Selebritas Hollywood berselfie di sela ajang Academy Awards (http://static5.businessinsider.com/image/5313f580ecad040c1299abb1-805-604/oscar%20image%20photo.jpg)

Jika Anda merasakan dorongan untuk melakukan selfie (swafoto), Anda mungkin memiliki “psychological complex” yang sebenarnya, demikian ungkap sebuah penelitian. Kondisi ini disebut selfitis; tindakan selfie yang berlebihan.

Istilah ini pertama kali diciptakan pada 2014 sebagai bagian dari artikel berita palsu yang mengklaim bahwa selfitis akan dianggap sebagai gangguan mental oleh American Psychiatric Association.

Namun para periset melihat fenomena tersebut –setelah gangguan terkait teknologi lainnya seperti “nomofobia” atau fobia karena tidak memiliki ponsel– telah dipelajari.

Dr Mark Griffiths, dari departemen psikologi Universitas Nottingham Trent, mengatakan, beberapa tahun yang lalu, cerita muncul di media yang mengklaim bahwa kondisi selfitis digolongkan sebagai gangguan mental. Ketika berita itu dianggap hoax, ternyata tidak berarti kondisi selfitis tidak ada.

Postcomended   Walikota Tegal yang Ditangkap KPK Pernah Ikut Kontes Kecantikan

“Kami sekarang telah mengonfirmasi keberadaannya dan mengembangkan Skala Perilaku Selfitis pertama di dunia untuk menilai kondisinya.”

Melalui penelitian ini, yang dilakukan kepada 400 peserta dari India (karena negara ini memiliki pengguna Facebook terbanyak), Selfitis Behavior Scale dikembangkan, yang dapat digunakan untuk menentukan seberapa parah orang menderita oleh kondisi tersebut.

Postcomended   Menanam Daun Khat Bisa Diganjar Bui 20 Tahun

Dengan menggunakan skala satu untuk sangat tidak setuju, sampai lima untuk sangat setuju, orang dapat menentukan seberapa akut selfitis mereka dengan menanggapi pernyataan seperti “berbagi selfie menciptakan persaingan yang sehat dengan teman dan kolega saya”, dan “Saya merasa lebih populer ketika saya memposting selfie saya di media sosial”.

Peneliti Dr Janarthanan Balakrishnan mengatakan, “Biasanya, mereka yang memiliki kondisi kurang percaya diri dan berusaha ‘menyesuaikan diri’ dengan orang-orang di sekitar mereka, dan mungkin menunjukkan gejala yang serupa dengan perilaku ketagihan berpotensi lainnya.

Postcomended   Dikabarkan Sakit, Diktator Gaek Zimbabwe Masih Ingin Menang 2018

“Kini keberadaan kondisi tersebut tampaknya telah dikonfirmasi, diharapkan penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk lebih memahami bagaimana dan mengapa orang mengembangkan perilaku berpotensi obsesif ini, dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu orang-orang yang paling terkena dampak,” ujar Balakrishnan.(***/independent)

Share the knowledge