Kemesraan Trump dan Putin Patahkan Hati Pemberontak Suriah Medium590 × 350Search by image

Kemesraan Trump dan Putin Patahkan Hati Pemberontak Suriah Medium590 × 350Search by image

Panjang dan mesra. Itulah gambaran pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada 7 Juli 2017, di arena KTT G20. Hingga pada Kamis (20/7/17), AS dikabarkan akan menghentikan bantuan senjata kepada pemberontak Suriah. Seperti diketahui, dalam perang di Suriah, Rusia dan AS mendukung kubu berbeda yang membuat hubungan kedua negara di masa Presiden Barrack Obama ini, memanas.

Dalam pertemuan di ajang KTT G20 yang digelar di Hamburg, Jerman, itu, saking mesranya Trump dan Putin, Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, sampai mengingatkan Trump lebih dari sekali tentang waktu yang terbatas.

Pada Kamis, 20 Juli 2017 ini, Trump pun sampai pada keputusan untuk mengakhiri program “mempersenjatai dan melatih kelompok-kelompok pemberontak Suriah” yang dihelat Badan Intelijen Pusat (CIA/Central Intelligent Agency) saat masih di bawah Presiden Obama.

Postcomended   Ajang karnaval bertajuk “The Colours of Nusa Dua” ini akan berlangsung pada 11- 15 Oktober 2017 di Pulau Peninsula the Nusa Dua

Keputusan ini disebutkan tanpa mengurangi upaya AS memerangi ISIS di Suriah dan Irak, melalui pasukan koalisi yang dipimpin AS.

Dikutip dari The Washington Post, para pejabat AS mengatakan, ini adalah bagian dari upaya pemerintah memperbaiki hubungan dengan Rusia. Sejauh ini, Negeri Beruang Merah ini konsisten bahwa sikap anti Assad merupakan serangan terhadap kepentingan mereka.

Sementara itu, AS tampak plin-plan karena tiga bulan lalu saja mereka masih berusaha memojokkan Assad dengan menuduhnya menggunakan senjata kimia hingga Trump memerintahkan serangan udara ke pangkalan udara Suriah.

Postcomended   Hari pertama International Travel and Trade Expo (ITTE 2018)

Sejumlah pejabat AS menuturkan, kebijakan Trump menghentikan program ini terjadi hampir satu bulan setelah pertemuan di Ruang Oval Gedung Putih antara lain bersama Direktur CIA, Mike Pompeo.

Ihwal dukungan persenjataan AS melalui CIA kepada pemberontak Suriah yang ingin menggulingkan Assad, awalnya tidak diakui terbuka. Hingga pada 25 Maret 2013, New York Times membeberkannya.

Dalam laporan itu, seperti dilansir detikcom, CIA disebutkan berperan dalam mengakomodasi lalu lintas persenjataan untuk oposisi alias pemberontak Suriah.

Proses pengangkutan senjata yang awalnya dalam skala kecil pada awal 2012, meningkat tajam. Sebanyak 160 penerbangan kargo militer dari Yordania, Arab Saudi, dan Qatar, diduga “diamankan” oleh CIA.***(ra)

Postcomended   2D1N EXPLORE PULAU PARI