Mobil Peugeot 108 itu meledak hebat hingga badannya melayang melewati tembok, lalu masuk ke satu lapangan. Sang pengendara, Daphne Caruana Galizia, tewas di tempat seketika. Daphne adalah wartawan spesialis kasus-kasus korupsi, termasuk getol mengorek skandal Panama Papers. Salah seorang yang sedang menjadi target investigasi Daphne adalah Perdana Menteri Malta, Joseph Muscat.

Penyebab ledakan diduga adalah bom mobil yang ditanam di mobil Daphne. Sebelum terbunuh, Daphne sempat menulis di blognya: “Kemanapun kamu melihat, ada penjahat di mana-mana sekarang ini, situasinya sangat gawat.”

Daphne adalah jurnalis yang memainkan peran penting dalam kasus Panama Papers. Seorang politisi mengatakan, kematiannya mengindikasikan “runtuhnya peraturan hukum” di Malta, satu negara terkecil di Uni Eropa.

Daphne diyakini baru saja menerbitkan satu tulisan di blognya yang banyak dibaca netizen, sesaat sebelum meninggalkan rumahnya di Mosta, sebuah kota di luar ibukota Valletta, Malta. Tak lama setelah Daphne berkendara, mobil Peugeot 108 dengan dia di dalamnya, meledak.

Menurut media setempat, dua minggu sebelumnya Daphne melaporkan ancaman pembunuhan terhadapnya ke polisi. Siapakah pihak yang diduga menjadi dalang pembunuhan Daphne?

Pelaporan mendalam yang ditulis Daphne, membuat dia memiliki banyak musuh. Sebut saja orang-orang yang merasa gerah dengan reportase Daphne antara lain Perdana Menteri, politisi oposisi, dan anggota dewan peradilan.

Bagaimana tidak, jumlah pembaca blognya lebih besar daripada surat kabar apapun di Malta. Dia digambarkan sebagai “seorang wanita Wikileaks” oleh Politico.

Pemimpin oposisi, Adrian Delia, menggambarkam kematian Daphne sebagai “pembunuhan politik”. “Apa yang terjadi hari ini (minggu) bukanlah pembunuhan biasa. Ini adalah konsekuensi dari runtuh totalnya “rule of law’ yang telah berlangsung selama empat tahun terakhir,” ujar Adrian.

“Kami tidak akan menerima penyelidikan (kematian Daphne) oleh Komisaris Polisi, Komandan Angkatan Darat, atau Hakim tugas, karena mereka semua merupakan jantung kritik oleh Daphne,” imbuh Adrian.

Suami Daphne, Peter Galizia, juga meminta hakim Scerri Herrera dikeluarkan dari tim penyelidikan karena dia pernah bertengkar dengan Daphne.

Perdana Menteri Joseph Muscat, yang mengakui Daphne sebagai salah satu “kritikus terberat tingkat politik dan pribadinya”, mengecam “serangan barbar” terhadap Daphne sebagai “tidak dapat diterima”. Dia mengatakan bahwa kekerasan tersebut merupakan “serangan barbar terhadap kebebasan pers”.

Joseph Muscat adalah sasaran utama kritik Daphne. Setelah menganalisis dokumen Panama Papers yang bocor, dia menuduh istri Muscat memiliki perusahaan “lepas pantai” yang mencurigakan di Amerika Tengah.

Baik Muscat maupun istrinya membantah tuduhan tersebut dan menggugat Daphne awal 2017. Tak lama setelah kematiannya, Muscat mengumumkan bahwa para ahli biro investigasi federal (FBI) akan membantu penyelidikan tersebut.

Pembunuhan tersebut mengejutkan seluruh Eropa. Politisi dan wartawan menyampaikan bela sungkawa. Presiden Parlemen Uni Eropa, Antonio Tajani, menggambarkan pembunuhan tersebut sebagai “brutal” dan berkata: “Contoh tragis jurnalis yang mengorbankan hidupnya untuk mencari kebenaran. Dia tidak akan dilupakan.”

Frans Timmermans, Wakil Presiden Komisi Eropa, bercuit: “Terkejut dan marah dengan pembunuhan jurnalis Daphne Caruana Galizia. Jika wartawan dibungkam, kebebasan kita hilang.”

Reporters Without Borders (RSF), sebuah badan pengawas kebebasan pers, juga mengeluarkan pesan yang mengecam pembunuhan tersebut. Malta berada di peringkat ke-47 dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia, di atas Jepang, Italia dan Israel. RSF mencatat, rekening bank Daphne dibekukan menyusul pengungkapan dugaan korupsi oleh pemerintah Malta.(***/
independent).