Internasional

Kematian Kapten Acosta Coreng Wajah UU Anti-Penyiksaan yang Telah Ditandatangani Presiden Maduro

Share the knowledge

Kesetiaan militer adalah kunci mempertahankan kekuasaan. Karenanya, Presiden Nicolas Maduro disebut melanggar UU anti kekerasan yang telah ditandatanganinya pada 2013 demi mempertahankan kekuasaan, merujuk pada kasus kematian Kapten Rafael Acosta (Kedit: Juan Barreto/AFP/Getty Images, via https://www.npr.org/2018/08/04/635681696/reports-venezuelas-president-maduro-is-unharmed-after-attack)

Kesetiaan militer adalah kunci mempertahankan kekuasaan. Karenanya, Presiden Nicolas Maduro disebut melanggar UU anti kekerasan yang telah ditandatanganinya pada 2013 demi mempertahankan kekuasaan, merujuk pada kasus kematian Kapten Rafael Acosta (Kedit: Juan Barreto/AFP/Getty Images, via https://www.npr.org/2018/08/04/635681696/reports-venezuelas-president-maduro-is-unharmed-after-attack)

Seminggu setelah pasukan intelijen Venezuela menahan seorang pensiunan kapten angkatan laut, dia muncul di pengadilan militer menggunakan kursi roda dan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan. “Tolong aku,” bisiknya  kepada pengacaranya. Hari itu juga dia meninggal.

Jasad Kapten Rafael Acosta dimakamkan tiga minggu kemudian, pada 10 Juli 2019, dengan melawan keinginan istrinya, dikelilingi penjaga keamanan, dan dalam plot rezim pemerintah. Kelima anggota keluarga yang diizinkan hadir tidak dapat melihatnya; mayatnya dibungkus plastik cokelat.

Menurut bagian laporan otopsi yang bocor, Kapten Acosta menderita trauma benda tumpul dan sengatan listrik. Pemerintah pun mengakui, kekerasan berlebihan telah digunakan. Kematiannya merupakan indikasi bagaimana pemerintah Presiden Nicolas Maduro telah mengubah aparat menjadi penindas militernya sendiri  dalam upaya keras mempertahankan kendali atas angkatan bersenjata.

Para pemimpin militer top telah berulang kali menyatakan kesetiaan mereka kepada pemerintah Maduro. Tetapi selama dua tahun terakhir, ketika ekonomi kaya minyak ini hancur dan mayoritas rakyat Venezuela dibiarkan tanpa makanan dan obat-obatan yang memadai, faksi-faksi di dalam pasukan keamanan telah melakukan setidaknya lima upaya untuk menggulingkan atau membunuh Maduro.

Pemerintah mengklaim telah menggagalkan setidaknya selusin plot dalam periode itu, termasuk skema di mana Kapten Acosta dan lima lainnya yang ditahan, dituduh ikut terlibat. Media pemerintah Venezuela menyebutnya sebagai aliran ancaman nyata dan yang dibayangkan sebagai kudeta berkelanjutan.

Menurut PBB, para pembela hak asasi manusia, dan keluarga korban, Partai Sosialis Maduro menggunakan alasan ini untuk membenarkan dilakukannya pengawasan di mana-mana, penahanan sewenang-wenang, dan penyiksaan terhadap musuh-musuh politiknya, termasuk yang ada di dalam 160.000 anggota pasukan angkatan bersenjata Venezuela.

Menurut Koalisi untuk Hak Asasi Manusia dan Demokrasi, organisasi nirlaba yang berbasis di Caracas yang mewakili beberapa orang, saat ini terdapat 217 perwira aktif dan pensiunan yang ditahan di penjara Venezuela, termasuk 12 jenderal.

Postcomended   Studi: Dampak Buruk Media Sosial bagi Remaja Telah Dilebih-lebihkan

Organisasi ini telah mendokumentasikan 250 kasus penyiksaan yang dilakukan oleh pasukan keamanan Venezuela terhadap perwira militer, kerabat dan aktivis oposisi mereka sejak 2017. Banyak korban telah menghabiskan bertahun-tahun di penjara tanpa pengadilan. Hanya sedikit yang telah dihukum karena kejahatan dan sebagian besar bahkan belum didakwa.

Pelanggaran-pelanggaran ini dibawa ke perhatian internasional bulan lalu, ketika Michelle Bachelet, komisaris HAM PBB, menerbitkan laporan pedas yang mengatakan pemerintah Venezuela menjadikan para tahanan yang dipandang sebagai lawan politik sebagai sasaran “kejutan listrik, mati lemas dengan kantong plastik, water boarding (suatu teknik interogasi dengan sensasi seperti tenggelam), pemukulan, kekerasan seksual, kekurangan air dan makanan, posisi stress, hingga paparan suhu ekstrem”.

Kian Hancur Sejak Disanksi AS

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), sejak Maduro berkuasa, Venezuela telah kehilangan dua pertiga dari produk domestik bruto (PDB)-nya. Kondisi memburuk setelah Washington marah atas retorika dan taktik represif Maduro, dan kemudian mendukung oposisi dan menjatuhkan sanksi yang melumpuhkan industri minyak.

PBB memperkirakan, empat juta rakyat Venezuela telah melarikan diri dari kondisi yang memburuk ini. Sementara Maduro telah berusaha memastikan kesetiaan petinggi militer dengan iming-iming promosi dan kontrak yang menguntungkan, perwira menengah dan bawah dan keluarga mereka semakin terpengaruh oleh krisis. Itu membuat mereka gelisah.

Pengacara koalisi Koalisi untuk Hak Asasi Manusia dan Demokrasi, Ana Leonor Acosta (yang tidak terkait hubungan apapun dengan Kapten Acosta) mengatakan, “Rasa lapar datang ke barak dan barisan militer (military ranks) dipenuhi pembangkangan,” kata Acosta.

Angkatan bersenjata, imbuh Acosta, dicengkeram paranoia, kecurigaan dan perpecahan antara yang mendukung pemerintah dan yang tidak. Istilah military ranks dapat dijelaskan sebagai sistem hubungan hierarkis dalam angkatan bersenjata.

Di masa lalu, pemerintah telah membantah tuduhan penyiksaan sistematis, menyalahkan kasus-kasus spesifik tentang ekses terisolasi yang dilakukan oleh agen-agen “rank-and-file” (istilah “rank and file” dalam kemiliteran dapat dijelaskan sebagai formasi dalam pasukan militer dimana pasukan akan berdiri di samping satu sama lain (rank/pangkat) dan dalam barisan (file) ketika berbaris, sementara perwira akan berbaris di luar formasi).

Postcomended   Buku Putih Beijing: Uyghur Menjadi Muslim Melalui Kekerasan

Dalam kasus Kapten Acosta, pemerintah menahan dua prajurit berpangkat rendah yang menandatangani perintah penahanannya. Diosdado Cabello, kepala partai pemerintah Venezuela, mengatakan, penyelidikan pemerintah menemukan bahwa kedua tentara itu menggunakan kekuatan berlebihan ketika Kapten Acosta menentang penangkapan.

Jadi kata Cabello, merekalah yang (sehausnya) bertanggung jawab, karena ini bukan kebijakan negara. Pengkritik pemerintah Maduro meyakini, kedua prajurit itu adalah kambing hitam atas keputusan yang dibuat di istana presiden. “Ini adalah keputusan Maduro,” kata Jenderal Figuera, mantan kepala intelijen Venezuela. “Dia yang memberi perintah di sana.”

Keluarga Kapten Acosta juga percaya apa yang terjadi padanya termasuk dalam pola pelecehan oleh negara.
Istri Kapten Acosta, Waleswka Pérez, dalam sebuah wawancara mengatakan, Apa yang terjadi pada suamiku telah terjadi cukup lama dan ada banyak ketakutan, karena mereka mampu melakukan apa saja.”

Metode penyiksaan yang dilakukan rezim Maduro bertentangan dengan janji pemerintahan sosialis-nya yang berkuasa sejak dua dekade lalu yang akan menghapuskan pelanggaran HAM para pendahulunya. Maduro sendiri menandatangani undang-undang anti-penyiksaan pada 2013, tak lama setelah mengambil alih kepresidenan setelah kematian pendahulu dan mentornya, Hugo Chavez.

“Pemerintah sosialis harus menjadi pemerintah humanis, tidak bisa menyiksa siapa pun,” kata Chavez pada 2006, saat peresmian sekolah yang dinamai politisi kiri Jorge Rodriguez, yang disiksa dan dibunuh pasukan keamanan Venezuela pada 1976.

Anak-anak Tuan Rodriguez, Jorge dan Delcy, kini menjadi penasihat utama Maduro, dan telah mengambil peran dalam membenarkan penindasan politik oleh Maduro. Dalam pidato yang disiarkan televisi, Jorge Rodriguez mengklaim Kapten Acosta dan orang-orang lainnya yang ditahan pada hari yang sama berencana membunuh para pemimpin pemerintah.

Dia juga berbagi video yang katanya menunjukkan Kapten Acosta membahas rencana kudeta. Iklim rasa takut paling gambling dirasakan di Maracay, ibukota militer Venezuela, rumah bagi pangkalan udara utama dan akademi militer.

Postcomended   3 Mei dalam Sejarah: Novel "Gone with the Wind" Mendapatkan Pulitzer, Lalu Diapdaptasi Menjadi Film

Silsilah militer kota ini telah lama menjadikannya sarang persekongkolan. Dari sinilah seorang komandan penerjun payung, Hugo Chavez, melakukan kudeta terhadap pemerintah demokratis Venezuela pada 1992. Dia gagal, tetapi berhasil menjadi presiden tujuh tahun kemudian. Pada 2002, pasukan terjun payung Maracay bangkit untuk mengembalikan Chavez, yang (juga) dikudeta, ke tampuk kekuasaan.

Sepupu Kapten Acosta, Carmen Acosta, salah satu dari sedikit anggota keluarga dekat yang diizinkan menghadiri pemakamannya, mengatakan mereka percaya Acosta tidak bersalah. “Mereka bahkan tidak menuntutnya,” katanya. “Dia mati, tak berdaya, tidak bersalah dan sendirian.”

Pengacara HAM mengatakan semakin sulit mendokumentasikan dan mengecam kasus-kasus penyiksaan di Venezuela. Kampanye ketakutan pemerintah menyebar jauh melampaui para perwira yang dituduh, meneror anggota keluarga, perwakilan hukum, rekanan dan seluruh masyarakat.

Di Maracay, keluarga Kapten Acosta mengatakan mereka hidup dalam ketakutan. Ibunya yang berusia 80 telah mengasingkan diri, bahkan menolak menemui kerabat dekatnya karena takut hal itu dapat membahayakan mereka.

Carmen mengatakan dia memutuskan untuk berbicara kepada pers setelah berminggu-minggu kesedihan. “Jika kita tetap diam, mereka menang,” katanya, menahan air mata. “Ini yang mereka inginkan: membuat semua orang hidup dalam ketakutan.” Tulisan ini sepenuhnya berasal dari The New York Times, setelah melalui proses terjemahan dan editing secukupnya.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top