ISIS Kalah di Mosul, Malaysia Siaga Satu. Indonesia Siaga Berapa? Seword.com650 × 364Search by image

ISIS Kalah di Mosul, Malaysia Siaga Satu. Indonesia Siaga Berapa? Seword.com650 × 364Search by image

ISIS kalah di Aleppo dan di Mosul. Mereka juga mulai terdesak di Raqqa. Milisinya kocar-kacir. Malaysia tampak serius menanggapi kondisi ini. Mereka sudah menetapkan status Siaga Satu. Ini juga tak lepas dari beredarnya video propaganda ISIS yang menyatakan perang terhadap Indonesia dan Malaysia. Indonesia menanggapi situasi ini lebih tenang.

Kecemasan Malaysia cukup beralasan. Presiden Filipina pada Desember juga pernah memperingatkan, militan ISIS akan lari ke Asia Tenggara jika kalah dan terusir dari Irak dan Suriah. Faktanya, salah satu wilayahnya, Marawi, kini tengah diharu biru gerombolan ini.

Kemenangan tentara Irak atas pasukan ISIS di Mosul, Irak, membuat Malaysia langsung menetapkan status siaga satu. Sikap ini disampaikan Menteri Pertahanan Malaysia, Hishammudin Hussein. Hishammudin mendorong seluruh pihak bersatu untuk menangani potensi buruk ini.

“Kemarin (9 Juli 2017), mereka mengumumkan tidak ada lagi elemen ISIS di Raqqa dan Mosul. Pertanyaannya kemana mereka sekarang? Kita perlu memonitor itu,” ucap dia. (https://global.liputan6.com/read/3019009/mosul-direbut-dari-isis-malaysia-terapkan-siaga-satu).

Postcomended   Mereka Ancam Jakarta Akan Dimarawikan

Sementara itu Indonesia melalui pernyataan Wakapolri, Komjen Syafruddin, pada Rabu (12/7/2017), memastikan pihaknya bersama dengan TNI juga tetap siaga, namun merasa tak perlu sampai diumumkan.

Syafruddin mengatakan, Indonesia akan memperketat pengawasan di seluruh wilayah perbatasan dengan negara-negara lain. Tak hanya itu, pemantauan terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang dicurigai pernah turut terlibat kelompok teror ISIS juga dilakukan.

Ancaman ISIS terhadap Malaysia dan Indonesia muncul pada 4 Juli lalu, melalui video propaganda ISIS berdurasi 2 menit 45 detik yang beredar di media sosial. Isinya menyerukan milisinya untuk bertempur di Asia Tenggara.

Seseorang di video itu yang tampak duduk berlatar belakang laut di Timur Tengah antara lain menyatakan, dia berjanji akan pulang dari Suriah ke Asia Tenggara untuk menyerang orang yang coba menghalangi niat mereka mendirikan khilafah.

Dia juga mendorong pendukung ISIS yang tidak bisa ke Suriah maupun Irak agar melakukan aksi teror di negara masing-masing, jika tidak mampu bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Pada Desember 2016, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, pernah menyiratkan ancaman itu. Dia mengatakan, militan ISIS akan lari ke Asia Tenggara jika kalah dan terusir dari Irak dan Suriah.

Postcomended   Pendiri Tesla dan DeepMind Desak PBB Cegah Pengembangan Robot Pembunuh

ISIS akan menyusup untuk membangun kekhalifahan baru di empat negara: Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Brunei.

“Setelah mereka kehabisan wilayah (di Timur Tengah), mereka akan mundur ke laut dan melarikan diri,” kata Duterte. (http://m.dw.com/id/presiden-filipina-duterte-isis-targetkan-indonesia-filipina-dan-malaysia/a-36690395).

ISIS pada minggu kedua Juli 2017, mengalami pukulan telak di pusat kekuatan mereka, Mosul, Irak. Para milisinya juga mulai terdesak di Raqqa, Suriah. Sementara Aleppo sudah berhasil dibebaskan tentara Suriah sejak sebelum Ramadan.

Kini mereka kembali ke akar mereka sebagai pasukan pemberontak yang terpencar-pencar. Namun kata Hassan Hassan, pengamat dari Tahrir Institute for Middle East Policy di Washington, Amerika Serikat (AS), meskipun dukungan melemah dan rencana membangun khilafah gagal, ISIS terlanjur berkembang menjadi organisasi internasional.

“Kepemimpinan dan kemampuan mereka untuk berkembang masih ada,” kata Hassan. Para kadernya; ahli senjata, ahli propaganda, dan agen-agen, masih bertahan dan pengalaman mereka sangat bermanfaat untuk operasi teror.