Internasional

Ketika Jepang Andalkan Pelancong Saat Warganya Sendiri dalam Demografi yang “Beruban”

Populasi Penduduk Jepang Terus Menurun | Pikiran Rakyat Pikiran Rakyat Orang-orang tua di Jepang/REUTERS

Populasi Penduduk Jepang Terus Menurun | Pikiran Rakyat Pikiran Rakyat Orang-orang tua di Jepang/REUTERS

Pelancong termasuk pekerja asing yang mengunjungi Jepang, masih seringkali dihadapkan pada sejumlah kebiasaan Jepang yang membingungkan. Padahal bagi Jepang, mereka adalah andalan perekonomian negeri Matahari Terbit ini, di saat warganya sendiri mulai “beruban”. Seorang pemuda Jepang yang tanggap akan hal ini, menciptakan aplikasi yang memudahkan pelancong asing, termasuk asal Indonesia.

Dilansir Nikkei Asian Review, wirausahawan muda Jepang bernama Yu Aoki (28) ini berupaya merespon munculnya pertumbuhan bisnis dari kedatangan para pengunjung serta pekerja asing ke Jepang dengan menciptakan panduan perjalanan online bernama Matcha, yang dapat menjawab pertanyaan para pelancong asing.

Karya Aoki ini telah memenangkan pujian sebagai referensi praktis. Matcha menawarkan bagaimana cara mengoperasikan mesin kopi yang diseduh sendiri di toko-toko swalayan, menggunakan kartu uang elektronik yang berfungsi sebagai tiket kereta api dan kartu debit, hingga bagaimana memberi makan rusa liar yang berkeliaran bebas di kota kuno Nara .

“Informasi yang mereka inginkan (biasanya) berbeda, tergantung dari mana turis berasal,” kata CEO Matcha ini, yang juga pendiri perusahaan Tokyo pada 2013. Matcha tersedia dalam 10 bahasa termasuk Indonesia. Setiap versi diedit oleh staf yang merupakan penutur asli.

Tampaknya pelancong asal Indonesia termasuk yang dipertimbangkan selain dari Spanyol, Korea, Cina, dan Vietnam. Dikutip dari Tribunnews, menurut Jiro Okuyama, seorang penyelenggara biro perjalanan Jepang mengatakan, wisatawan Indonesia yang pergi ke Jepang selama Januari 2018 saja meningkat signifikan sebanyak 32,7% menjadi 29.900 orang.

Bahasa lainnya antara lain Inggris, Cina, Korea, Spanyol, Thailand, dan Vietnam. Penggunaan multibahasa ini memungkinkan situs web menawarkan konten dan tips yang mungkin tidak disadari atau diterima oleh orang Jepang, namun penting bagi pelancong asing yang bersangkutan.

Postcomended   Ternyata Ada Alasan Kuat Dibalik Gelaran Asian Games 2018 di Sumsel

Aoki mengatakan dia mendapat ide membuat Matcha di suatu acara bisnis di Italia. Kartun Manga menarik banyak orang di sana, tetapi hampir tidak ada kehadiran perusahaan Jepang. “Orang-orang di luar negeri ingin tahu lebih banyak tentang Jepang,” pikirnyadia ingat berpikir.

Dalam situsnya, Matcha menyebut dirinya sebagai majalah web yang didedikasikan untuk membawa budaya yang kaya dan sejarah Jepang ke khalayak internasional.

“Pada halaman ini Anda akan menemukan semua yang dapat Anda harapkan tentang negara kepulauan ini, mulai tujuan wisata terkenal di kota-kota besar seperti Tokyo dan Kyoto, hingga tempat-tempat yang kurang dikenal di seluruh negeri. Mulai informasi makanan lezat lokal, akomodasi nyaman yang sesuai dengan bujet masing-masing, hingga artikel tentang cara menemukan suvenir terbaik,” tulis Matcha.

Masyarakat Menua, Jepang Andalkan Tenaga Asing
Wisatawan internasional ke Jepang mencapai 28,7 juta tahun lalu, meningkat tiga kali lipat dibanding lima tahun sebelumnya. Pertumbuhan pesat pariwisata “inbound” menunjukkan bahwa kebutuhan pengunjung asing tidak sepenuhnya terpenuhi, ini menunjuk pada banyak peluang bisnis yang terlewatkan.

Postcomended   Membangkangi Resolusi PBB, AS Segera Buka Kedutaannya di Yerusalem

Orang asing juga tumbuh pesat di dunia kerja Jepang; suatu masyarakat yang menua dengan cepat. Lebih dari setengah dari 40 anggota staf di Wovn Technologies, penyedia layanan lokalisasi situs web, adalah warga negara asing.

Ketika Presiden Wovn, Takaharu Hayashi, meluncurkan perusahaannya empat tahun lalu, ia adalah satu-satunya orang Jepang di tim pendiri yang berjumlah empat orang.

Hayashi, sekarang 33, tidak fasih berbahasa Inggris tetapi ingin menawarkan layanan untuk pasar internasional. Dia aktif mencari tenaga kerja di luar negeri untuk perekrutan. “Secara alami saya mengalihkan perhatian saya (untuk mencari pekerja) ke luar Jepang,” katanya.

Jepang sangat menderita kekurangan insinyur. Kondisi ini membuat persaingan perekrutan karyawan memanas di antara perusahaan-perusahaan. Ketika Wovn telah memperoleh pengetahuan dalam mempekerjakan warga asing, Hayashi yakin bahwa perusahaannya lebih berhasil dalam mengamankan talenta (yang diperlukan) disbanding (perusahaan) rekan-rekannya.

Perusahaan yang juga memanfaatkan arus asing adalah Node; aplikasi penyedia dukungan untuk siswa dari Asia Tenggara yang ingin tinggal dan bekerja di Jepang.

“Perusahaan-perusahaan Jepang masih cenderung berasumsi bahwa para pekerja asing pada akhirnya akan kembali ke negara asal mereka,” kata Presiden Node, Kenta Watanabe, seorang berusia 29 tahun yang sebelumnya bergabung di agen kepegawaian Recruit Holdings.

Postcomended   Perang Narkoba Duterte: Warga Jadi "Pembunuh Bayaran" Demi 5,5 Juta

“Namun ke depan, perusahaan tidak akan dapat membayangkan masa depan bisnis tanpa karyawan asing-nasional,” katanya.

Pemerintah Jepang berniat menarik 40 juta pengunjung internasional pada 2020, ketika Tokyo menyelenggarakan Olimpiade Musim Panas. Mereka berharap akan membuat para tamu asingnya itu untuk menghabiskan sekitar 8 triliun yen (73,3 miliar dolar AS).

Pekerja asing di negara itu meningkat dua kali lipat menjadi 1,3 juta selama lima tahun terakhir dan diperkirakan akan terus meningkat.(***/nikkeiasianreview/matcha-jp)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top