Aung San Suu Kyi (sumber foto: https://www.ctvnews.ca/politics/aung-san-suu-kyi-no-longer-an-honorary-canadian-citizen-1.4118459)

Aung San Suu Kyi (sumber foto: https://www.ctvnews.ca/politics/aung-san-suu-kyi-no-longer-an-honorary-canadian-citizen-1.4118459)

DPR Kanada memberikan hak istimewa kepada Aung San Suu Kyi pada 2007, tetapi reputasi internasionalnya telah ternoda oleh penolakannya untuk meminta tentara Burma untuk mengakhiri kekejaman yang dilakukan terhadap Rohingya. Kanada pun ogah memperpanjang status tersebut. Suu Kyi adalah satu dari beberapa tokoh dunia yang memperoleh status warganegara kehormatan Kanada.

Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, menjadi orang pertama yang dicabut kewarganegaraan Kanada-nya pada Selasa (2/10/2018) atas penolakannya untuk mengakui kekejaman militer negaranya terhadap minoritas Muslim Rohingya.

Laman TRTWorld melaporkan, langkah itu dibuat resmi setelah Senat Kanada memilih untuk mencabut kehormatan simbolis tersebut. Majelis rendah telah menyetujui mosi untuk efek yang sama minggu lalu.

Sebelumnya, DPR Kanada memberikan suara bulat pada Kamis (27/9/2018) untuk mencabut kewarganegaraan kehormatan bagi Suu Kyi menyusul kegagalannya untuk menghentikan kekejaman terhadap minoritas Rohingya di negara Asia Tenggara ini.

Pemungutan suara untuk menghapus Suu Kyi dari kehormatan yang dianugerahkan lebih dari satu dasawarsa yang lalu itu, datang beberapa hari setelah Perdana Menteri Justin Trudeau menyarankan bahwa hal itu mungkin dapat dipertimbangkan kembali.

“Pada 2007, DPR memberi Aung San Suu Kyi status warga negara kehormatan Kanada. Hari ini, DPR dengan suara bulat mengeluarkan mosi untuk menghapus status ini,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Adam Austen, seperti dilaporkan laman National Public Radio (NPR).

Postcomended   Konvensi Minamata Mulai Berlaku: Negara Peratifikasi Harus Awasi Ketat Pemakaian Merkuri

Suu Kyi, yang menghabiskan 15 tahun di bawah tahanan rumah saat ia berjuang untuk demokrasi melawan junta militer negara itu, memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991 atas usahanya. Namun, sejak menjadi konselor negara Myanmar pada tahun 2016, reputasi internasionalnya telah mengalami pukulan berat.

Meskipun jabatan kepemimpinan Suu Kyi tidak memberinya kendali atas militer Myanmar yang kuat, kegagalannya menghentikan apa yang telah diberitakan PBB sebagai “contoh buku teks pembersihan etnis” oleh tantara terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine barat negara itu, mendekati kekejian yang bersifat universal.

Postcomended   PBB Sebut 1 Juta Muslim Uighur Ditahan di Kamp Rahasia, Cina Membantah

Austen, juru bicara Kementerian Luar Negeri mengatakan Kanada “akan terus mendukung Rohingya dengan memberikan bantuan kemanusiaan, memberlakukan sanksi terhadap jenderal Myanmar dan menuntut bahwa mereka yang bertanggung jawab harus bertanggung jawab di hadapan badan internasional yang kompeten.”

Pemimpin salah satu partai politik Kanada, Bloc Québécois, Gabriel Ste-Marie, mengatakan, langkah itu menghadirkan citra baik di tingkat internasional. “Tidak, jika Anda adalah kaki tangan genosida, Anda tidak akan memiliki kewarganegaraan kehormatan di sini,” kata Ste-Marie, seperti dikutip The Toronto Star.

Kanada telah memberikan kewarganegaraan kehormatan hanya kepada lima kepribadian lainnya, termasuk Nelson Mandela, Dalai Lama, dan Malala Yousafzai.

Anggota parlemen Kanada menggambarkan kekerasan terhadap Muslim Rohingya sebagai “genosida” dalam resolusi yang disahkan pada September tahun ini (2018). Kelompok etnis diperlakukan sebagai orang asing di Burma (Myanmar); negara dengan lebih dari 90 persen warganya penganut Buddha.

Ribuan orang Rohingya telah tewas dan hampir 700.000 orang terpaksa melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh sejak tentara dan milisi pro-pemerintah pertama kali meluncurkan serangan balasan terhadap warga sipil pada 2016 sebagai tanggapan terhadap militan Rohingya yang menyerang kantor polisi pemerintah dan pos militer.***

Share the knowledge