Internasional

Keadilan untuk Asifa Bano: Para Pembunuh dan Pemerkosanya Dinyatakan Bersalah

Share the knowledge

 

April 2018, India gemuruh oleh aksi protes lintas agama dan suku, menentang kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap bocah Muslim Asifa Bano, on April 11, 2018. (gambar dari: AP via TRTWorld.com)

April 2018, India gemuruh oleh aksi protes lintas agama dan suku, menentang kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap bocah Muslim Asifa Bano (gambar dari: AP via TRTWorld.com)

Masih ingat Asifa Bano? Gadis kecil yang diperkosa ramai-ramai lalu dibunuh secara sadis demi hegemoni kalangan mayoritas? Syukurlah keadilan masih berjalan di India ketika tiga pria pelakunya dinyatakan bersalah dalam kasus yang memicu kemarahan di seluruh negeri ini.

Ketiga pria ini –yang habis-habisan dibela warga hanya karena mereka tokoh setempat yang berasal dari kalangan mayoritas– terancam hukuman mati setelah dinyatakan bersalah memperkosa dan membunuh gadis berusia delapan tahun tersebut.

Bano, bocah dari keluarga Muslim, dibius dan ditawan di sebuah kuil Hindu dan diserang secara seksual selama seminggu sebelum dicekik dan dipukuli sampai mati dengan batu di wilayah Kashmir yang dikuasai India.

Kasus ini sempat membuat Presiden India, Narendra Modi, dipertanyakan komitmennya sebagai presiden, pasalnya para pelaku terkait erat dengan partai politiknya, Partai Bharatiya Janata (BJP), partai sayap kanan yang kebijakannya secara historis mencerminkan posisi nasionalis Hindu.

Para penyerang –yang termasuk dua petugas polisi– akan menerima hukuman penjara seumur hidup minimal dan dapat dijatuhi hukuman mati, laman Daily Mail melaporkan, Senin (10/6/2019). Salah satu dari mereka, Sanji Ram, adalah pensiunan pegawai negeri dan penjaga kuil tempat gadis itu diserang.

Postcomended   Staf PBB Asal Indonesia Jadi Korban Tewas Ethiopian Airlines, Pilot India: Max 8 Cacat!

Tiga pria lainnya dinyatakan bersalah menerima suap dan menghancurkan barang bukti dan juga bisa menghadapi hukuman penjara seumur hidup. Seorang pria ketujuh dibebaskan, sementara pria kedelapan, yang masih di bawah umur, menghadapi persidangan terpisah.

Menurut lembar tuduhan, gadis itu diculik dari suku nomaden Muslim pada Januari 2018. Bano sedang menggembalakan kuda keluarganya di hutan kaki bukit Himalaya ketika dia diculik. Tubuhnya yang diperkosa dan dimutilasi ditemukan di hutan seminggu kemudian.

Laporan forensik menemukan bahwa dia telah dibius dengan obat anti-kecemasan, diperkosa berulang kali, dibakar, dipukul dengan batu, dan dicekik. Kasus ini memicu dua hari protes keras di Jammu dan demonstrasi di beberapa tempat lain di seluruh India, termasuk di New Delhi, Mumbai, dan Bangalore.

Pada Senin (10/6/2019), ratusan polisi bertugas di Pathankot untuk persidangan. Waspada terhadap protes baru, keamanan juga diperketat di kota Kathua dan daerah-daerah Muslim di sekitarnya.

Aktivis Muslim mengutuk apa yang mereka lihat sebagai kejahatan terhadap komunitas mereka, sementara beberapa kelompok Hindu berpendapat bahwa terdakwa telah didakwa secara tidak adil.

Para tersangka diangkut ke pengadilan di Kathua hari ini (Senin) di mana mereka dinyatakan bersalah atas serangan pada Januari 2018, yang memicu kemarahan di seluruh India.

Postcomended   Foto "Gajah Terbakar" Memenangkan Kompetisi Fotografi Satwa Liar

Jammu dan Kashmir adalah satu-satunya negara bagian di India yang mayoritas penduduknya Muslim, tetapi wilayah selatan Jammu –tempat perkosaan dan pembunuhan terjadi– didominasi oleh Hindu.

Sementara itu Kasmir, seperti dikutip dari BBC, adalah perbatasan paling bergolak di antara dua kekuatan nuklir, India dan Pakistan, yang sejak kemerdekaan membuat wilayah tersebut dibagi menjadi zona di bawah Pakistan dan India.

Pembunuhan Brutal

Selama persidangan, jaksa penuntut menuduh bahwa salah seorang dari mereka telah memerintahkan sesama penyerang untuk menghentikan pembunuhan sehingga dia dapat memperkosa anak itu untuk terakhir kalinya.

Ram juga dituduh berkonspirasi dengan orang lain untuk menghancurkan bukti penting dalam kasus ini. Petugas polisi lainnya dituduh menerima suap dalam upaya untuk menghentikan penyelidikan.

Kasus ini membangkitkan ingatan warga India akan demonstrasi massa yang terjadi setelah pemerkosaan-geng (gank-rape) dan pembunuhan seorang siswa di New Delhi pada 2012.

Kejahatan itu menarik berita utama internasional dan menyaksikan undang-undang pemerkosaan dirombak tetapi jumlah serangan yang tinggi masih terjadi, dengan 40.000 kasus pemerkosaan dilaporkan setiap tahun.

Para siswa India menyalakan lilin dan memegang plakat serta poster Asifa Bano ketika mereka mengambil bagian dalam pawai di Kashmir, April tahun lalu. Bulan lalu (Mei) protes kekerasan juga meletus di Kashmir setelah seorang gadis berusia tiga tahun diduga diperkosa di kamar mandi sekolah.

Postcomended   9 Februari dalam Sejarah: 73 Juta Orang Amerika Terpaku di depan TV Menonton Aksi Perdana The Beatles di AS

Tersangka, seorang mekanik mobil dan tetangga dari keluarga korban, diduga membujuk anak itu ke toilet sekolah terdekat dan memperkosanya di sana.

Muttahida Majlis-e-Ulema (MMU), suatu dewan pemimpin dan cendekiawan Muslim, mengatakan, mereka ingin membahas apa yang mereka katakan sebagai peningkatan kekerasan seksual di wilayah tersebut.

Kejahatan terhadap perempuan di wilayah tersebut melonjak delapan persen menjadi 3.168 kasus pada 2017 dari 2.915 tahun sebelumnya, menurut angka pemerintah.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top