Internasional

Kasus Perkosaan dan Pembunuhan Asifa Bano: Jurnalis dan Aktivis India Geram

Share the knowledge

Gurpreet Singh: Surrey chapter of Trinjan celebrates advocate for ... The Georgia Straight The eight-year-old was gang-raped and murdered in what appears to

Gurpreet Singh: Surrey chapter of Trinjan celebrates advocate for … The Georgia Straight The eight-year-old was gang-raped and murdered in what appears to

Ketika warga Hindu India cenderung mendukung buta para pelaku pemerkosaan dan pembunuhan bocah Muslim 8 tahun, bahkan kubu oposisi pemerintah pun bungkam, sikap kritis dan mempertanyakan ditunjukkan para jurnalis India secara perorangan dan aktivis kemanusiaan.

“Hanya ada satu alasan mengapa orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan keji seperti itu mendapat dukungan publik luas: seperti mayoritas orang di Kathua, para tersangka beragama Hindu; (sementara) gadis itu seorang Muslim,” tulis Samar Halarnkar, jurnalis India, dilansir Scroll, Kamis (12/4/2018).

Samar mengatakan perkosaan dan pembunuhan Asifa menandai “momen yang menentukan” bagi India. BJP, kata Samar, harus bia mengendalikan massa (yang berdemo menuntut pembebasan para pelaku). “Mereka harus berdiri untuk apa yang ‘adil dan sah’; kualitas yang mereka sering tinggalkan ketika minoritas terlibat,” ujarnya.

BJP adalah kependekan Bharatiya Janata Party, partai berpengaruh di India yang dipimpin Presiden India, Narendra Modi. Seperti diketahui, pensiunan pejabat pemerintahan yang beraliansi ke BJP, Sanji Ram, telah ditangkap untuk dugaan keterlibatannya dalam upaya penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan Asifa Bano, bocah 8 tahun dari komunitas nomaden Muslim Bakarwal yang kini banyak menetap di wilayah Kathua, negara bagian Jammu dan Kashmir. Diduga sentimen agama bercampur aduk dengan masalah perebutan lahan antara warga Kathua yang mayoritas Hindu dengan komunitas Bakarwal yang Muslim.

Postcomended   Deretan Kuliner Terbaik Semarang Siap Sambut Pemudik

Diam di tengah

Monobina Gupta, redaktur pelaksana situs berita The Wire, menulis, sementara pembelaan BJP terhadap delapan terdakwa pemerkosaaan dan pembunuhan Asifa telah “keras” digaungkan tingkat negara bagian, di pusat, sikap “diamnya” telah memekakkan telinga. Tulisan Monobina mengacu pada kurangnya komentar Modi pada kasus tersebut.

Kebisingan di tingkat Negara disertai dengan keheningan di pusat, memberi makan satu sama lain, sindir Monobia. Hal ini kata dia, mempromosikan budaya kekebalan hukum bagi pelanggar hukum yang menargetkan Muslim dan kalangan terpinggirkan lainnya.

Menanggapi kemarahan atas pembunuhan Asifa, Mehbooba Mufti, menteri utama Jammu dan Kashmir, yang partai PDP-nya memerintah negara dalam sebuah aliansi dengan BJP, berjanji pada hari Kamis untuk memperkenalkan hukuman mati bagi pemerkosa anak.

Postcomended   Cacing Benang Ditemukan di Lima Produk Mackerel Kaleng Lokal

Di akun Twitter-nya, Mehbooba menulis: “Kefanatikan Anti-Muslim telah dinormalisasi di bawah Modi. Kami tidak akan pernah membiarkan anak lain menderita dengan cara ini.”

Banyak orang lain juga berkicau di Twitter untuk mempertanyakan mengapa pemimpin oposisi Rahul Gandhi gagal berkomentar, setelah Presiden Partai Kongres Nasional India (sekadar) menyerukan “kesunyian, kedamaian, nyala lilin” di New Delhi.

Kamis (12/4/2018) malam, ribuan orang bergabung di jalan-jalan di New Delhi di bawah penjagaan petugas, dan berkumpul di monumen India Gate untuk menuntut keadilan bagi perempuan. Selain terkait kasus Asifa, puluhan aktivis hak-hak perempuan dan pelajar ini juga marah dengan apa yang mereka sebut keengganan polisi untuk menyelidiki seorang politikus BJP atas perkosaan seorang bocah berusia 15 tahun di Uttar Pradesh. Pengguna Twitter menyesalkan apa yang mereka sebut tanggapan yang diredam.

Postcomended   Kehadiran Pembom Cina di Spratly Bikin Gerah Filipina dan AS

Mereka mencatat bagaimana kasus pemerkosaan berkelompok (gang rape) terhadap wanita muda bernama Nirbhaya pada 2012, telah memindahkan ratusan ribu orang India turun ke jalan sebagai protes.

“Asifa adalah Nirbhaya lain,” tulis Shaili Chopra, seorang aktivis hak asasi manusia. “Kami membutuhkan ketidakpatuhan kolektif terhadap perkosaan di India. Jika kasus-kasus ini tidak mengguncang hati nurani bangsa ini, apa yang akan terjadi?”(***/aljazeera/timesofindia)


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top