Internasional

Kekhawatiran Teman SMA Pelaku Bom Surabaya Akhirnya Terbukti

Ungkap Perilaku Terduga Teroris Dita Supriyanto Semasa SMA, Adik ... Solo Tribunnews Ungkap Perilaku Terduga Teroris Dita Supriyanto Semasa SMA, Adik Kelas: Kekhawatiran Saya Terjadi

Ungkap Perilaku Terduga Teroris Dita Supriyanto Semasa SMA, Adik … Solo Tribunnews Ungkap Perilaku Terduga Teroris Dita Supriyanto Semasa SMA, Adik Kelas: Kekhawatiran Saya Terjadi

Keluarga Dita Supriyanto, yang pada Ahad (13/5/2018) meledakkan diri mereka di tiga gereja di Surabaya, ternyata tidak pernah berangkat ke Suriah. Namun keluarga ini menurut polisi, berhubungan dengan satu keluarga yang pernah dideportasi oleh pemerintah Turki. Ihwal Dita, seorang teman satu sekolahnya di Surabaya, merasa tak heran dengan aksi bom bunuh dirinya. Pasalnya, bibit radikalisme dalam diri Dita sudah terlihat sejak SMA.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan, keluarga pelaku bom bunuh diri di Surabaya tidak pernah ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS, seperti yang dinyatakan Ahad. Namun kata Tito, ada keterkaitan antara keluarga tersebut dengan jaringan teror di Suriah, yakni dengan satu keluarga yang pernah dideportasi oleh pemerintah Turki.

Keluarga yang dideportasi Turki itu, menurut Tito, berperan sebagai ideolog dalam jaringan teror yang dibangun keluarga pelaku bom Surabaya. Namun kata Tito tanpa menyebut identitas keluarga yang dimaksud, saat ini polisi masih mencari keberadaan keluarga tersebut.

Sementara itu, Ahmad Faiz Zainuddin, seorang yang mengaku sempat mengenal Dita di SMA dan perguruan tinggi, menulis testimoninya mengenai Dita di akun Facebook-nya, Senin (14/5/2018). Menurutnya, kekhawatirannya sejak 25 tahun lalu akhirnya benar-benar terjadi.

Postcomended   Daripada Keburu Osteoporosis, Mending Perhatikan 7 Hal Ini

Menurut Ahmad, Dita adalah kakak kelasnya di SMAN 5 Surabaya, lulusan 1991. Dia juga satu almamater dengan Dita di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair). “Saya tidak pernah kenal langsung sama dia, tapi cukup bisa berempati dan memahami pergolakan batin dan nuansa pemikiran garis kerasnya,” tulis Ahmad.

Ahmad mengaku bahwa saat SMA dan terutama saat kuliah di Unair, dia mengeksplorasi berbagai pemikiran Islam yang berkembang di lingkungannya melalui kegiatan-kegiatan pengajian. Ada yang menenteramkan, mengajak pada kepedulian sosial, namun ada juga yang menyemai benih-benih ekstremisme-radikalisme, bahkan mengadakan program simulasi perang-perangan.

“Pernah di satu pengajian saat saya kuliah di UNAIR, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi. Sesampai di sana ternyata peserta pengajian di-brainwash tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan untuk menegakkan ini kita perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita untuk disetor ke mereka,” ungkap Dita.

Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis Islam tersebut, Ahmad menyadari bahwa ada banyak versi dan cara orang memahami Islam. Misalnya saja kata Ahmad, mulai dari yang paling radikal sampai liberal, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dll.

Akan tetapi Ahmad melihat, dari semua versi tersebut dia paling mengkhawatirkan aliran yang dianut Dita, yang memang kemudian diketahui sebagai Ketua Jamaah Anshorut Daulah (JAD) Cabang Surabaya.

Postcomended   Bahan Pendingin 1930-an Muncul Lagi di Lapisan Ozon

“Saya sedih sekali akhirnya ini benar-benar terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak ‘jihad’-nya, karena benih-benih ekstremisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu,” ujar lulusan SMA tahun 1995 ini.

Yang seperti Dita, kata Ahmad, tidak hanya satu. Temannya yang lain yang menjadi ketua kegiatan rohani Islam saat duduk di SMA, juga tak kalah radikal. Dia kata Ahmad, menolak ikut upacara bendera karena dianggap syirik, menyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah, bahkan pemerintah Indonesia adalah thoghut.

Namun kata Ahmad, pihak sekolah kala itu (sekitar akhir 1980-an atau awal 1990-an –redaksi), seperti tidak menganggap terlalu serius. Apalagi yang bersangkutan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati. Ahmad menduga, orang-orang model ketua rohis-nya ini ada di hampir semua SMA dan kampus di Surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

“Yang ingin saya katakan, terorisme dan budaya kekerasan yang kita alami saat ini adalah panen raya dari benih-benih ekstremisme-radikalisme yang telah ditanam sejak 30-an tahun lalu di sekolah-sekolaj dan kampus-kampus. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yang saya rasakan zaman saya SMA dan kuliah dulu,” ujar Ahmad yang juga lulusan Psikologi Unair ini.

Ahmad lalu mengutip ucapan Muhammad Abduh, cendekiawan muslim abad ke-20 yang mengatakan “al-Islamu Mahjubun bil muslimin”, Keindahan Islam ini terhijabi/tertutupi oleh akhlak buruk sebagian umat islam sendiri”.

Postcomended   29 Juni dalam Sejarah: Salah Satu Gerhana Matahari Tertua yang Terekam Terjadi di Irlandia

Dita Supriyanto diketahui sebagai suami Puji Kuswati dan ayah dari Yusuf Fadil (18), Firman Halim (16), Fadila Sari (12) dan Pamela Rizkita (9). Keluarga ini Ahad meledakkan diri di tiga gereja di Surabaya. Sebanyak 13 orang tewas dan 41 luka-luka.

Selang beberapa jam di hari sama, bom juga meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, yang menewaskan tiga orang dan melukai dua anak-anak. Keesokan harinya, teror juga menimpa Mapolrestabes Surabaya.

Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah para tahanan kasus terorisme membunuh lima anggota polisi yang disandera pasca-kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5/2018). (***/CNNindonesia/republika/facebook)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top