Gajah Mada (Civ5) | Civilization Wiki | Fandom powered by Wikia Civilization Wiki - Wikia641 × 740Search by image

Gajah Mada (Civ5) | Civilization Wiki | Fandom powered by Wikia Civilization Wiki – Wikia641 × 740Search by image

Semoga Maha Patih Gajah Mada tidak terbangun dari tidur panjangnya di alam sana, gara-gara ada anak cucunya menyatakan bahwa nama aslinya adalah Gaj Ahmada.

Tampak seperti lelucon, tapi tidak juga. Karena ada seorang yang sampai menulis buku dan menyebutkan bahwa selain nama aslinya Gaj Ahmada, dia juga disebut beragama Islam dengan nama lain Syaikh Ahmada.

Makin kocak ketika lembaga sekelas Museum Nasional menanggapi isu yang menjadi viral di media sosial ini. Gaj Ahmada kata pihak museum, sekadar cocoklogi.

“Nama ‘Gajah Mada’ itu disebutkan dalam prasasti. Ada prasasti Gajah Mada, ada lagi Prasasti Mada,” kata Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengkajian Museum Nasional Jakarta, Tri Gangga, Sabtu (17/6/2017).

Dikatakan Tri, sesuai data dari prasasti yang kebanyakan berada di Jawa Timur, Gajah Mada itu kemungkinan beragama Hindu atau Buddha..

Belakangan ada satu akun yang memviralkan isu ini, yakni akun Facebook bernama Arif Barata. Dia menulis, ”Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia).”

Postcomended   Nyanyi Bareng di Konser SLANK, Mensos Sisipkan Pesan Kebangsaan

Netizen pun ramai merespon. Tak sedikit yang juga menganggapinya sebagai “cocokologi”.

Di tahun 2014,  pernah terbit sebuah buku berjudul “Fakta Mengejutkan Majapahit Kerajaan Islam” karya Herman Sinung Janutama. Buku ini dinilai nyeleneh karena memuat cerita yang melenceng dari yang telah diakui.

Seorang mahasiswa Indonesia yang juga aktivis pergerakan dan kini sedang menyelesaikan pendidikan doktoral di Portugal, Akuat Supriyanto, melalui akun Facebooknya mereaksi dengan menulis bahwa isu Gaj Ahmada itu adalah kisah lama.

“Cerita-cerita ginian sudah saya dengar sejak dua dekade lalu. Termasuk soal Nabi Nuh orang Jawa atau kerajaan Sulaiman ada di Sleman,” tulisnya.

Mengapa wacana bahwa Gajah Mada beragama Islam bisa muncul? Entah benar atau tidak info berikut ini jadi dasarnya, yakni: penemuan koin Majapahit bertuliskan syahadat, nisan Sunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebutkan bahwa dirinya merupakan Qadhi (hakim agama Islam) Kerajaan Majapahit, lambang Majapahit berupa matahari dengan tulisan Arab, Raden Wijaya adalah seorang muslim, nama Gajah Mada disebut sebagai Gaj Ahmada atau Syaikh Mada, dan dikaitkan pula dengan eksodus besar-besaran warga muslim Baghdad ke Nusantara setelah diserang tentara Mongol pada 1293.

Postcomended   Judika Tutup Rangkaian Festival Crossborder Atambua, Pariwisata Atambua Kian Dikenal

Poin-poin tersebut tentu bertentangan dengan sejarah yang kita kenal selama ini bahwa Majapahit adalah kerajaan Hindu, dan karenanya Gajah Mada beragama Hindu.

Informasi yang viral itu menyebut bahwa penelitian soal Gaj Ahmada difasilitasi Lembaga Hikmah dan Kajian Publik Pengurus Daerah (LHKP PD) Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya, membenarkannya.

Namun dalam komentarnya di Facebook, Herman menegaskan bahwa informasi viral itu amat berbeda dengan buku yang dia tulis. “Sepanjang bacaan kami status viral tersebut beberapa hal tidak terdapat pada buku kami,” ujarnya.

Herman menjelaskan, misalnya penjelasan tentang GAJ-AHMADA. Dalam buku tertulis GAJAH-AHMADA. Leburan suku kata AH dalam bentukan kata GAJAHMADA adalah hukum GARBA dalam gabungan 2 kata atau lebih dalam kawi atau sansekerta. Dalam khasanah Jawa, tidak mungkin diizinkan kata GAJ, yang mematikan konsonan JA. Sebagaimana suku kata WA juga tidak diizinkan dimatikan, hanya W saja.
Tapi dalam viral tidak begitu membabarkannya,” jelas dia.

Postcomended   Inilah Sisi Menakutkan Ilmu Pengetahuan

“Kami juga diminta menjelaskan oleh salah satu pusat studi di UGM. Saya matur bahwa persoalan serius yang dibabar dalam buku Kesultanan Majapahit terletak pada kritik metodologi dalam menelitinya. Bagaimana obyek material menggunakan metode, sehingga mendapatkan data…. Tapi hal begini menurut saya tidak mungkin diterangkan dalam diskusi viral demikian,” ungkap dia. .

Nah, lebih ingin percaya yang mana? Gajah Mada yang Hindu atau Gaj Ahmada yang Islam? Yang manapun, asal tak menjadi ajang pertikaian atas nama agama.***(ra)

 

Share the knowledge