Ini Asal Usul

Ini Asal Usul “Generasi Micin” yang Bikin Heboh – Tribun Batam Tribun Batam – Tribunnews.com Ini Asal Usul

Reputasi buruk monosodium glutamat (MSG), atau yang di Indonesia juga sering disebut vetsin atau micin, sampai juga ke generasi milenial. Terbukti dengan ngetopnya istilah “generasi micin” yang berasosiasi negatif; merujuk pada perilaku anak muda yang bodoh, yang otaknya ditaruh di dengkul, dan sejenisnya. Selain kanker, sempat muncul juga isu bahwa autisme bisa jadi disebabkan bahan kimia ini. Reputasi buruk MSG ini telah bertahan selama puluhan dekade, setidaknya sejak seorang dokter mengaku sakit setelah makan di restoran Cina.

“MSG bukan racun. Ini bukan bahan kimia yang membuat orang sakit kepala, asma, atau mengalami palpitasi jantung. Bagaimana keputusan ini bisa diambil? Ilmu pengetahuan!” Kalimat tersebut bersumber dari satu video yang belakangan ini cukup viral di media sosial (medsos), produksi sebuah lembaga bernama “An Everhance + Nameless Network Productions”. Kabar gembira tentunya bagi para penggemar keripik, atau masakan yang gurih.

Informasi dari video ini sebenarnya tidak baru. Setidaknya tulisan yang mengulas bahwa bahaya MSG hanya mitos, sudah ada di internet sejak 2014. Perlu waktu lama juga hingga seseorang, suatu lembaga, atau apapun, untuk menarik ke ruang publik bahwa MSG tidak seberbahaya yang selama ini diyakini masyarakat dunia.

Pasalnya, isu bahaya MSG muncul sudah sejak 1968, ketika seorang dokter, Dr Ho Man Kwok, mengeluh sakit setelah makan di restoran Cina. Dia menulis surat ke jurnal New England of Medicine mengenai keluhannya itu, dan dipublikasikan.

Postcomended   Visit Wonderful Indonesia Dibahas Dalam Rakernas III PHRI

Dalam surat itu, Kwok mengeluhkan lemas, jantung berdebar, dan mati rasa di bagian belakang leher yang menyebar hingga ke lengan dan punggung, yang terjadi setiap kali makan di restoran Cina. Kwok sempat menduga penyebabnya kecap dan anggur, tetapi pilihannya jatuh pada MSG. Namun surat tersebut hanya sebatas dugaan, tidak ada bukti dan tes.

Namun kemudian, dikutip dari video tersebut, banyak pembaca jurnal merespon dengan keluhan sama dengan Kwok. Tak lama kemudian, daftar literatur dan riset yang menyalahkan makanan Cina dan MSG untuk sejumlah keluhan kesehatan, meledak! “Bahkan acara “60 Minutes” membuat laporannya pada awal 1990-an, dan publik Amerika percaya rekomendasinya.” Sindrom “restoran Cina” pun, lahir.

Dilansir BBC, salah satu yang paling terkenal adalah riset peneliti Universitas Washington, Dr John W Olney, yang menemukan bahwa suntikan dosis MSG yang sangat besar di bawah kulit tikus yang baru lahir menyebabkan berkembangnya jaringan mati di otak.

Akibatnya saat tikus tumbuh dewasa, mereka menjadi kerdil, gemuk, dan beberapa di antaranya ada yang mandul. Olney juga mengulang penelitiannya pada monyet rhesus dengan memberi mereka MSG secara oral dan mencatat hasil sama.

Namun 9 penelitian lain pada monyet yang dilakukan peneliti lain, gagal menunjukkan hasil sama. Studi pada manusia juga tak terlalu berhasil menemukan bukti tersebut, meskipun peneliti menemukan juga adanya gejala sindrom restoran Cina tersebut.

Apalagi, seperti dikutip dari video, partisipan penelitian sudah mengetahui makanannya mengandung MSG, sehingga mungkin muncul efek nocebo, kebalikan dari efek placebo. Placeco artinya kira-kira “rasa sembuh atau sehat akibat sugesti baik/positif”.

Postcomended   Kasus Perkosaan dan Pembunuhan Asifa Bano: Jurnalis dan Aktivis India Geram

Untuk lebih meyakinkan, pada 1995, Badan pengawas obat dan makanan AS (FDA) meminta Federasi Masyarakat Amerika untuk Biologi Eksperimental untuk melihat semua bukti yang ada dan memutuskan apakah MSG jahat atau tidak.

Hasilnya, tidak ada kepastian. Mereka yang bereaksi karena diberi MSG dosis besar, yakni 3 gram MSG, berupa larutan dan tanpa makanan. Jumlah itu juga jauh dari rata-rata 0,55 gram MSG per hari yang masuk tubuh manusia lewat makanan.

Riset lainnya pun menunjukkan ketidakkonsistenan hasil sehingga menimbulkan keraguan pada validitas sensitivitas MSG. Akhirnya, FDA mengategorikan MSG sebagai GRAS (Generally Recognised As Safe) atau umumnya diakui aman.

Apa itu MSG?
MSG secara alami merupakan senyawa turunan dari sodium dan asam glutamat yang umum digunakan pada sajian Asia selama berdekade-dekade. Bahkan ketika isu yang dilempar Kwok meledak, tetap saja banyak produk makanan menggunakan MSG. Artinya, penggemarnya tetap banyak, termasuk mereka yang menyerapahi MSG.

MSG juga secara alami ada dalam tubuh manusia. Asam glutamat diproduksi sel-sel tubuh manusia, dan banyak makanan sehat memiliki konsentrasi tinggi bahan ini. Sejauh menyangkut sodium, lebih banyak terdapat pada garam meja ketimbang pada MSG.

MSG diciptakan 1908 oleh kimiawan Jepang, Kikunae Ikeda, profesor kimia Universitas Tokyo. MSG dianggap sebagai garam paling stabil yang mampu memberi rasa umami atau gurih pada makanan, “rasa kelima” yang didambakan selain asin, manis, kecut, dan pahit.

Postcomended   Ekuador Terancam Bokek Demi Lindungi Boss WikiLeaks

Glutamat sebetulnya adalah asam amino umum yang juga terbentuk secara alami pada berbagai macam makanan: tomat, keju, jamur kering, kecap, buah dan sayur, bahkan ASI.

Ikeda memisahkannya dari rumput laut kering yang digunakan untuk membuat kaldu dashi dalam masakan Jepang, dan menambahkan natrium, salah satu dari dua unsur dalam garam, untuk mengubahnya menjadi bubuk yang bisa ditambahkan ke makanan.

Sejak saat itu, MSG menjadi salah satu bahan yang paling umum digunakan dalam memasak. Ajinomoto adalah merek MSG yang dipatenkan Ikeda. Saat temuan ini sampai ke AS pada 1950-an, tidak dilaporkan adanya keluhan selama hampir 20 tahun.***

Share the knowledge