Internasional

Kehadiran Pembom Cina di Spratly Bikin Gerah Filipina dan AS

Pangkalan Militer Cina di Sekitar Natuna | KASKUS Kaskus

Pangkalan Militer Cina di Sekitar Natuna | KASKUS Kaskus

Dalam keplin-planan Presiden Filipina mengenai hegemoni Cina di Laut Cina Selatan, atau yang oleh Filipina secara sepihak disebut sebagai Laut Filipina Barat, melalui juru bicaranya, Senin (21/5/2018), Filipina akhirnya menyatakan “keprihatinan serius” atas kehadiran pesawat-pesawat pembom Cina di laut yang disengketakan enam negara ini. Mengamati perkembangan, sang polisi dunia, Amerika Serikat, telah mengirim kapal ke wilayah yang disengketakan itu untuk memastikan perairan tetap bebas.

Pernyataan keprihatinan tersebut disampaikan juru bicara kepresidenan, Harry Roque, dalam jumpa pers reguler di istana kepresidenan, Senin, dengan alasan bahwa hal ini akan berdampak pada upaya menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan itu.

Sebelumnya, angkatan udara Cina melalui publikasi di akun mikroblogging Weibo, mengumumkan bahwa pembom seperti H-6K telah mendarat dan lepas landas dari pulau-pulau dan terumbu karang di Laut Cina Selatan (LCS) sebagai bagian dari latihan militernya minggu lalu.

Publikasi tersebut menggambarkan latihan ini dilakukan sebagai persiapan untuk “Pasifik Barat dan pertempuran untuk Laut Cina Selatan”. Amerika Serikat (AS) cepat bereaksi dengan mengirim kapal perang ke wilayah-wilayah yang disengketakan di LCS dalam upaya menantang klaim kedaulatan Cina di wilayah itu.

Postcomended   Kapten Pesawat MH370 Mengajak Penumpang ke Kematian

Awalnya Duterte tidak ingin menanggapi serius latihan militer ini, dengan alasan bahwa dia telah melakukan pembicaraan dengan Cina bahwa LCS yang kaya minyak dan gas alam ini akan dikelola bersama.

Duterte membela posisinya untuk tidak mengonfrontasi Cina, seakan menyadari kelemahan militernya dibanding Cina. “Dengan hipersonik mereka, mereka dapat mencapai Manila dalam 7 hingga 10 menit. Jika kita akan pergi ke perang besar, di mana Filipina akan berakhir?” kata Duterte, Sabtu (19/5/2018), dilansir Reuters.

Berbeda dengan Duterte, anggota parlemen oposisi Filipina menarik reaksi marah atas latihan militer Cina ini. Mereka mengritik Duterte yang tidak mau mengonfrontasi Cina dalam preferensi “memenangkan persahabatan Cina”.

Kemarahan parlemen Filipina ini wajar mengingat pengadilan arbitrase di Den Haag pada 2016 telah berpihak pada Manila atas perairan yang dipersengketakan itu. Namun seperti diketahui, Cina tak mau mengakui keputusan sidang arbitrase tersebut.

Sikap akomodatif Duterte pada Cina tampaknya berubah dalam kurang dari dua hari. Ada dugaan, Duterte pada Sabtu itu masih belum menyadari ancaman serius atas kehadiran pembom Cina di LCS tersebut.

Postcomended   Menjaga Keunikan Leuser

Departemen Luar Negeri di Filipina mengatakan sedang memantau perkembangannya, seraya menegaskan dalam sebuah pernyataan bahwa negaranya berkomitmen melindungi setiap inci wilayahnya.

Namun, kementerian luar negeri Filipina tidak mau mengutuk tindakan Cina, meskipun Washington telah memanas-manasi bahwa latihan militer itu dapat meningkatkan ketegangan dan mengguncang kawasan.

Diklaim Enam Negara
Cina mengklaim hampir seluruh LCS; jalur air strategis di mana barang-barang laut yang bernilai sekitar 3 triliun dolar AS melewati perairan ini setiap tahun. Masalahnya, lima negara lain yakni Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam, juga memiliki klaim sepihak masing-masing.

Namun ketika negara lain mengklaim sebatas pernyataan, Cina telah beraksi nyata. Di sana, Cina telah membangun tujuh pulau buatan di kelompok Spratly dan mengubahnya menjadi pos-pos militer dengan lapangan terbang, radar, dan pertahanan rudal.

Spratly adalah sebuah gugus pulau di LCS yang bagaikan wanita cantik yang diperebutkan setengah lusin lelaki. Beijing seperti dilaporkan Reuters, telah mengeluarkan pernyataan bahwa fasilitas militernya di Spratly murni defensif (untuk pertahanan) dan dapat melakukan apa yang disukainya di wilayahnya sendiri.

Menyadari kelemahan, Roque menegaskan bahwa Filipina telah meyakinkan AS bahwa mereka tidak akan meninggalkan aliansi keamanan dengan negeri adidaya ini yang telah terjalin selama 70 tahun.

Postcomended   Jangan Hanya Lewat Saja Saat Mudik Lebaran Tapi Destinasi Terbaik Serang Ini Wajib Dikunjungi

Pernyataan ini disampaikan setelah beberapa pejabat senior Filipina bertemu pekan lalu dengan para pejabat Komando Pasifik AS di Hawaii. Kepada Reuters, juru bicara Pentagon, Letnan Kolonel Christopher Logan, mengatakan, AS tetap berkomitmen untuk Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top