Internasional

Juni 2020 Seluruh Keuskupan Wajib Bikin Sistem Pelaporan Pelecehan Seksual

Share the knowledge

Vatikan (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=Kt465gCxpcQ)

Vatikan (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=Kt465gCxpcQ)

Skandal pedofilia global para ulama Katolik memaksa Paus Fransiskus mengeluarkan peraturan baru. Mereka yang mengetahui kasus pelecehan seksual di Gereja Katolik dimanapun, diminta untuk melaporkannya kepada atasan mereka.

Aturan ini diumumkan Kamis (9/5/2019) seperti dilaporkan kantor berita AFP. Isi aturan tersebut adalah, setiap keuskupan di dunia sekarang wajib memiliki sistem untuk melaporkan skandal pelecehan, di bawah undang-undang baru yang diterbitkan oleh Vatikan. Tetapi persyaratan itu tidak akan berlaku untuk rahasia yang diungkapkan kepada para imam di bilik pengakuan dosa.

“Sudah waktunya untuk belajar dari pelajaran pahit di masa lalu”, kata Fransiskus dalam teks keputusan hukum tersebut. Keputusan ini menyusul serangkaian kasus serangan seksual ulama Katolik di sejumlah negara mulai dari Australia, Chili, Jerman, hingga Amerika Serikat (AS),

“Motu Proprio”, dokumen hukum yang dikeluarkan di bawah otoritas pribadi Paus, menyatakan bahwa siapa pun yang memiliki pengetahuan tentang pelecehan, atau mencurigai itu, wajib melaporkannya segera ke Gereja, menggunakan “sistem yang mudah diakses”.

“Meskipun kewajiban ini sebelumnya diserahkan pada hati nurani individu, sekarang menjadi aturan hukum yang mapan secara universal di dalam Gereja,” kata Andrea Tornielli, direktur editorial departemen komunikasi Vatikan.
Hukum hanya berlaku di dalam Gereja dan tidak memiliki kekuatan untuk mewajibkan individu untuk melaporkan penyalahgunaan kepada otoritas sipil.

Di bawah langkah baru ini, setiap keuskupan di seluruh dunia diwajibkan pada Juni 2020 untuk membuat sistem pelaporan pelecehan seksual yang dilakukan para ulama, penggunaan pornografi anak, dan menutup-nutupi pelecehan.

Postcomended   Boeing Minta Maaf pada Indonesia dan Etiopia, Seiring Airbus Babat Penjualan

Pengakuan Masih Rahasia
Dokumen ini berfokus terutama pada pelecehan seksual atau psikologis anak-anak dan orang dewasa yang rentan, tetapi juga menargetkan pelecehan dan kekerasan seksual yang dihasilkan dari penyalahgunaan wewenang, seperti eksploitasi biarawati oleh para imam.

Paus Fransiskus mengakui di depan umum pada Februari 2019 lalu, bahwa para imam telah menggunakan biarawati sebagai “budak seksual”, dan mungkin masih melakukannya.

Kelompok-kelompok korban telah lama meminta Paus untuk menerapkan langkah-langkah konkret untuk mengatasi pelecehan terhadap anak-anak klerus termasuk segera memecat setiap ulama yang dinyatakan bersalah bahkan jika melakukan satu saja tindakan pelecehan, atau jika berupaya menutupinya.

Mereka juga ingin semua pelaku kekerasan atau tersangka pelaku pelecehan dilaporkan ke polisi, dan semua file terkait pelecehan diserahkan kepada mereka. Sejumlah pihak menyerukan para imam yang mendengar kasus pelecehan dalam pengakuan dosa (di bilik) untuk dipaksa melaporkannya. Undang-undang baru mengakomodasi upaya tersebut.

Postcomended   Mungkinkah Suatu Hari Hongmeng Menjadi Rival Android dan iOS?

Umat ​​Katolik percaya bahwa di dalam pengakuan dosa, orang yang bertobat berbicara kepada Tuhan, dan segala sesuatu dalam pengakuan itu rahasia. Seorang pendeta yang mengungkapkan rahasia seperti itu secara otomatis dikeluarkan dari Gereja.

Undang-undang baru ini mengikuti pertemuan bersejarah Vatikan tentang skandal pelecehan seksual anak oleh para pendetanya pada Februari 2019, yang menyaksikan banyak penuduhan-diri-sendiri oleh Gereja dan cerita-cerita horor dari para penyintas pelecehan.

Vatikan menghadapi tantangan kehilangan kepercayaan umat Katolik di seluruh dunia ketika skandal pelecehan seksual baik terhadap anak-anak alyar maupun biarawati bermunculan secara sporadic dari seluruh keuskupan di dunia.

Di Jerman saja, seperti terungkap dalam Konferensi Waligereja Jerman pada 2018, dilaporkan ada lebih dari 3.000 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan para pendeta antara 1946-2014. Lebih dari setengah korbannya berusia 13 tahun atau lebih muda dan hampir sepertiga dari mereka adalah anak laki-laki altar.

Postcomended   AS Tekan Lagi Sekutu-sekutunya Larang Huawei, Uni Eropa Galau

Laporan yang disusun oleh para peneliti universitas ini menemukan bukti bahwa beberapa file dimanipulasi atau dihancurkan. Banyak kasus tidak dibawa ke pengadilan, dan bahwa kadang-kadang pendeta pelaku dipindahkan ke keuskupan lain tanpa jemaat diberitahu tentang masa lalu mereka.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top