Nasional

Ketika Terawan Tertawan

Share the knowledge

Nasib Terawan Tertawan - News Liputan6.com Liputan6.com Dokter Terawan

Nasib Terawan Tertawan – News Liputan6.com Liputan6.com Dokter Terawan

Untuk sembuh, apapun akan dilakukan manusia. Bahkan air celupan bocah Ponari pun diantre berpanjang-panjang. Terlebih jika tindakan penyembuhan dilakukan seorang dokter; diakui ataupun tidak metodenya oleh kalangan pakar sekelas profesor pun. Inilah yang belakangan ramai diperbincangkan warga negeri ini: metode “cuci otak” yang dilakukan seorang dokter militer bernama Terawan Agus Putranto. Ketika muncul isu Terawan dipecat IDI, tiga petinggi negeri ini membelanya, terlebih ketika kemudian muncul isu Terawan bakal digaet Jerman. Benarkah metode sang dokter bisa menyembuhkan, ketika seorang spesialis saraf menyebut metodenya sekadar “alat diagnosis” yang dijual sebagai pengobatan stroke?

Moh. Hasan Machfoed, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, mengatakan, metode yang ditawarkan Terawan sebagai “cuci otak” sebenarnya hanya alat diagnosis suatu gejala penyakit. “DSA itu alat diagnosis, namun oleh Dokter Terawan dijual sebagai pengobatan stroke. Bahkan lebih celakanya lagi, orang menganggap (melalui metode DSA-nya itu) bisa terhindar dari stroke,” ujar Machfoed, dilansir TIRTO.

DSA adalah kependekan dari Digital Subtraction Angiography. Profesor neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menjelaskan, DSA adalah tindakan lazim di dunia kedokteran, yakni alih-alih menyembuhkan stroke, DSA sekadar untuk memeriksa gejala gangguan pembuluh darah di otak (stroke iskemik).

“Rupanya orang dibohongi,” ujar Machfoed yang juga hadir dalam pemeriksaan etik IDI terhadap dokter Terawan, awal April 2018 lalu, yang sempat berujung dengan pemecatannya. Terawan sendiri menyebut, metodenya ini menggunakan DSA yang dimodifikasi, sehingga dapat membersihkan penyumbatan pada pebuluh darah menuju otak yang berpotensi menyebabkan stroke.

Serambinews menulis, yang dimaksud modifikasi ini adalah dengan menyemprotkan (spray) cairan (temuan Terawan), ke bagian tubuh yang ingin di-spray sumbatannya. Namun Machfoed menganggap modifikasi pada DSA itu tidak ada manfaatnya, alias hanya akal-akalan. Dalam praktik umum, cairan yang disemprotkan dalam metode DSA adalah heparin. Heparin diketahui berfungsi mengencerkan darah.

Namun jika metode DSA dianggap bohong, orang yang telah “dibohongi” Terawan bukan main-main. Sebut saja Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan, bahkan jendral-jendral purnawirawan seperti Tri Sutrisno, Susilo Bambang Yudoyono, AM Hendropriono, hingga Prabowo Subianto. Terlepas dari dibohongi atau tidak, para petinggi ini mengaku merasakan hasil positif sejak otaknya dicuci oleh Terawan. Ketika muncul isu IDI berniat memecat Terawan dari keanggotaan IDI, Aburizal, Prabowo, dan SBY, membelanya.

Postcomended   Miliarder Sydney Penderita Kanker Ingin Mati Tanpa Meninggalkan Apapun

Aburizal melalui akun Instagram-nya mengatakan, metode “cuci otak” oleh dokter Terawan telah mencegah maupun mengobati puluhan ribu orang dari penyakit stroke. “Tri Sutrisno, Susilo Bambang Yudoyono (SBY), AM Hendropriyono, dan banyak tokoh/pejabat, juga masyarakat luas. Mudah menemukan testimoni orang yang tertolong oleh dr Terawan,” tulis Ketua Dewan Pembina Partai Golkar ini.

Sementara itu, Prabowo mengaku sudah tiga kali diterapi oleh Terawan. “Saya Prabowo Subianto pernah dibantu oleh Dokter Terawan dan timnya sehingga sekarang fit. Saya bisa lima jam pidato. Tolong pak terawan itu aset bangsa,” ujar Ketua Umum Partai Gerindra ini, 5 April lalu.

“Harusnya kita bangga banyak orang luar negeri datang ke sini. Kita punya suatu terobosan di bidang kedokteran, teknologi, yang dirintis oleh seorang putra bangsa. Harusnya kita bangga,” ujarnya, dilansir Serambinews.

Ketua Umum Partai Demokrat, SBY, dalam sebuah keterangan Kamis (5/4/2018), menyebutkan, Kepala RSPAD Gatot Subroto tersebut dapat mengangkat nama baik rumah sakit, dokter dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan di Indonesia. SBY lalu menceritakan ihwal rekannya, seorang perdana menteri (yang tak disebutkan siapa dan dari mana), yang sudah melakukan perawatan di rumah sakit negara tetangga, tidak kunjung sembuh, namun kemudian sembuh setelah melakukan terapi cuci otak kepada Terawan.

Untuk diketahui, dilansir TIRTO, pada Agustus 2016, Terawan pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pengerjaan DSA terbanyak. Terawan mengaku metodenya itu dikenalkan sejak 2004, dan sejak itu telah ada 40 ribu pasien melakukan prosedur DSA. TIRTO menganalisi, itu artinya, selama 13 tahun Terawan melakukan DSA kepada 8-9 pasien per hari, tanpa libur.

Ke-40 ribu orang tersebut pastinya bukan dari kalangan warga biasa. Tengok biaya yang harus dikeluarkan untuk cuci otak yang dilakukan Terawan: Rp 10 juta. Untuk seorang Prabowo Subianto, tiga kali melakukan terapi dengan biaya sebesar itu mungkin bagai mengedipkan mata. Bagaimana dengan rakyat pada umumnya?

Dilansir Tempo, Terawan mengatakan, metode cuci otaknya ini bisa dilakukan dengan biaya murah, namun bisa juga mahal. “Tergantung perhitungan unit cost-nya,” kata Terawan. Bahkan kata dia, kartu BPJS bisa digunakan, namun untuk pasien usia non-produktif.

Digaet Jerman?

Kontroversi pemecatan Terawan oleh IDI, sampai juga ke kabar bahwa metode pengobatan cuci otak-nya bakal diakui Jerman. Baru-baru ini, dokter lulusan S3 Universitas Hasanuddin Makassar itu dikabarkan tengah berada di sana. Dihubungi VIVA, Senin (16/4/2018), pihak RS Gatot Subroto tempat Terawan bertugas, mengonfirmasi kabar tersebut. Menurut rumah sakit itu, dokter penyandang gelar Spesialis Radiologi ini telah seminggu berada di Jerman.

Postcomended   Siswa “Night Owl” Rentan Mengalami “Jet-lag Sosial”

Terawan disebut mendapat undangan dari RS Krankenhaus Nordwest Jerman, untuk mengenalkan sekaligus memberi pelatihan pada dokter setempat tentang metode DSA-nya, atau yang kemudian populer disebut “brainwash” alias “cuci otak”; metode yang membuat Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK), sempat memecat dokter berpangkat Mayjen TNI ini dari keanggotaan IDI untuk periode 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019, dengan alasan praktik cuci otak-nya itu dianggap pelanggaran etik berat.

Berdasarkan video yang diterima Warta Kota dari salah satu pasiennya, Terawan menyatakan tengah memenuhi undangan RS terkenal di Jerman sekaligus menunjukkan kemampuan dan kepakaran dokter Indonesia.

“Sekalian menunjukkan kesejajaran ilmu orang Indonesia dengan teman-teman di Jerman. Jangan sampai kami di Indonesia hanya dianggap main ngeyel saja dan tidak ilmiah. Sedangkan negara lain sangat menghargai. Kalau bisa nangis saya nangis tenan karena sedih,” ujar Terawan dengan aksen Jawa-nya, seperti dilaporkan Serambinews.

Dalam kiriman foto-foto atas nama Leo Nababan melalui grup WhatsApp itu, selain terdapat foto Terawan sedang menandatangani apa yang disebut sebagai nota kesepahaman, Terawan juga tampak berfoto dengan beberapa dokter Jerman, juga Presiden RI ke-3, BJ Habibie.

Isu bahwa RS di Jerman bekerjasama dengan Terawan dalam hal metode cuci otak ini, TIRTO mencoba mendalaminya. Menurut media online ini, situs web rumah sakit tersebut sama sekali tak menyinggung informasi apa pun terkait metode cuci otak Terawan.

Terkait pemecatannya dari IDI, Terawan mengaku sedih. Dalam satu kesempatan pertemuan dengan Komisi I DPR, Rabu (4/4/2018), Terawan mengatakan, dalam surat rekomendasi yang menurutnya sebenarnya rahasia atas sidang yang sudah dilakukan pada 2015 lalu, sudah tidak ada lagi permasalahan mengenai cara dia melakukan perawatan dengan metode DSA. Metode itu kata dia, sudah melalui riset enam doktor dan dipublikasikan dalam 12 jurnal ilmiah.

“Metode ini juga sudah saya presentasikan di Universitas Hasanudin, Makassar bersama lima orang doktor lainnya. Soalnya, ini juga menjadi disertasi saya,” urainya.

Namun sama dengan pendapat Machfoed, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Irawan Yusuf, yang menjadi promotor disertasi Terawan, masih menurut TIRTO, menegaskan bahwa fungsi brainwash bukan untuk penyembuhan, melainkan hanya meningkatkan dan memperbaiki suplai atau aliran darah di dalam pembuluh darah di otak pada kondisi stroke kronis.

Postcomended   Kejam, Inilah 9 Wanita Pembunuh Tersadis di Dunia #SURUHGOOGLEAJA

Kritik lain disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Teguh AS Ranakusuma Sp.S(K) dalam keterangannya pada sidang majelis. Teguh yang juga merupakan doktor yang menguji disertasi Terawan mengenai metode cuci otak ini, mengatakan bahwa penelitian Terawan tidak dapat digunakan sebagai terapi atau pengobatan kepada pasien stroke.

Karena itu, Ranakusuma sempat meminta Terawan mengubah judul disertasinya, yang semula memakai istilah brainwash menjadi intra arterial heparin flushing (IAHF). Seperti dilansir Koran TEMPO, Terawan pada sidang disertasinya 4 Agustus 2016, dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Kalangan di luar medis umumnya mendesak IDI mencabut surat pemecatan, seperti dimintakan anggota Komisi I, Dave Laksono, yang mengaku dia dan keluarganya merupakan pasien Terawan.

Ketua DPR, Bambang Soesatyo, meminta Kementerian Kesehatan turun tangan dalam menengahi polemik pemecatan Dokter Terawan Agus Putranto dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk sementara waktu.

Sementara itu, Ketua IDI, Ilham Oetama mengaku telah mendunda sanksi kepada Terawan, seraya menyebutkan bahwa penundaan ini tak ada kaitannya dengan institusi yang menaungi Terawan (TNI-AD), serta jendral-jendral purnawirawan yang mendukung Terawan. Ketua Dewan Pakar Pengurus Besar IDI, Abdul Razak Thaha, dalam jumpa pers IDI di Jakarta, Senin (9/4/2018), menambahkan, “Kami tidak ingin mengambil resiko atau gegabah. Kami butuh waktu untuk berproses mengambil keputusan yang adil.”***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top