Ekonomi

Kembali ke Negerinya Sejak Ditembak Taliban, Malala Hujan Pujian Sekaligus Sinisme

5 Tahun Usai Ditembak Taliban, Malala Kembali ke Pakistan untuk ... Liputan6.com 20170412-Malala Yousafzai jadi warga negara kehormatan Kanada-AP

5 Tahun Usai Ditembak Taliban, Malala Kembali ke Pakistan untuk … Liputan6.com 20170412-Malala Yousafzai jadi warga negara kehormatan Kanada-AP

Hampir enam tahun sejak peristiwa penembakannya oleh seorang pria Taliban di dalam sebuah bus yang mengantarkannya ke sekolah, gadis yang kala itu masih remaja itu Kamis (29/3/2018) kembali ke negerinya untuk pertama kalinya. Kedatangan gadis tersebut, Malala Yousafzai (20), dilaporkan pejabat setempat. Malala ditembak di kepala kala itu, karena dia aktif mengadvokasi pendidikan untuk anak perempuan melalui blog.

Kedatangan mendadaknya bersama orang tuanya, di bawah pengamanan ketat di bandara internasional Islamabad, Pakistan. Gelombang reaksi di media sosial, tak terbendung. Banyak orang Pakistan menyambut keberaniannya, tetapi yang lain menuduh kedatangannya sebagai konspirasi untuk menimbulkan perbedaan pendapat.

Dari AFP, Malala dihormati secara internasional untuk aktivismenya, tetapi pendapat mengenainya terpecah di Pakistan. Sejumlah kalangan konservatif memandangnya sebagai agen Barat untuk mempermalukan negaranya.

Dia diharapkan bertemu dengan Perdana Menteri Shahid Khaqan Abbasi selama empat hari perjalanan. Namun menurut juru bicara kantor luar negeri Pakistan, Muhammad Faisal, kepada AFP, dengan alasan keamanan jadwal perjalanannya tidak diungkapkan. “Kami menyambut Malala. Dia kembali ke rumah. Ini adalah perkembangan positif,” kata Faisal, seraya menyebut dia “salah satu anak perempuan kami yang muda dan brilian” dan menambahkan bahwa orang Pakistan harus menghormatinya.

Warga lembah Swat, tempat Malala pernah tinggal hingga peristiwa penembakannya, mengatakan, mereka tidak pernah membayangkan dia akan kembali. “Dia mengalahkan kekuatan gelap ketakutan,” kata Rida Siyal, seorang mahasiswa yang mengaku teman baik Malala sebelum penembakan itu, kepada AFP.

Ahmad Shah, yang mengaku teman ayah Malala, menyebutnya “simbol keberanian”. Tapi menurutnya, seharusnya Malala pulang lebih awal.

Malala menjadi simbol global untuk hak asasi manusia setelah seorang pria bersenjata menaiki bus sekolahnya di Swat pada 9 Oktober 2012, bertanya “Siapa (yang bernama) Malala?” dan menembaknya. Dia dirawat karena luka-lukanya di kota Birmingham, Inggris, di mana dia juga menyelesaikan sekolahnya.

Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian termuda pada 2014 ini, meneruskan aktivitasnya sebagai advokator untuk pendidikan anak perempuan sambil mengejar studinya di Universitas Oxford.

Atas kedatangannya, kantong-kantong kritik keras muncul di antara beberapa orang Pakistan. Mereka Antara lain pihak  yang memandangnya secara negatif, termasuk muslim garis keras, serta anggota kelas menengah konservatif yang mendukung pendidikan bagi para gadis, tetapi menolak menyiarkan masalah-masalah negara di luar negeri.

Mengenai kunjungan Malala, seorang jurnalis Pakistan terkemuka, Hamid Mir, meminta politisi dan komentator menahan diri dalam berbicara. “Media internasional sangat fokus pada kepulangannya dan ini (pendapat-pendapat miring) akan merusak citra Pakistan,” katanya.

Warga Pakistan lainnya menggemakan keprihatinannya di media sosial. “Dear Pakistan! Malala bukan musuhmu. Musuh-musuhmu adalah monster-monster yang menembakinya dalam perjalanan ke sekolah,” cuit Shahira Lashari di Twitter.

Malala memulai kampanyenya pada usia 11 tahun, ketika dia mulai menulis blog dengan nama samara, untuk layanan Urdu BBC pada 2009, tentang kehidupan di Swat di bawah rezim Taliban yang melarang pendidikan bagi anak perempuan.

Pada tahun 2007, militan Islam mengambil wilayah yang oleh Malala dengan sayang disebut “My Swat”, dan menerapkan aturan brutal.

Para penentang terbunuh, orang-orang dicambuk di depan umum karena dianggap melanggar hukum syariah, wanita dilarang pergi ke pasar, dan para gadis dihentikan pergi ke sekolah.

Namun setelah penembakan itu, dan pemulihan fisiknya yang nyaris ajaib, Malala menjadi sosok yang benar-benar mengglobal. Dalam penampilannya baru-baru ini di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Malala mendesak perempuan untuk “mengubah dunia” tanpa menunggu bantuan laki-laki. “Kami tidak akan meminta pria untuk mengubah dunia, kami akan melakukannya sendiri. Kami akan membela diri kami sendiri, kami akan meningkatkan suara kami dan kami akan mengubah dunia,” kata Malala di forum tersebut.(***/AFP)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top