dan orang Kristen.” Namun pihak kepolisian, tulis Telegraph, membantah keterlibatan IS dalam peristiwa ini.

Postcomended   Pemerintah Terbitkan Status Darurat Tumpahan Minyak di Balikpapan

Serangan itu sebut Reuters, terjadi beberapa hari setelah para tahanan militan Islam membunuh lima anggota pasukan elit kontra-terorisme selama 36 jam kebuntuan di sebuah penjara keamanan tinggi di pinggiran ibukota, Jakarta.

Di hari sama, BBC melaporkan, polisi juga tengah disibukkan perburuan anggota JAD di Cianjur, Jawa Barat. Pada peristiwa ini, empat tersangka tewas, dan menangkap dua orang lainnya.
Reuters mengutip pernyataan Direktur Komunikasi Badan Intelijen Indonesia (BIN), Wawan Purwanto, bahwa serangan gereja tersebut kemungkinan terkait dengan penyanderaan sandera penjara. “Target utama masih otoritas keamanan, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ada alternatif (target lain) jika target utama diblokir,” katanya.

BBC menyebutkan, pemboman tiga gereja ini adalah yang paling mematikan di Indonesia sejak 2005 (bom Bali), dan merupakan serangan terburuk yang terkait dengan IS di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, masih menurut BBC, perempuan telah menjadi semakin aktif di sel-sel teroris di Indonesia, dan ini akan menjadi pertama kalinya anak-anak digunakan. Indonesia, sebut BBC, di sisi lain telah secara luas dipuji atas program anti-terorisme yang berkelanjutan setelah peristiwa Bom Bali 2002.

Postcomended   Dilema Jomblo dan Nikah Muda

Program ini merupakan kombinasi penangkapan dan pembunuhan yang berhasil di samping program deradikalisasi yang berfokus pada perubahan pola pikir dan memberikan mata pencaharian alternatif bagi para teroris yang dibebaskan. Tetapi kebangkitan kelompok Negara Islam di luar negeri telah menyegarkan jaringan jihad yang longgar.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top