Wisata

Kesal pada Sampah Wisatawan, Kota Ini Keluarkan Larangan Makan Sambil Berjalan

Share the knowledge

 

Patung "Buddha Raksasa", salah satu tujuan wisata orang non Jepang (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=xdEc6g-SEBk)

Patung “Buddha Raksasa”, salah satu tujuan wisatawan di Kamakura (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=xdEc6g-SEBk)

Jepang, dalam hal ini kota Kamakura di prefektur Kanagawa, cemas dengan membludaknya wisatawan asing. Pasalnya, kelakuan wisatawan dinilai menimbulkan masalah sampah dan kejorokan di kota yang bersih ini, seperti umumnya kota-kota di Jepang lainnya.

Karenanya, meskipun tanpa konsekuensi hukum tertentu, otoritas Kamakura telah mengeluarkan peraturan resmi yang meminta pengunjung untuk tidak makan sambil berjalan. Aturan dikeluarkan sejak April 2019 lalu.

Dilansir CNN, salah satu masalah utama kota-kota di Jepang ini adalah sampah dari kemasan dan sisa makanan dapat menarik hewan dan membuat kekacauan, yang pada akhirnya harus dibersihkan penduduk setempat.

Kamakura berjarak sekitar 30 km barat daya Yokohama. Kota ini merupakan rumah bagi beberapa kuil paling terkenal di negara itu, serta menawarkan pantai yang indah. Kamakura juga adalah rumah bagi Buddha terbesar di Jepang.

Seorang perwakilan dari kota Kamakura mengatakan kepada CNN bahwa peraturan tersebut –yang dipasang di tempat umum– dibuat untuk membangun kesadaran akan masalah ini daripada untuk menghukum para pelancong. Tidak ada denda atau kutipan untuk orang yang melanggar.

Postcomended   Presiden Donald Trump Mulai Usik Perdagangan dengan Indonesia

Secara khusus, Komachi-dori, jalan yang sibuk dengan banyak took di Kamakura, telah menjadi fokus perhatian ketika urusannya berkaitan dengan makan di luar rumah alias jajan makanan jalanan.

Japan Today melaporkan bahwa 50-60 ribu orang mengunjungi Komachi-dori setiap hari, yang tampaknya lebih luar biasa ketika Anda menyadari bahwa jalan itu hanya sepanjang 350 meter.

Namun, kekhawatiran tentang makan sambil berjalan tidak hanya terkait dengan potensi kejorokan akibat tumpahan makanan. Banyak orang Jepang percaya bahwa berjalan-kaki atau melakukan aktivitas fisik lainnya saat makan adalah perilaku buruk, karena perilaku itu dianggap tidak menghargai makanan.

Postcomended   AS Desak Para Sekutunya Memboikot Produk Huawei

Bagi sebagian orang, kepercayaan ini berakar pada Perang Dunia II, ketika makanan langka dan itu sesuatu yang harus dihargai, tidak diperlakukan dengan santai.

Ide melarang turis makan sambil berjalan juga diterapkan di Florence, Italia. Otoritas kota memiliki larangan langsung makan di trotoar, jalan raya, dan di depan pintu toko-toko dan rumah-rumah. Ini bukan hanya tentang kebersihan –ini adalah bagian kota yang sangat sibuk dan ramai, dan orang-orang yang duduk di trotoar membuat lebih sulit bagi orang lain untuk berjalan-jalan.

Dalam kasus Florence, pembatasan tersebut disertai dengan denda yang curam, yakni 500 euro (atau sekitar: 581 dollar AS). Sementara itu, sebuah kota dengan makanan jalanan terbaik di dunia, Bangkok, telah mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan dengan pasar luar dan kedai makanannya selama beberapa waktu.

Beberapa penduduk setempat menginginkan pembatasan atau bahkan penutupan karena kerumunan orang yang terus bertambah. Namun yang lain percaya akan ada media bahagia antara budaya pedagang kaki lima yang hidup dan tidak menghalangi jalan kehidupan sehari-hari, seperti memblokir jalur lalu lintas.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top