Sentra Industri Senapan Cipacing, Riwayatmu Kini , Yang Bikin ... Pontianak Post570 × 407Search by image PRODUK LOKAL: Hermanto memperlihatkan salah satu senapan angin buatan Cipacing. AGUS WIRAWAN/Jawa Pos

Sentra Industri Senapan Cipacing, Riwayatmu Kini , Yang Bikin … Pontianak Post570 × 407Search by image PRODUK LOKAL: Hermanto memperlihatkan salah satu senapan angin buatan Cipacing. AGUS WIRAWAN/Jawa Pos

Minggu kedua di bulan Juni 2017, dua kasus perampokan yang melibatkan senjata api (senpi) dan menewaskan korbannya, terjadi di kawasan Jabodetabek.

Beredarnya senpi di kalangan sipil ini membuat kepolisian kembali mengawasi Cipacing, satu sentra perajin senapan angin di timur kota Bandung.

Cipacing juga selalu dicurigai ketika terjadi aksi terorisme dengan menggunakan bahan peledak.

Terkait dua peristiwa tersebut, Wakapolda Metro Jaya, Brigjen Pol Suntana, mengatakan di Mapolda Metro Jaya, Selasa (13/6/2017), bahwa untuk meminimalisasi senpi rakitan, polisi misalnya sudah melakukan operasi di Cipacing,Di kawasan tersebut, kata Suntana, ada segelintir oknum yang memperjualbelikan senpi rakitan ilegal.

“Pedagang Cipacing saya yakin mereka tak melakukan itu ya, tapi ada bekas pegawainya atau bekas karyawannya. Polisi terus mengawasi,” ujarnya.

Operasi tersebut dikatakan Suntana sebagai bagian dari gelar operasi senpi dan bahan peledak (sendak) untuk menekan peredaran senjata api ilegal dalam sebulan ini.

Dalam kasus-kasus sebelumnya, pihak kepolisian juga selalu mencurigai Cipacing. Hal ini membuat sentra senjata rakitan tersebut mengalami kelesuan.

Bagaimana tidak dicurigai, pada 2013 misalnya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombespol Slamet Riyanto, memastikan senpi rakitan yang melukai dan membunuh polisi di Pondok Aren, Tangerang Selatan, diproduksi di Cipacing. Senjata itu digunakan dua tersangka terorisme, Nurul Haq dan Hendi Albar. Polisi lantas membekuk tujuh pembuat senpi rakitan itu.

Setahun kemudian, Kapolri Jenderal Sutarman mengungkap penangkapan jaringan pembuat senjata api di Cipacing. Ada 14 perajin yang diduga terlibat dengan total produksi mencapai 1.400 senpi dalam setahun. Sutarman mengatakan, salah satunya berhubungan dengan penembakan rumah mantan Ketua MPR Amien Rais di Jogjakarta.

Dua kejadian itu saja sudah benar-benar memukul industri di sana. Jumlah perajin terus menyusut. Dari semula (1980-an) mencapai 400-an, kini tersisa 70-80 orang. Kini seluruh toko yg tersisa sebanyak 8 toko hanya menjual senapan angin 4,5 milimeter, jenis yang diperbolehkan kepolisian.

Idih Sunaedi, ketua Koperasi Bina Karya yang membawahi 115 pedagang dan perajin di Cipacing menyebutkan, kerajinan senjata rakitan Cipacing yang merupakan usaha warisan leluhur dari zaman Belanda seharusnya dilestarikan.

Idih mengakui, pesanan senpi rakitan memang selalu ada. Namun tak satu pun anggotanya yang berani memenuhi. ”Kalaupun masih ada yang mau buat, itu pasti bukan anggota kami. Biasanya itu anak-anak muda yang lagi butuh duit,” kata pria berusia 74 tahun tersebut.

Di masa jayanya pada 1970-an, tokoh masyarakat Cipacing, Dedi Sudjana, mengisahkan. Bandar-bandar senapan angin kata Dedi, banyak memesan senapan Cipacing. Mereka menjualnya ke seluruh daerah, bahkan hingga Papua.

Share the knowledge