Ekonomi

Jembatan Laut Terpanjang di Dunia Ini Bakal Pangkas Waktu Menjadi Hanya 30 Menit

Share the knowledge

Sembilan tahun sejak konstruksi dimulai, jembatan penyeberangan laut terpanjang sedunia bersiap diluncurkan Rabu (24/10/2018). Jembatan senilai 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 300 triliun ini menghubungkan Hong Kong, Zuhai Cina daratan, dan Makau, memangkas waktu tempuh dari 3 jam menjadi 30 menit, yang menimbulkan kecemasan membanjirnya wisatawan dari Cina daratan. Bagaimanapun, Xi Jinping memiliki rencana strategis atas pembangunan jembatan ini.

 

 

 

Jembatan sepanjang 55-kilometer ini awalnya akan dibuka pada 2016, tetapi penundaan berulang kali terjadi sehingga baru bisa dilakukan tahun ini. Jembatan ini adalah elemen kunci dari rencana Cina menciptakan Greater Bay Area yang mencakup 56.500 kilometer persegi di seluruh Cina selatan, dan mencakup 11 kota, termasuk Hong Kong dan Makau, yang merupakan rumah bagi gabungan 68 juta orang.

Para pendukung gagasan mengatakan jembatan itu akan memangkas waktu perjalanan antara kota-kota dari tiga jam menjadi 30 menit. Ini kata mereka, akan memungkinkan komuter dan wisatawan bergerak dengan mudah di sekitar wilayah tersebut.

“Dengan jembatan itu, waktu perjalanan antara Hong Kong dan wilayah Western Pearl River Delta akan diperpendek secara signifikan, sehingga membawa kawasan Western Pearl River Delta dalam waktu tiga jam perjalanan dari Hong Kong,” kata sekretaris transportasi kota, Frank Chan, Jumat (19/10/2018), dilansir laman CNN.

Meskipun fokus pada waktu mengemudi, namun pemilik mobil pribadi di Hong Kong tidak akan dapat menyeberangi jembatan tanpa izin khusus. Kebanyakan pengemudi harus parkir di pelabuhan Hong Kong, beralih ke bus antar-jemput atau mobil sewaan khusus setelah mereka melalui imigrasi. Biaya bus ulang-alik sekitar 8-10 dollar AS untuk sekali perjalanan, tergantung waktunya.

Proyek jembatan ini telah memancing kritik sengit di Hong Kong. Ada ketakutan kota ini akan dibanjiri turis dari daratan Cina. Para kritikus membandingkan dengan Inggris. Pada 2016, Hong Kong kedatangan 56,7 juta kunjungan turis, dibandingkan dengan 37,6 juta untuk Inggris, suatu negara yang jauh lebih besar.

Kritik lainnya, pembangunan jembatan ini dipandang sebagai alat untuk menyeret Hong Kong lebih dekat ke pegangan Beijing. Hong Kong adalah kota di bawah kekuasaan Cina yang menawarkan legislatif semi-demokratis, peradilan yang independen, dan mataknya demonstrasi massa dalam beberapa tahun terakhir.

Tak bisa menutupi kekagumannya, anggota parlemen Hong Kong, Claudia Mo, kepada CNN pada awal tahun lalu mengatakan bahwa jembatan tersebut memesona. “Anda dapat melihatnya dari pesawat ketika Anda terbang ke Hong Kong,” ujarnya.

Namun jembatan ini menghubungkan Hong Kong ke Cina hampir seperti tali pusar. “Anda melihatnya, dan Anda tahu bahwa Anda terhubung ke ibu pertiwi,” ujar Mo. Mo dan para kritikus lainnya juga menunjukkan sejumlah besar uang yang dihabiskan oleh Hong Kong; lebih dari 9 miliar dollar AS.

Namun di sisi lain, kota ini menghadapi kekurangan perumahan umum dan kemiskinan yang meluas. “Hong Kong harus membiayai banyak jembatan, tetapi kami tidak akan melihat banyak manfaat di sini,” kata Mo.

Jembatan tersebut juga menghadapi kritik publik yang cukup besar atas standar keselamatan. Tujuh pekerja tewas dalam pembangunan jembatanini, dan 275 lainnya luka-luka. Para pejabat Hong Kong sebelumnya telah menyalahkan jumlah korban tewas karena kekurangan tenaga kerja, dan awal tahun ini sebuah pengadilan mendenda beberapa subkontraktor atas masalah ini.

Dibangun di Antara Dua Pulau Buatan

Dibangun tahan gempa hingga 8 SR, angin topan super, dan hantaman kapal kargo berukuran super, jembatan ini menggabungkan 400 ribu ton baja; 4,5 kali lebih banyak pada  Jembatan Golden Gate di San Francisco, AS.

Jembatan ini juga dilengkapi segmen terowongan bawah laut sepanjang 6,7 kilometer (4-mil) untuk membantu menghindari kemacetan akibat jalur pengiriman yang sibuk di Deltan Sungai Pearl.  Terowongan ini terbentang di antara dua pulau buatan, masing-masing berukuran 100 ribu meter persegi dan terletak di perairan yang relatif dangkal.

Mengancam Habitat Lumba-lumba Putih

Prestasi teknik boleh mengesankan, namun kontroversi muncul mengingat Delta Sungai Pearl adalah rumah bagi populasi lumba-lumba putih Cina yang terancam punah yang sebelumnya juga telah terancam oleh reklamasi tanah besar-besaran di Hong Kong dan kota-kota lainnya.

Sebagai tanggapan terhadap keprihatinan lingkungan atas jembatan tersebut, pemerintah Hong Kong telah menyediakan untuk pembuatan taman laut tambahan untuk melindungi lumba-lumba dan kehidupan air lainnya, tetapi beberapa ahli mengatakan ini mungkin sudah terlambat untuk mengurangi efek dari konstruksi yang sudah dilakukan.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top