Kali Temi, Lumajang (credit: http://1.bp.blogspot.com/-JzbfzCr3XAA/U6MMKagIKcI/AAAAAAAAAPA/HOzJKnjF3NY/s1600/Bantaran+Kali+Temi+Ditorunan+Lumajang.jpg)

Sejak ada media sosial, paradigma berwisata agak berubah. Tak melulu harus ke tempat-tempat berpemandangan indah, atau ke lokasi semacam Dufan, kini berwisata juga bisa mengunjungi kampung-kampung yang semula kumuh menjadi bersih dan berwarna-warni. Yang penting “Instagramable!”. Jika di Malang ada Jodipan, Lumajang punya yang lebih inspiratif: Kali Temi. Kali Temi mengingatkan pada Sungai Cheonggyecheon di Seoul, Korea Selatan.

Namun perlu dicatat. Kali Temi yang tepatnya terletak di Kelurahan Ditotrunan, Lumajang, Jawa Timur, ini, bukan sengaja dibagus-baguskan untuk tempat wisata, melainkan terkait upaya seorang Ketua Rukun Warga (RW) di kelurahan tersebut yang prihatin pada kondisi sungai yang melintas di lingkungan tempat tinggalnya ini.

Dilansir Kompas.tv, belasan tahun silam kondisi Kali Temi tidaklah sebersih sekarang. Seperti umumnya kali/sungai di Indonesia, Kali Temi penuh sampah dan dijadikan tempat buang air besar oleh warganya.

Postcomended   Rencana Penerapan E-tol: Bank Diuntungkan, Biaya Isi Ulang Tetap Beban Konsumen

Kini, Kali Temi berair jernih, lingkungannya pun bersih dan asri karena warga menanam bebungaan di atas karamba. Karamba? Sejak kondisi air makin bersih, warga juga memiliki sumber pendapatan tambahan dari budidaya ikan nila di Kali Temi. Ada sebanyak135 keramba di sepanjang Kali Temi.

Siapakah sang Ketua RW? Dia adalah Eko Romadhon. Memang butuh waktu cukup panjang bagi Eko untuk membuat Kali Temi menjadi seperti sekarang.

Eko tekun mengarahkan warga agar tidak membuang sampah dan melakukan aktivitas MCK (mandi, cuci, kakus) di kali ini sejak tahun 2000.

Kini, Kali Temi bahkan membuat warga betah beraktivitas di sekitarnya. Bagaimana tidak, selain menghasilkan, Kali Temi juga jadi indah dipandang mata.

Postcomended   Bali Aman, Pembukaan Nusa Dua Fiesta dibanjiri pengunjung

“Jika dulu Kali Temi ada di belakang rumah warga; dari dapur mereka membuang sampah langsung ke kali, sekarang lihat saja, banyak warga yang rumahnya menghadap kali,” ujar Eko dalam video yang dimuat rubrik Berita Kompas TV.

Sudah menjadi kebiasaan di hampir semua daerah di Indonesia, rumah-rumah membelakangi kali atau sungai. Kali atau sungai pun menjadi saluran pembuangan kotoran dan juga sampah rumah tangga.

Dalam hal konsep rumah menghadap sungai, terobosan pemikiran datang dari Bojonegoro, Jawa Tengah. Dalam kegiatan “Sosialisasi Pengelolaan Sungai Bengawan Solo kepada Masyarakat dan Aparatur” di Kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, 20 September 2016, muncul usulan membangun rumah menghadap sungai.

“Kami tengah mengembangkan rumah-rumah di bantaran untuk menghadap sungai,” ujar Kepala Bidang Bina Manfaat dan Kemitraan Dinas Pengairan Bojonegoro, Sapto Sumarsono, di acara tersebut, seperti diberitakan situs Tempo.

Sapto mengatakan, jika permukiman menghadap sungai diharapkan warganya bisa membantu mengawasi Sungai Bengawan Solo. Setidaknya lahan yang ditempati bisa bersih dan rapi. “Karena teras depan biasanya terawat,” katanya.***

Postcomended   Kolaborasi si Burung Camar dengan Ikmal Tobing Hangatkan Gelaran Ijen Jazz 2017