The Business Journals

Boeing dan Airbus tak membiarkan produsen mobil melenggang di bisnis pesawat begitu saja tanpa persaingan. Kini, kedua raksasa pesawat ini memasuki bisnis jet penumpang yang lebih kecil, yang semula dibidik Mitsubishi melalui Mitsubishi Regional Jet (MRJ). Menyedihkannya, tren pesaingan baru ini justru muncul di saat MRJ akan memulai debutnya, setelah penundaan berkali-kali.Padahal, MRJ yang sedianya menjadi pesawat regional pertama Jepang ini, sudah berencana memulai debutnya dengan pesawat 70-90 kuris pada 2020. Dikutip dari Wikipedia, MRJ adalah pesawat penumpang yang masih dalam tahap pengembangan oleh Mitsubishi Aircraft Corporation yang merupakan kerja sama antara Mitsubishi Heavy Industries dan Toyota Motor Corporation.

Pada 1 Juli 2018 lalu, Airbus membeli bisnis jet regional dari rekan Kanadanya, Bombardier, yang berspesialisasi dalam 120-140 kursi. Empat hari kemudian, Boeing mengumumkan rencana menyerap bisnis yang sebanding dari Embraer Brasil, yang menawarkan 70-130 kursi.

Secara tradisional, Boeing dan Airbus menempel ketat bisnis pesawat 100 kursi plus, dan membiarkan pesawat yang lebih kecil digarap Bombardier dan Embraer. Namun, perkiraan bahwa jet lebih kecil akan tumbuh paling cepat di tahun-tahun mendatang, para raksasa mengubah strategi untuk mengokohkan prospek baru ini.

Postcomended   Orang Amerika Lagi-lagi Raih Nobel

Tren yang mengkhawatirkan tentunya bagi Mitsubishi Aircraft, perusahaan di belakang MRJ. Apalagi Mitsubishi Aircraft memiliki kontrak kemitraan dengan Boeing.

Kemitraan ini mengatur perusahaan Amerika tersebut mengirimkan suku cadang MRJ ke maskapai klien mereka, serta membantu dalam manajemen persediaan dan menyediakan layanan di bandara regional atas nama Mitsubishi. “Kemitraan dengan Boeing sangat penting,” kata Hisakazu Mizutani, presiden Mitsubishi Aircraft.

Bisnis jet regional yang diperoleh Boeing dari Embraer adalah pesaing langsung MRJ. Pemegang Saham Boeing dan Embraer dapat mengambil masalah jika membantu pesaingnya.

Mizutani mengatakan dia lega mendengar dari seorang eksekutif Boeing yang dia temui pada bulan Juni bahwa perusahaan dapat “berjanji” bahwa dukungan penuh akan terus berlanjut. “Kami ingin melanjutkan hubungan baik kami,” kata eksekutif Boeing kepada Mizutani pada acara industri di Sydney.

Postcomended   Pemimpin Sekte Aum Shinrikyo Akhirnya Digantung

Namun strategi perang Boeing dan Airbus tampaknya akan membayangi fase pengembangan MRJ berikutnya. Kedua raksasa berusaha memperdalam hubungan dengan maskapai penerbangan dengan menawarkan pesawat kecil terlebih dahulu, dan kemudian mendorong mereka untuk meningkatkan ke pesawat yang lebih besar. Kondisi ini membuat Mitsubishi sulit juga jika ingin mengembangkan model yang lebih besar di masa depan.

Pada Januari 2019, Mitsubishi Aircraft Corp dikabarkan menerima pembatalan pesanan MRJ pertamanya sejumlah 40 unit dari Eastern Air Lines. Alasannya, maskapai asal Amerika Serikat (AS) ini memutuskan menggunakan armada pesawat yang lebih besar.

Pembatalan ini menyusul pembatalan pesanan 447 unit MRJ lainnya dari maskapai domestik dan asing, yang mana 20 orang berada di bawah kontrak sementara. Seorang pejabat Mitsubishi Aircraft membantah bahwa keterlambatan dalam pengembangan MRJ menjadi penyebab pembatalan.

Pengembangan MRJ telah berulang kali ditunda. Pengiriman pertama yang awalnya direncanakan akhir 2013, dijadwal ulang menjadi pertengahan 2020. Salah satu penyebab kelambatan adalah pesawat masih sedang menjalani pengujian di AS.

Postcomended   Siswa Jepang Tumbuk Tulang Anjing Sambil Minta Maaf

Penundaan lebih lanjut dalam pengembangan atau pengiriman mungkin mengarah pada pembatalan lebih lanjut, kata para pakar. Membangun jalur pertumbuhan baru di pasar lama yang ramai, bukanlah pekerjaan mudah.(***/nikkeiasianreview/japantimes)

Share the knowledge