Inneke Koesherawati dan suaminya, terpidana kasus suap Bakamla

Nama mantan bintang film panas era 1990-an, Inneke Koesherawati (42), disebut-sebut ikut diamankan KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan di lembaga pemasyarakatan (lapas) Sukamiskin Bandung, Jumat (20/7/2018) dini hari. Selain menangkap sang Kalapas, KPK melakukan penggeledahan terhadap kamar suami artis berjilbab ini, serta menyegel kamar dua koruptor lainnya karena yang bersangkutan tidak berada di selnya. KPK disebut melakukan OTT di sana berdasarkan laporan masyarakat.

Dalam OTT tersebut, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan enam orang. Sabtu (21/7/2018), keenamnya sudah berada di gedung KPK untuk proses penentuan status hukum. Seorang kru KPK membenarkan ihwal penangkapan keenamnya termasuk Inneke. Namun dia mengaku belum mengetahui apa peran Inneke.

Saat dikonfirmasi, Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah, mengisyaratkan bahwa memang ada narapidana korupsi dan istrinya yang diamankan tim KPK.

Inneke adalah istri Fahmi Darmawansyah, pengusaha yang pada 2016 lalu divonis hukuman 2,8 tahun dan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Ia terbukti memberikan suap kepada pejabat Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Setelah vonis jatuh, suaminya dipenjara di Lapas Sukamiskin, yang memang merupakan lapas spesialis koruptor. Korupptor yang dipenjara di sini antara lain Anas Urbaningrum, Tubagus Chaeri Wardana, Andi Malarangeng (sudah bebas), Setya Novanto, hingga manta walikota Bandung Dada Rosada

Tim penindakan KPK berada di Lapas Sukamiskin dalam rangka OTT terhadap Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen. Namun dalam operasi tersebut, suami Inneke itu ikut diamankan. Direktur Utama PT Merial Esa ini diduga menyuap Wahid.

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, mengatakan, OTT terhadap Kalapas Sukamiskin terkait dugaan suap fasilitas dan izin ke luar lapas para napi. “Kalau di lapas apalagi modusnya selain izin keluar untuk berobat, mendapatkan tempat lebih baik, (serta) fasilitas lebih di ruang sel,” kata Alexander.

Dalam kesempatan OTT terhadap Kalapas Sukamiskin itu, KPK mengamankan barang bukti uang tunai rupiah dan valas, serta kendaraan, juga menyegel sel Fuad Amin dan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan. Sejumlah lemari dokumen juga digeledah dan disegel.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, penyegelan terhadap kamar Fuad Amin dan Wawan dilakukan karena Fuad Amin dan Wawan tidak berada di dalam kamar selnya. Menurut Laode dalam jumpa pers Sabtu sore, KPK masih belum mengetahui berada dimana mereka saat ini.

Postcomended   KPK Lelang Mobil Sitaan dari Para Koruptor

Fuad Amin pernah menjabat Ketua DPRD Bangkalan dan juga Bupati Bangkalan, Dia ditangkap KPK atas kasus suap gas Bangkalan. Sedangkan Wawan yang adalah adik mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah –yang kini juga meringkuk di penjara untuk kasus korupsi– terbukti menyuap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, dalam sengketa pilkada Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten.

Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, di Jakarta, Sabtu (21/7/2018), mengatakan, “Sabtu pagi ini yang dapat kami konfirmasi terlebih dahulu, benar tadi menjelang tengah malam tim penindakan KPK menjalankan tugasnya di Sukamiskin, Bandung.” Menurut Laode, KPK melakukan OTT setelah mendapat informasi dari masyarakat. “Setelah kami ‘cross check’ dan ada bukti awal, maka sekitar enam orang diamankan, termasuk pimpinan Lapas dan pihak swasta,” tambah Syarif.(***/detikcom/tempo/okezone/tempo/merdeka/CNNindonesia)

 

 

(CNN)

https://www.viva.co.id/showbiz/gosip/1056407-inneke-koesherawati-dari-bintang-panas-yang-hijrah-hingga-diciduk-kpk

 

 

 

Selain mengamankan enam orang, KPK juga mengamankan uang tunai. “Uang tunai rupiah dan valas yang sedang dihitung serta kendaraan juga diamankan sebagai barang bukti awal. Itu dulu yang bisa disampaikan,” ungkap Syarif.
Keenam orang tersebut telah dibawa ke Kantor KPK di Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Seperti ketentuan di KUHAP, KPK diberikan waktu paling lama 24 jam sebelum penentuan status hukum pihak-pihak yang diamankan,” ungkap Syarif.
Hasilnya akan disampaikan melalui konferensi pers. (okezone)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membenarkan Kepala Lembaga Pemasyarakatan atau Kalapas Sukamiskin Wahid Husen ikut terciduk dalam serangkaian operasi tangkap tangan (OTT) di Lapas Sukamiskin, Bandung. “Sekitar enam orang, termasuk Kalapas dan pihak swasta dibawa ke KPK,” kata Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif, Sabtu, 21 Juli 2018.
Baca: Wapres JK: Pelesiran Napi Sukamiskin Melanggar Prosedur
Laode mengatakan belum bisa memerinci perkara yang menyeret Kalapas Sukamiskin. Yang pasti, kata dia, KPK juga menyita uang tunai dan valas, serta sebuah mobil untuk barang bukti awal. Menurut Laode, KPK memiliki waktu paling lama 24 jam sebelum penentuan status hukum orang-orang yang ditangkap dan dibawa ke KPK.

Postcomended   Harta Korupsi Djoko Susilo yang Belum Disita Rp 51 Miliar

Ads by Kiosked

Sukamiskin memang merupakan lapas khusus narapidana kasus korupsi. Beberapa narapidana perkara suap dan korupsi ditahan di sana.

Sebut saja terpidana kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto. Kemudian ada terpidana korupsi proyek Wisma Atlet Hambalang, Anas Urbaningrum. Terpidana korupsi wisma atlet, M. Nazaruddin juga ditahan di sana.
Selain itu, ada terpidana kasus korupsi proyek pengadaan satelit monitoring dan drone di Badan Keamanan Laut (Bakamla), Fahmi Darmawansyah, yang divonis 2 tahun 8 bulan penjara. Belakangan perkara ini menyeret anggota DPR dari Partai Golkar, Fayakhun Andriadi.
Simak juga: Napi Sukamiskin Pelesiran, Begini Teori Direktur Jenderal Pemasyarakatan
Sementara itu, Inspektur Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Aidir Amin Daud juga membenarkan OTT di Lapas Sukamiskin oleh KPK. “Kami tentu menghormati proses hukum yang dilakukan KPK dan tentu akan membantu semua proses yang diperlukan agar masalah ini bisa selesai secara tuntas,” kata Aidir. Kementerian, kata Aidir, akan membantu KPK dalam kasus OTT Kalapas Sukamiskin tersebut.(tempo)

 

Jump to search
Inneke Koesherawati
220px
Lahir
13 Desember 1975 (umur 42)
Jakarta, Indonesia
Pekerjaan
model
aktris
presenter
Tahun aktif
1991 – sekarang
Pasangan
Fahmi Darmawansyah (2004 – sekarang)
Anak
Siti Rahlia Ibrahim
Muhammad Rahlil Ibrahi
Inneke Kusherawati (lahir di Jakarta, 13 Desember 1975; umur 42 tahun) adalah bintang film dan sinetron Indonesia. Terkenal sebagai bintang film panas pada tahun 1990-an, namun akhirnya memutuskan untuk memakai jilbab tahun 2001. Pada tahun 2013 ia menyatakan mundur dari pemeran layar lebar dan sinetron yang menyita banyak waktu, karena ingin mengurus suami dan anak-anak, tetapi ia masih mau mempertimbangkan tawaran sebagai bintang tamu acara temuwicara (talkshow) atau peragaan busana

Inneke lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara. Kedua orangtuanya berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. Dalam darah Inneke mengalir keturunan Belanda dari pihak ayahnya. Inne, demikian panggilan akrabnya, mengawali kariernya dengan mengikuti berbagai lomba di Jakarta. Kesuksesannya bermula saat dirinya mengikuti ajang GADIS Sampul 1990 dan berhasil meraih predikat Juara Berbakat. Inne pun akhirnya memasuki sekolah model milik peragawati senior, Okky Asokawati, OQ Mo-delling. Hal ini dilakukannya agar mempunyai dasar yang kuat untuk terjun dalam dunia modeling.
Nasib berkata lain, sejak diajak temannya untuk menjadi figuran dalam film “Lupus 4”, Inne pun beralih haluan ingin menekuni dunia seni peran sepenuhnya. Debut film-nya adalah “Diskotik DJ” (1990), kemudian berlanjut dengan “Gadis Metropolis” (1991), “Roda-roda Asmara di Sirkuit Sentul” (1994), dan “Pergaulan Metropolis II” (1995), serta aktingnya di beberapa film Warkop DKI.
Setelah memutuskan berjilbab pada tahun 2001, aktingnya pun berganti di area religius. Seperti “Padamu Aku Bersimpuh” (2001), Mutiara Hati (2005), dan Jalan Takwa (2005). Walau telah berjilbab, Inne tetap laris, bahkan dirinya menyabet penghargaan sebagai Pembawa Acara Terpuji versi Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2005. Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara “Penyerahan Anugerah Syiar Ramadhan 1426 H”. Inne pernah menjadi presenter acara “Sahur Bersama” di SCTV, “Kesaksian” di Lativi dan memandu acara menjelang sahur di RCTI (2004).
Inne sebetulnya pernah mendirikan perusahaan film, PT. Gamal Golden Entertainment. Inne menjadi Direktur Utama. Perusahaannya pernah melahirkan dua buah film berjudul “Bias-Bias Obsesi” dan “Bila Esok Tiba” yang diperankan aktor senior seperti Alex Komang, dan Rudi Salam.
Inne juga merambah dunia musik tanah air dengan menjadi produser grup band Uno. Tahun 2007 Inne juga menjadi ikon saluran televisi berlangganan dengan nuansa Islami, Astro Oasis.

Share the knowledge