http://217.218.67.233/photo/20170524/c312b74a-7765-48ab-bdf7-ab3e666a2cb4.jpg

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengunjungi Iran, Rabu (4/10/2017), sebagai tanda hubungan pemanasan antar negara bertetangga ini yang mendukung kamp-kamp berbeda di Suriah, namun sama-sama menentang pemilihan umum untuk kemerdekaan Kurdi-Irak pekan lalu. Dalam hal ini, tak ada sentimen Syiah-Sunni yang jutru menjadi bahan keributan di negara lain termasuk Indonesia. Erdogan memang tergolong moderat dalam memandang perbedaan mazhab. Baginya tak ada Islam Sunni ataupun Syiah, apalagi jika sudah menyangkut “kepentingan geopolitik” negaranya. 

Kedua negara ini khawatir pemisahan diri suku Kurdi di Irak akan memicu sentimen separatisme di kalangan minoritas Kurdi di negara mereka masing-masing yang jumlahnya besar. Keduanya ingin bekerja sama dengan pemerintah federal di Baghdad untuk memblokir kemerdekaan Kurdi-Irak ini.

Erdogan dijadwalkan bertemu dengan Rouhani dan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemilik keputusan akhir dalam semua masalah di negeri Iran. Kedatangan Erdogan didahului kepala staf angkatan bersenjata Turki, Jenderal Hulusi Akar pada Minggu.

Untuk meningkatkan tekanan kepada para pemimpin Kurdi, kedua negara ini dalam beberapa hari terakhir telah melakukan manuver militer di lokasi dekat perbatasan mereka dengan wilayah Kurdi Irak yang otonom.

Latihan tersebut juga melibatkan kekuatan pemerintah federal Baghdad, yang menuntut pembatalan pemungutan suara pada tanggal 25 September lalu, yang mayoritas (92,7 persen) ingin merdeka.

Postcomended   Dr Zakir Naik Kehilangan Kewarganegaraan dalam Pelariannya

“Kerjasama antara Iran, Turki, dan Irak, dapat menciptakan stabilitas dan keamanan di wilayah tersebut dan menghalangi langkah pemisahan diri,” kata Menteri Pertahanan Iran, Amir Hatami, saat bertemu Hulusi Akar, Selasa.

Baghdad memberlakukan larangan atas semua penerbangan internasional ke bandara Kurdi pada Jumat (29/9/2016), yang memicu eksodus orang asing. Iran telah memerintahkan penghentian semua perdagangan produk bahan bakar dengan Kurdistan Irak dan mengatakan akan mengizinkan pasukan federal Irak untuk ditempatkan di penyeberangan perbatasannya dengan wilayah tersebut.

Sementara itu Turki mengancam akan menutup perbatasan darat dan menghentikan ekspor minyak dari Kurdistan Irak ke pelabuhan Ceyhan, jalur kehidupan ekonomi. Erdogan sesumbar pada Sabtu bahwa Kurdistan Irak “akan membayar harga” untuk referendum yang “tidak dapat diterima”.

Sejak 1984, Turki telah memerangi pemberontakan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang telah dilarang, yang memiliki basis pendukung di Irak utara dan yang pada awalnya berusaha menciptakan negara sendiri.

Dua kelompok pemberontak Kurdi yang aktif di Iran adalah Partai Demokratik Kurdistan Iran (KDPI) dan Partai Kehidupan Bebas di Kurdistan (PJAK).

***

Iran dan Turki adalah negara yang tidak pernah akur selama berabad-abad, namun baru-baru ini berusaha membangun hubungan pragmatis. Apalagi Republik Islam ini sangat mendukung Erdogan setelah satu dugaan kudeta terhadapnya dianggap gagal pada tahun lalu.

Postcomended   Aleppo pun Menangis

Kedua pemerintah bertentangan dalam perang sipil enam tahun di Suriah, namun hubungan telah mencair tahun ini setelah keduanya bergabung dengan Rusia sebagai koordinator perundingan perdamaian yang dimulai di Kazakstan pada Januari 2017.

Iran dan Turki juga sama-sama berbagi simpati pada Qatar dalam sebuah krisis diplomatik yang meletus antar negara-negara Teluk ini (antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain) pada pertengahan 2017.

Kondisi ini jauh berbeda dari kunjungan Erdogan ke Tehran pada Januari 2015, ketika sejumlah anggota parlemen Iran meminta Erdogan menarik ucapannya yang menuduh Iran berusaha “mendominasi wilayah” dan menuntut agar Iran menarik pasukannya dari Irak dan Suriah.(***/AFP)

‌ اراده دولت #ایران و #ترکیه بر افزایش مبادلات تجاری دو کشور تا مرز ۳۰ میلیارد دلار است. توسعه روابط بانکی، تجارت با پول ملی و فعالیت ۲۴ ساعته سه مرز میان دو کشور برای ترانزیت کالا، از جمله تصمیماتی بود که در مذاکرات امروز با رئیس‌جمهور ترکیه اتخاذ شد. ‌ مردم کردستان عراق، همسایگان خوب و برادران عزیز ما هستند و نمی‌خواهیم فشاری بر آن‌ها وارد شود؛ اما تجزیه‌طلبی و تشدید اختلافات قومیتی و مذهبی را که از سوی بیگانگان برای منطقه ما طراحی شده، نمی‌پذیریم. در این خصوص ایران و ترکیه، موضع قاطع و واحدی دارند و تغییر مرزهای جغرافیایی را به هیچ وجه نخواهند پذیرفت. ‍ طی این سفر، ۴ یادداشت تفاهم همکاری‌ میان ایران و ترکیه به امضا رسید. ‌ 📷 عکس: حجت سپهوند @HojatSepahvand، مراسم استقبال از «رجب طيب اردوغان» رئیس‌جمهور ترکیه، مجموعه سعدآباد، ٩۶/٧/١٢. ‌

A post shared by Hassan Rouhani • حسن روحانی (@hrouhani) on

 

Postcomended   Riz Ahmed, Muslim dan Asia Pertama yang Memenangkan Emmy Awards

 

Share the knowledge